Wiki DhammaCitta

Buddhisme Indonesia

Alat Pengguna

Alat Situs


teks:sn:sn1:sn1.2

Perbedaan

Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.

Tautan ke tampilan pembanding ini

Kedua sisi revisi sebelumnyaRevisi sebelumnya
Revisi selanjutnya
Revisi sebelumnya
teks:sn:sn1:sn1.2 [2025/12/10 03:17] sumedhoteks:sn:sn1:sn1.2 [2025/12/10 03:20] (sekarang) sumedho
Baris 1: Baris 1:
 +====== SN 1.2: Nimokkha Sutta - Pembebasan ======
 +
 +Diterjemahkan dari pāḷi oleh Bhikkhu Ñāṇamoli dan Bhikkhu Bodhi
 +
 +----
 +
 ''%%<3>%%'' Di Sāvatthī. Ketika malam telah larut, satu devatā tertentu yang keindahan memesona, menerangi seluruh Hutan Jeta, mendatangi Sang Bhagavā. Setelah mendekat, ia bersujud kepada Sang Bhagavā, berdiri di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: ''%%<3>%%'' Di Sāvatthī. Ketika malam telah larut, satu devatā tertentu yang keindahan memesona, menerangi seluruh Hutan Jeta, mendatangi Sang Bhagavā. Setelah mendekat, ia bersujud kepada Sang Bhagavā, berdiri di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:
  
Baris 10: Baris 16:
 [Sang Bhagavā:] [Sang Bhagavā:]
  
-> “Dengan kehancuran total dari kegembiraan akan penjelmaan,((Spk mengemas: //Nandībhavaparikkhayā ti nandīmūlakassa kammabhavassa parikkhayena; nandiyā ca bhavassa cā ti pi vaṭṭati;// “//Dengan kehancuran-kegembiraan-pada-penjelmaan//: dengan kehancuran total penjelmaan proses-kamma yang berakar pada kegembiraan; juga boleh memahami makna ini sebagai ‘(kehancuran) kegembiraan dan penjelmaan.’” Akan tetapi, akan lebih masuk akal, menafsirkan tiga-istilah //tappurisa// ini sebagai gabungan terbalik yang ditempatkan secara tidak beraturan mungkin karena tuntutan syair. Interpretasi ini dikonfirmasi oleh Pj II 469, 14 dan Dhp-a IV 192, 7-8 dalam kemasannya atas kata majemuk //bahubbihi// yaitu //nandībhava parikkhīṇaṃ// sebagai //tisu bhavesu parikkhīṇataṇhaṃ//;” seorang yang telah menghancurkan keinginan terhadap tiga alam kehidupan.” Baca juga di bawah **v.300c** dan **n.165.** +> “Dengan kehancuran total dari kegembiraan akan penjelmaan,((Spk mengemas: //Nandībhavaparikkhayā ti nandīmūlakassa kammabhavassa parikkhayena; nandiyā ca bhavassa cā ti pi vaṭṭati;// “//Dengan kehancuran-kegembiraan-pada-penjelmaan//: dengan kehancuran total penjelmaan proses-kamma yang berakar pada kegembiraan; juga boleh memahami makna ini sebagai ‘(kehancuran) kegembiraan dan penjelmaan.’” Akan tetapi, akan lebih masuk akal, menafsirkan tiga-istilah //tappurisa// ini sebagai gabungan terbalik yang ditempatkan secara tidak beraturan mungkin karena tuntutan syair. Interpretasi ini dikonfirmasi oleh Pj II 469, 14 dan Dhp-a IV 192, 7-8 dalam kemasannya atas kata majemuk //bahubbihi// yaitu //nandībhava parikkhīṇaṃ// sebagai //tisu bhavesu parikkhīṇataṇhaṃ//;” seorang yang telah menghancurkan keinginan terhadap tiga alam kehidupan.” Baca juga di bawah **v.300c** dan **n.165.**)) 
-)) Dengan padamnya persepsi dan kesadaran, Dengan lenyapnya dan tenangnya perasaan: ''%%<4>%%'' Demikianlah, teman, Aku mengetahui bagi makhluk-makhluk – Pembebasan, pelepasan dan keterasingan.”((Dalam syair ini hanya dua pāda pertama yang sesuai dengan irama (Vatta) yang dikenali, yang mengisyaratkan bahwa syair ini cacat. Ee2 memperbaiki pāda ke tiga dan menambahkan satu baris yang ditemukan hanya pada Lanna ms dalam sebuah kata baru: //vedanānam nirodhā ca/ upasanto carissatī ti.// Ia kemudian memperlakukan tiga pāda dari edisi lainnya sebagai prosa. Akan tetapi, ini, mengubah makna dari syair itu sedemikian sehingga tidak lagi menjawab pertanyaan itu secara langsung.+>Dengan padamnya persepsi dan kesadaran,  
 +>Dengan lenyapnya dan tenangnya perasaan: ''%%<4>%%''  
 +>Demikianlah, teman, Aku mengetahui bagi makhluk-makhluk –  
 +>Pembebasan, pelepasan dan keterasingan.”((Dalam syair ini hanya dua pāda pertama yang sesuai dengan irama (Vatta) yang dikenali, yang mengisyaratkan bahwa syair ini cacat. Ee2 memperbaiki pāda ke tiga dan menambahkan satu baris yang ditemukan hanya pada Lanna ms dalam sebuah kata baru: //vedanānam nirodhā ca/ upasanto carissatī ti.// Ia kemudian memperlakukan tiga pāda dari edisi lainnya sebagai prosa. Akan tetapi, ini, mengubah makna dari syair itu sedemikian sehingga tidak lagi menjawab pertanyaan itu secara langsung.
 \\ \\
 Spk: Dalam penjelasan metode pertama, //kegembiraan dalam penjelmaan// ((//nandibhava//, atau, mengikuti kemasannya: “kehidupan yang berakar pada kegembiraan”), sebagai tiga aktivitas bentukan kamma (//tividhakammābhisaṅkhāra –// baca **12:51**), menyiratkan kelompok bentukan kehendak (//saṇkhārakkhandha//); //persepsi dan kesadaran// menyiratkan dua kelompok yang berhubungan dengannya; dan dengan menyebutkan ini, perasaan yang berhubungan tiga kelompok itu juga termasuk. Dengan demikian, dengan tidak adanya empat kelompok batin yang aktif karena kamma (//anupādiṇṇaka-arūpakkhandhā//), “Nibbāna dengan sisa” (//sa-upadisesa-nibbāna//) dijelaskan. Melalui frasa //dengan lenyapnya dan tenangnya perasaan (vedanānaṃ nirodhā upasamā//), perasaan yang diperoleh dari kamma (//upādiṇṇaka//) dijelaskan, dan dengan menyebutkan ini ketiga kelompok lainnya yang berhubungan juga tersiratkan; kelompok bentuk termasuk sebagai landasan fisik dan objeknya. Demikianlah, dengan tidak adanya kelompok-kelompok yang diperoleh karena kamma, “Nibbāna tanpa sisa” (//anupādisesa-nibbāna//) dijelaskan. Dalam metode ke dua (menganggap “kegembiraan” dan “penjelmaan” sebagai istilah paralel), //kegembiraan// menyiratkan kelompok bentukan kehendak; //penjelmaan//, kelompok bentuk; dan kelompok-kelompok lainnya diperlihatkan sesuai namanya masing-masing. Nibbāna ditunjukkan sebagai tidak-adanya lima kelompok ini. Demikianlah Sang Bhagavā menutup ajaranNya dengan Nibbāna itu sendiri. Spk: Dalam penjelasan metode pertama, //kegembiraan dalam penjelmaan// ((//nandibhava//, atau, mengikuti kemasannya: “kehidupan yang berakar pada kegembiraan”), sebagai tiga aktivitas bentukan kamma (//tividhakammābhisaṅkhāra –// baca **12:51**), menyiratkan kelompok bentukan kehendak (//saṇkhārakkhandha//); //persepsi dan kesadaran// menyiratkan dua kelompok yang berhubungan dengannya; dan dengan menyebutkan ini, perasaan yang berhubungan tiga kelompok itu juga termasuk. Dengan demikian, dengan tidak adanya empat kelompok batin yang aktif karena kamma (//anupādiṇṇaka-arūpakkhandhā//), “Nibbāna dengan sisa” (//sa-upadisesa-nibbāna//) dijelaskan. Melalui frasa //dengan lenyapnya dan tenangnya perasaan (vedanānaṃ nirodhā upasamā//), perasaan yang diperoleh dari kamma (//upādiṇṇaka//) dijelaskan, dan dengan menyebutkan ini ketiga kelompok lainnya yang berhubungan juga tersiratkan; kelompok bentuk termasuk sebagai landasan fisik dan objeknya. Demikianlah, dengan tidak adanya kelompok-kelompok yang diperoleh karena kamma, “Nibbāna tanpa sisa” (//anupādisesa-nibbāna//) dijelaskan. Dalam metode ke dua (menganggap “kegembiraan” dan “penjelmaan” sebagai istilah paralel), //kegembiraan// menyiratkan kelompok bentukan kehendak; //penjelmaan//, kelompok bentuk; dan kelompok-kelompok lainnya diperlihatkan sesuai namanya masing-masing. Nibbāna ditunjukkan sebagai tidak-adanya lima kelompok ini. Demikianlah Sang Bhagavā menutup ajaranNya dengan Nibbāna itu sendiri.
- +\\ 
-Mengenai dua unsur Nibbāna, baca Pendahuluan, p.50. +Mengenai dua unsur Nibbāna, baca Pendahuluan, p.50.))
-))+
teks/sn/sn1/sn1.2.1765336632.txt.gz · Terakhir diubah: oleh sumedho