sunyata
Perbedaan
Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.
| Revisi selanjutnya | Revisi sebelumnya | ||
| sunyata [2025/12/06 06:19] – dibuat seniya | sunyata [2025/12/06 06:59] (sekarang) – [Filosofi Kekosongan dalam Mahayana] seniya | ||
|---|---|---|---|
| Baris 26: | Baris 26: | ||
| Dengan demikian, konsep kekosongan (sunyata/ | Dengan demikian, konsep kekosongan (sunyata/ | ||
| + | |||
| + | ==== Kekosongan sebagai Pencapaian Meditatif ==== | ||
| + | |||
| + | Konsep kekosongan sebagai pencapaian meditatif, yaitu kosong dari pencapaian meditatif/ | ||
| + | |||
| + | 1) dengan tidak memperhatikan persepsi desa, tidak memperhatikan persepsi orang-orang – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi hutan. Pikirannya memasuki persepsi hutan itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi desa; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi orang-orang. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi hutan.’ | ||
| + | |||
| + | 2) dengan tidak memperhatikan persepsi orang-orang, | ||
| + | |||
| + | 3) dengan tidak memperhatikan persepsi hutan, tidak memperhatikan persepsi tanah – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi landasan ruang tanpa batas. Pikirannya memasuki persepsi landasan ruang tanpa batas itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi hutan; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi tanah. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi landasan ruang tanpa batas.’ | ||
| + | |||
| + | 4) dengan tidak memperhatikan persepsi tanah, tidak memperhatikan persepsi landasan ruang tanpa batas – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi landasan kesadaran tanpa batas. Pikirannya memasuki persepsi landasan kesadaran tanpa batas itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi tanah; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan ruang tanpa batas. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi landasan kesadaran tanpa batas.’ | ||
| + | |||
| + | 5) dengan tidak memperhatikan persepsi landasan ruang tanpa batas, tidak memperhatikan persepsi landasan kesadaran tanpa batas – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi landasan kekosongan. Pikirannya memasuki persepsi landasan kekosongan itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan ruang tanpa batas; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan kesadaran tanpa batas. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi landasan kekosongan.’ | ||
| + | |||
| + | 6) dengan tidak memperhatikan persepsi landasan kesadaran tanpa batas, tidak memperhatikan persepsi landasan kekosongan – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Pikirannya memasuki persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan kesadaran tanpa batas; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan kekosongan. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.’ | ||
| + | |||
| + | 7) dengan tidak memperhatikan persepsi landasan kekosongan, tidak memperhatikan persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada konsentrasi pikiran tanpa gambaran. Pikirannya memasuki konsentrasi pikiran tanpa gambaran itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan kekosongan; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, yang berhubungan dengan enam landasan yang bergantung pada jasmani dan dikondisikan oleh kehidupan.’ | ||
| + | |||
| + | Ia memahami: ‘Konsentrasi pikiran tanpa gambaran ini adalah terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak. Tetapi apapun juga yang terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk pada lenyapnya.’ Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Demikianlah melalui tahapan meditasi kekosongan ini, seorang bhikkhu mencapai pembebasan dari noda-noda kekotoran batin (Nibbana). | ||
| + | |||
| + | Pada tahap no. 3–6 adalah pancapaian meditatif yang disebut landasan tanpa bentuk (arupayatana) atau dikenal sebagai arupajhana. Walaupun jika kita hanya membaca teks sutta MN 121 pencapaian arupajhana di atas dilakukan tanpa melalui pancapaian jhana biasa (rupajhana) terlebih dahulu, sedangkan menurut teks komentar (kitab penjelasan/ | ||
| + | |||
| + | Pada tahap terakhir, pencapaian konsentrasi tanpa gambaran (animitta-cetosamadhi), | ||
| + | |||
| + | > “Dan apakah, teman, kebebasan pikiran melalui kehampaan [kekosongan] ? Di sini seorang bhikkhu, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, merenungkan sebagai berikut: ‘Ini hampa [kosong] dari diri atau apa yang menjadi milik diri.’ Ini disebut kebebasan pikiran melalui kehampaan. | ||
| + | |||
| + | Di sini jelas bahwa filosofi kekosongan (kosong dari diri = anatta) dapat dijadikan bahan perenungan atau objek meditasi yang membawa pada pencapaian meditatif yang membawa pada pembebasan/ | ||
| + | |||
| + | Sedangkan teks Samyukta Agama (padanan Samyutta Nikaya/SN dari aliran Sarvastivada) sutra ke-80 (SA 80) menjelaskan konsentrasi pikiran melalui kekosongan dan melalui tanpa tanda/ | ||
| + | |||
| + | > “Seumpamanya seorang bhikkhu duduk di sebuah tempat kosong pada akar sebuah pohon dan dengan baik merenungkan bentuk jasmani sebagai tidak kekal, bersifat menjadi usang dan memudar. Dengan cara yang sama ia menyelidiki perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sebagai tidak kekal, bersifat menjadi usang dan memudar. Dengan menyelidiki kelompok-kelompok unsur kehidupan itu sebagai tidak kekal, bersifat menjadi usang, tidak stabil, dan berubah-ubah, | ||
| + | > | ||
| + | >[….] | ||
| + | > | ||
| + | > “Selanjutnya terdapat suatu perhatian dengan benar pada konsentrasi dengan merenungkan ditinggalkannya tanda [gambaran] (nimitta) bentuk, ditinggalkannya tanda [gambaran] suara, bebauan, rasa, sentuhan, dan objek-objek pikiran. Ini disebut [konsentrasi pikiran] ketanpa-tandaan [tanpa gambaran]. | ||
| + | |||
| + | Dari kutipan di atas tampak bahwa meditasi kekosongan tidak mesti merenungkan "ini kosong dari diri" atau "ini kosong dari [pencapaian meditatif yang lebih kasar]", | ||
| + | |||
| + | Jadi, dalam Buddhisme awal konsep kekosongan merupakan filosofi (teori) tentang realitas dunia yang tanpa substansi/ | ||
| + | |||
| + | ===== Konsep Kekosongan dalam Mahayana ===== | ||
| + | |||
| + | Walaupun masa Buddhisme awal telah mengenal konsep kekosongan seperti yang dijelaskan di atas, namun istilah " | ||
| + | |||
| + | ==== Abhidharma sebagai Latar Belakang Munculnya Konsep Kekosongan Mahayana ==== | ||
| + | |||
| + | Secara historis, munculnya filosofi Sunyata dalam Mahayana merupakan reaksi terhadap konsep **Svabhava** dari Abhidharma aliran Sarvastivada. Abhidharma/ | ||
| + | |||
| + | Secara umum, masing-masing aliran Buddhis awal mengembangkan versi Abhidharma masing-masing sebagai penafsiran terhadap ajaran Buddha dalam teks-teks awal (Nikaya dan Agama) yang berbeda satu sama lainnya. Namun terdapat juga aliran-aliran yang menolak Abhidharma sebagai Buddhavacana, | ||
| + | |||
| + | Dalam Abhidharma/ | ||
| + | |||
| + | Berdasarkan Abhidhamma, dhamma memiliki karakteristik sendiri atau sifat intrinstik (sabhava/ | ||
| + | |||
| + | ==== Abhidharma Sarvastivada dan Para Penentangnya ==== | ||
| + | |||
| + | Ajaran utama aliran Sarvastivada adalah doktrin " | ||
| + | |||
| + | Para penentang doktrin Sarvastivada mulai dari aliran **Vibhajjavada/ | ||
| + | |||
| + | ==== Filosofi Kekosongan dalam Mahayana ==== | ||
| + | |||
| + | Filosofi Mahayana berkembang dengan munculnya kumpulan teks sutra Mahayana awal berjudul Prajnaparamita Sutra yang menitikberatkan pada praktik kebijaksanan sempurna Bodhisattva (prajna paramita). Ada pun kebijaksanaan sempurna ini berasal dari pemahaman kekosongan semua fenomena bahwa sifat intrinsik semua fenomena adalah kosong (sunyata svabhava) sehingga fenomena (dharma) [yang dianggap sebagai entitas nyata oleh Sarvastivada] hanyalah konstruksi konseptual. Oleh sebab itu, dalam **Prajnaparamita Hrdaya Sutra** atau dikenal sebagai Sutra Hati (Heart Sutra) yang populer dalam Mahayana saat ini dikatakan: | ||
| + | |||
| + | > Bentuk jasmani (rupa) adalah kekosongan (sunyata), kekosongan adalah bentuk jasmani. | ||
| + | > Kekosongan tidak berbeda dari bentuk jasmani, bentuk jasmani tidak berbeda dari kekosongan. | ||
| + | > Apa pun bentuk jasmani adalah kekosongan, apa pun kekosongan adalah bentuk jasmani. | ||
| + | > Demikian juga halnya untuk perasaan (vedana), persepsi (samjna), bentukan pikiran (samskara), dan kesadaran (vijnana). | ||
| + | |||
| + | Dengan demikian, filosofi kekosongan dalam Mahayana secara umum merupakan reaksi terhadap perkembangan Abhidharma dari aliran-aliran Buddhisme India dan secara khusus membantah konsep svabhava dari aliran Sarvastivada. [Perlu diperhatikan di sini bahwa aliran Theravada tidak pernah dirujuk secara khusus sebagai rival Mahayanis saat itu karena Theravada berkembang di Sri Lanka sehingga istilah Hinayana sebagai lawan dari Mahayana hanya ditujukan kepada aliran-aliran Buddhisme awal di India seperti Sarvastivada, | ||
| + | |||
| + | Pada abad kedua Masehi pemikir Mahayana bernama Nagarjuga mengembangkan lebih lanjut konsep kekosongan ini dengan mencetuskan filosofi **Madhyamika/ | ||
| + | |||
| + | > Apa pun yang muncul bergantungan, | ||
| + | > Itulah yang disebut kekosongan. | ||
| + | > Hal itu, yang adalah penyebutan bergantungan, | ||
| + | > Ia sendiri adalah jalan tengah. | ||
| + | > | ||
| + | > Sesuatu yang tidak muncul bergantungan, | ||
| + | > Hal demikian tidaklah ada. | ||
| + | > Oleh sebab itu hal yang tidak kosong | ||
| + | > Adalah tidak ada. | ||
| + | |||
| + | Di sini Nagarjuna menyamakan kekosongan (sunyata) dengan **kemunculan kebergantungan** (pratityasamutpada/ | ||
| + | |||
| + | Sebenarnya konsep kemunculan bergantungan sebagai kekosongan dan jalan tengah bukanlah inovasi baru Nagarjuna, melainkan telah ada dalam teks Samyukta Agama dari aliran Sarvastivada, | ||
| + | |||
| + | > … //ketika ini ada, itu ada; dengan munculnya ini, itu muncul.// | ||
| + | > | ||
| + | > Yaitu, dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, bentukan muncul; dengan bentukan sebagai kondisi, kesadaran muncul; dengan kesadaran sebagai kondisi, nama-dan-bentuk muncul; dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi, enam landasan indera muncul; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, kontak muncul; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan muncul; dengan perasaan sebagai kondisi, ketagihan muncul; dengan ketagihan sebagai kondisi, kemelekatan muncul; dengan kemelekatan sebagai kondisi, penjelmaan muncul; dengan penjelmaan sebagai kondisi, kelahiran muncul; dengan kelahiran sebagai kondisi, penuaan dan kematian, dukacita, ratap tangis, kesakitan, kesedihan dan keputusasaan muncul. Demikianlah munculnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini. | ||
| + | |||
| + | Dan lawan dari kemunculan bergantungan ini (disebut kelenyapan bergantungan) adalah kebalikannya, | ||
| + | |||
| + | Konsep kemunculan bergantungan sebagai jalan tengah terhadap pandangan dualitas (eternalisme dan nihilisme) juga terdapat dalam SN 12.15 di mana Sang Buddha berkata: | ||
| + | |||
| + | > “‘// | ||
| + | |||
| + | Dalam Buddhisme awal kutipan ini menyatakan bahwa Sang Buddha menghindari pandangan eternalisme (" | ||
| + | |||
| + | Menurut Mahayana, konsep kekosongan dalam Buddhisme awal yang tak lain sama dengan konsep bukan diri/anatta (yang dibahas pada bagian pertama di atas) disebut **pudgala-nairatmya** (ketiadaan esensi atau kekosongan dalam diri/ | ||
| + | |||
| + | Dengan demikian, untuk memahami konsep kekosongan dalam Buddhisme diperlukan pemahaman secara komprehensif dari konsep awalnya, konsep Abhidharma yang melahirkannya, | ||
sunyata.1765001990.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya
