Wiki DhammaCitta

Buddhisme Indonesia

Alat Pengguna

Alat Situs


teks:sn:sn1:sn1.1

Perbedaan

Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.

Tautan ke tampilan pembanding ini

Kedua sisi revisi sebelumnyaRevisi sebelumnya
teks:sn:sn1:sn1.1 [2025/12/10 02:33] sumedhoteks:sn:sn1:sn1.1 [2025/12/10 02:35] (sekarang) sumedho
Baris 13: Baris 13:
 Kata “banjir” (//ogha//) digunakan secara metafora, tetapi di sini dengan penekanan tambahan secara teknis, untuk menunjuk kelompok ajaran empat banjir (baca **45:171**), lebih dikenal, menurut Spk, “karena mereka terus-menerus tenggelam dalam lingkaran kehidupan dan tidak membiarkan mereka naik ke tingkat yang lebih tinggi dan ke Nibbāna.” Empat ini (definisi dari Spk) adalah: (i) banjir indriawi (//kāmogha//) = keinginan dan nafsu terhadap lima kenikmatan indria (bentuk-bentuk menyenangkan, suara-suara, dan seterusnya – baca **45:176**); (ii) banjir penjelmaan (//bhavogha//) = keinginan dan nafsu terhadap alam kehidupan berbentuk dan alam kehidupan tanpa-bentuk dan kemelekatan pada pencapaian jhāna; (iii) banjir pandangan-pandangan (//diṭṭhogha//) = enam puluh dua pandangan (DN I 12-38); dan (iv) banjir ketidaktahuan (//avijjogha//) = kurangnya pengetahuan sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia. Perumpamaan banjir juga digunakan pada **vv.298-300**, **511-13**, dan **848-49**.)) Kata “banjir” (//ogha//) digunakan secara metafora, tetapi di sini dengan penekanan tambahan secara teknis, untuk menunjuk kelompok ajaran empat banjir (baca **45:171**), lebih dikenal, menurut Spk, “karena mereka terus-menerus tenggelam dalam lingkaran kehidupan dan tidak membiarkan mereka naik ke tingkat yang lebih tinggi dan ke Nibbāna.” Empat ini (definisi dari Spk) adalah: (i) banjir indriawi (//kāmogha//) = keinginan dan nafsu terhadap lima kenikmatan indria (bentuk-bentuk menyenangkan, suara-suara, dan seterusnya – baca **45:176**); (ii) banjir penjelmaan (//bhavogha//) = keinginan dan nafsu terhadap alam kehidupan berbentuk dan alam kehidupan tanpa-bentuk dan kemelekatan pada pencapaian jhāna; (iii) banjir pandangan-pandangan (//diṭṭhogha//) = enam puluh dua pandangan (DN I 12-38); dan (iv) banjir ketidaktahuan (//avijjogha//) = kurangnya pengetahuan sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia. Perumpamaan banjir juga digunakan pada **vv.298-300**, **511-13**, dan **848-49**.))
  
-“Dengan tidak berdiam diri, teman, dan dengan tidak memaksakan diri Aku menyeberangi banjir.”((//Appatiṭṭhaṃ khvāhaṃ āvuso anāyūhaṃ ogham atariṃ//. Spk: Jawaban Sang Buddha dimaksudkan secara paradoks, bagi orang yang biasanya menyeberang dengan berhenti di tempat dan memanfaatkan pijakan kaki dan yang memaksakan diri untuk menyeberang.+“Dengan tidak berdiam diri, teman, dan dengan tidak memaksakan diri Aku menyeberangi banjir.”((//Appatiṭṭhaṃ khvāhaṃ āvuso anāyūhaṃ ogham atariṃ//. Spk: Jawaban Sang Buddha dimaksudkan secara paradoks, bagi orang yang biasanya menyeberang dengan berhenti di tempat dan memanfaatkan pijakan kaki dan yang memaksakan diri untuk menyeberang.\\
  
 Spk mengemas //appatiṭhaṃ// hanya sebagai //appatiṭhahanto// (bentuk alternatif dari suatu kejadian yang sedang berlangsung), namun Spk-pṭ menjelaskan: “//Tidak-berhenti//: tidak berdiri diam sehubungan dengan kekotoran dan seterusnya; maknanya adalah ‘tidak tenggelam’ (//appatiṭṭhahanto ti kilesādīnaṃ vasena asantiṭṭhanto, asamsidanto ti attho//).” Kata kerja //patitiṭṭhhati// biasanya berarti “kokoh”, yaitu, melekat, pada dasarnya berhubungan dengan ketagihan dan kekotoran lainnya: baca di bawah **v.46** dan **n.35**. Kesadaran yang didorong oleh ketagihan adalah “kokoh” (baca **12:38-40**, **12:64**, **22:53-54**), dan ketika ketagihan dilenyapkan maka menjadi “tidak kokoh, tanpa penopang.” Para Arahant selesai “dengan kesadaran tidak kokoh” (//appatiṭṭhitena viññāṇena … parinibbuto//; baca **4:23** (**I 122**,12-13) ). Semua nuansa ini terkandung dalam jawaban Sang Buddha.\\ Spk mengemas //appatiṭhaṃ// hanya sebagai //appatiṭhahanto// (bentuk alternatif dari suatu kejadian yang sedang berlangsung), namun Spk-pṭ menjelaskan: “//Tidak-berhenti//: tidak berdiri diam sehubungan dengan kekotoran dan seterusnya; maknanya adalah ‘tidak tenggelam’ (//appatiṭṭhahanto ti kilesādīnaṃ vasena asantiṭṭhanto, asamsidanto ti attho//).” Kata kerja //patitiṭṭhhati// biasanya berarti “kokoh”, yaitu, melekat, pada dasarnya berhubungan dengan ketagihan dan kekotoran lainnya: baca di bawah **v.46** dan **n.35**. Kesadaran yang didorong oleh ketagihan adalah “kokoh” (baca **12:38-40**, **12:64**, **22:53-54**), dan ketika ketagihan dilenyapkan maka menjadi “tidak kokoh, tanpa penopang.” Para Arahant selesai “dengan kesadaran tidak kokoh” (//appatiṭṭhitena viññāṇena … parinibbuto//; baca **4:23** (**I 122**,12-13) ). Semua nuansa ini terkandung dalam jawaban Sang Buddha.\\
Baris 33: Baris 33:
 >Telah menyeberangi kemelekatan pada dunia ini.”((Spk: Sang Buddha disebut seorang //brahmana// dalam pengertian Arahant (baca Dhp 388, 396-423). Beliau telah //padam sepenuhnya (parinibbuto//) dalam hal bahwa Beliau telah padam melalui pemadaman kekotoran-kekotoran (//kilesanibbānena nibbutaṃ//). Ketagihan adalah sebutan untuk //kemelekatan// (//vissattikā//) karena melekat dan menempel pada berbagai objek indria.)) >Telah menyeberangi kemelekatan pada dunia ini.”((Spk: Sang Buddha disebut seorang //brahmana// dalam pengertian Arahant (baca Dhp 388, 396-423). Beliau telah //padam sepenuhnya (parinibbuto//) dalam hal bahwa Beliau telah padam melalui pemadaman kekotoran-kekotoran (//kilesanibbānena nibbutaṃ//). Ketagihan adalah sebutan untuk //kemelekatan// (//vissattikā//) karena melekat dan menempel pada berbagai objek indria.))
  
-Itu adalah apa yang dikatakan oleh devatā itu.((Spk: Ketika deva itu mendengar jawaban Sang Buddha ia mencapai Buah Memasuki-Arus. +Itu adalah apa yang dikatakan oleh devatā itu.((Spk: Ketika deva itu mendengar jawaban Sang Buddha ia mencapai Buah Memasuki-Arus.)) Sang Guru menyetujui. Kemudian devatā itu, berpikir, “Sang Guru setuju denganku,” bersujud kepada Sang Bhagavā dan, dengan Beliau di sisi kanannya, lenyap dari sana. ''%%[2]%%''
-)) Sang Guru menyetujui. Kemudian devatā itu, berpikir, “Sang Guru setuju denganku,” bersujud kepada Sang Bhagavā dan, dengan Beliau di sisi kanannya, lenyap dari sana. ''%%[2]%%''+
  
teks/sn/sn1/sn1.1.1765333990.txt.gz · Terakhir diubah: oleh sumedho