SN 1.1: Oghataraṇa Sutta - Menyeberangi Banjir
Diterjemahkan dari pāḷi oleh Bhikkhu Ñāṇamoli dan Bhikkhu Bodhi
| 🗣️ Pali | https://dhct.org/sn1.1 | PTS: S i 1 |
Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Kemudian, pada larut malam, satu devatā tertentu, dengan keindahan memesona, menerangi seluruh Hutan Jeta, mendatangi Sang Bhagavā. Setelah mendekat, ia bersujud kepada Sang Bhagavā, berdiri di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:
“Bagaimanakah, Yang Mulia, Engkau menyeberangi banjir?”1)
“Dengan tidak berdiam diri, teman, dan dengan tidak memaksakan diri Aku menyeberangi banjir.”2)
“Tetapi, bagaimanakah, Yang Mulia, bahwa dengan tidak berdiam diri dan tidak memaksakan diri Engkau menyeberangi banjir?”
“Ketika Aku diam, teman, maka Aku tenggelam; tetapi ketika aku memaksakan diri, maka Aku hanyut. Dengan cara inilah, teman, bahwa dengan tidak berdiam diri dan tidak memaksakan diri Aku menyeberangi banjir.”3) <2>
[Devatā:]
“Setelah sekian lama akhirnya aku menemukan
Seorang Brahmana yang telah padam sepenuhnya,
Yang dengan tidak berdiam diri, tidak memaksakan diri,
Telah menyeberangi kemelekatan pada dunia ini.”4)
Itu adalah apa yang dikatakan oleh devatā itu.5) Sang Guru menyetujui. Kemudian devatā itu, berpikir, “Sang Guru setuju denganku,” bersujud kepada Sang Bhagavā dan, dengan Beliau di sisi kanannya, lenyap dari sana. [2]
Kata “banjir” (ogha) digunakan secara metafora, tetapi di sini dengan penekanan tambahan secara teknis, untuk menunjuk kelompok ajaran empat banjir (baca 45:171), lebih dikenal, menurut Spk, “karena mereka terus-menerus tenggelam dalam lingkaran kehidupan dan tidak membiarkan mereka naik ke tingkat yang lebih tinggi dan ke Nibbāna.” Empat ini (definisi dari Spk) adalah: (i) banjir indriawi (kāmogha) = keinginan dan nafsu terhadap lima kenikmatan indria (bentuk-bentuk menyenangkan, suara-suara, dan seterusnya – baca 45:176); (ii) banjir penjelmaan (bhavogha) = keinginan dan nafsu terhadap alam kehidupan berbentuk dan alam kehidupan tanpa-bentuk dan kemelekatan pada pencapaian jhāna; (iii) banjir pandangan-pandangan (diṭṭhogha) = enam puluh dua pandangan (DN I 12-38); dan (iv) banjir ketidaktahuan (avijjogha) = kurangnya pengetahuan sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia. Perumpamaan banjir juga digunakan pada vv.298-300, 511-13, dan 848-49.
Spk mengemas appatiṭhaṃ hanya sebagai appatiṭhahanto (bentuk alternatif dari suatu kejadian yang sedang berlangsung), namun Spk-pṭ menjelaskan: “Tidak-berhenti: tidak berdiri diam sehubungan dengan kekotoran dan seterusnya; maknanya adalah ‘tidak tenggelam’ (appatiṭṭhahanto ti kilesādīnaṃ vasena asantiṭṭhanto, asamsidanto ti attho).” Kata kerja patitiṭṭhhati biasanya berarti “kokoh”, yaitu, melekat, pada dasarnya berhubungan dengan ketagihan dan kekotoran lainnya: baca di bawah v.46 dan n.35. Kesadaran yang didorong oleh ketagihan adalah “kokoh” (baca 12:38-40, 12:64, 22:53-54), dan ketika ketagihan dilenyapkan maka menjadi “tidak kokoh, tanpa penopang.” Para Arahant selesai “dengan kesadaran tidak kokoh” (appatiṭṭhitena viññāṇena … parinibbuto; baca 4:23 (I 122,12-13) ). Semua nuansa ini terkandung dalam jawaban Sang Buddha.
Kata kerja āyūhati jarang terdapat dalam Nikāya, tetapi baca di bawah v.263df, v.264d, dan Sn 210d. Sebuah bentuk yang lebh padat dari ūhati (ditambah dengan à- dan y- sebagai penghubung); kata kerja sederhana ini muncul pada MN I 116,13-14, di mana dapat diterjemahkan “dipaksakan”. Kemunculan di sana bersesuaian dengan konteks sekarang ini: pikiran yang tegang dipaksakan adalah jauh dari konsentrasi. Dalam literatur belakangan bentuk kata benda āyūhana memperoleh makna teknis “akumulasi” yang secara khusus merujuk pada kamma; dalam formula kemunculan bergantungan (paṭicca-samuppāda), bentukan kehendak (saṅkhārā) dikatakan memiliki fungsi āyūhana; baca Paṭis I 52, 14,26; Vism 528, 12 (Ppn 17:51), 579,31-580, 4 (Ppn 17:292-93).
Spk: Sang Bhagavā dengan sengaja memberikan jawaban kabur kepada deva untuk merendahkan hatinya, karena ia kaku oleh kesombongan menganggap dirinya bijaksana. Menyadari bahwa deva itu tidak akan mampu menembus ajaran jika ia tidak mengubah sikapnya terlebih dulu, Sang Buddha bermaksud untuk membuatnya bingung dan karenanya dapat mengekang keangkuhannya. Pada saat itu, dengan rendah hati, deva itu akan memohon penjelasan dan Sang Buddha akan menjelaskan dengan cara-cara yang dapat ia pahami.
