Wiki DhammaCitta

Buddhisme Indonesia

Alat Pengguna

Alat Situs


sunyata

Ini adalah dokumen versi lama!


Konsep Kekosongan (Sunyata) dan Asal Mula Historisnya

Konsep Kekosongan dalam Buddhisme Awal

Dalam ajaran Buddha pada masa awal, konsep sunyata adalah sama dengan konsep anatta/anatman (bukan diri) yang merupakan bantahan Sang Buddha terhadap konsep atta/atman (diri/jiwa/roh) dari Brahmanisme dan konsep jiva (jiwa) dari Sramanisme saat itu. Selengkapnya tentang pembahasan konsep anatta/anatman secara historis dapat dibaca pada artikel Anatta: Landasan Doktrinal dan Latar Belakang Historis.

Adapun konsep kekosongan (sunyata) dalam teks-teks Buddhis awal selalu menggunakan kata sifat “kosong” (suñña/sunya) dari sesuatu. Makna awal kata “suñña” tidak bersifat filosofis dan memiliki arti “kosong”, “tidak berpenghuni”, “tidak berguna”, dst. Karena suñña berarti kosong dan hampa, istilah ini sering dipakai dalam pengertian “kosong dari (kualitas atau sifat ini atau itu).” Seperti halnya dalam percakapan sehari-hari, jika dikatakan “rumah itu kosong”, maka yang dimaksud adalah “rumah itu kosong dari barang-barang” atau “rumah itu kosong dari penghuninya”. Oleh sebab itu, berdasarkan sifat/kualitas yang dinegasikan, terdapat 2 jenis konsep kekosongan dalam Buddhisme awal, yaitu kekosongan sebagai filosofi anatta itu sendiri dan kekosongan sebagai pencapaian meditatif.

Kekosongan sebagai Filosofi Anatta

Kekosongan sebagai filosofi anatta (bukan diri), yaitu kosong dari diri (atta), disebutkan dalam SN 35.85 berikut:

Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā … dan berkata kepada Beliau: “Yang Mulia, dikatakan ‘dunia ini kosong, dunia ini kosong.’ Bagaimanakah, Yang Mulia, yang dikatakan ‘dunia ini kosong’ itu?”

“Yaitu, Ānanda, karena kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri, sehingga dikatakan, ‘Dunia ini kosong.’ Dan apakah yang kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri? Mata, Ānanda, adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri. Bentuk-bentuk adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri. Kesadaran-mata adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri. Kontak-mata adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri … Perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-pikiran sebagai kondisi—apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan—itu juga adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri.

“Adalah, Ānanda, karena kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri, sehingga dikatakan, ‘Dunia ini kosong.’”

Di sini dikatakan bahwa dunia (yang didefinisikan dalam SN 35.68 dan SN 35.116 sebagai dunia pengalaman kita yang dipersepsikan melalui pancaindera dan indera pikiran) adalah kosong dari diri (atta) dan apa yang menjadi milik diri (attaniyena).

Penggunaan istilah “suñña” di sini bersifat filosofis dalam maknanya dan menunjukkan ciri paling awal dari pandangan Buddhis awal tentang dunia bahwa tidak ada yang independen, berdiri sendiri, ada dengan sendirinya, tidak memiliki sebab, dan kekal selamanya. Ini sepenuhnya berbeda dengan filosofi Brahmanisme yang paling kuat pada masa itu, yaitu Upanisad yang mengajarkan bahwa terdapat sebab metafisik yang tidak disebabkan (yang disebut Brahman), yang bermanifestasi sebagai diri (atman) dalam semua makhluk.

Pengggunaan istilah “suñña” dalam makna filosofis juga ditemukan dalam Mogharajamanavapuccha dari Suttanipata (Snp 5.16). Dalam sutta ini disebutkan percakapan antara Mogharaja dan Sang Buddha di mana Mogharaja bertanya: “Bagaimanakah seseorang harus memandang dunia ini agar raja kematian tidak melihatnya?” Dengan kata lain, ini adalah pertanyaan bagaimana seharusnya pandangan seseorang tentang dunia agar ia dapat bebas dari lingkaran kelahiran kembali (samsara). Jawaban Sang Buddha adalah: “Dengan selalu penuh perhatian (sati) dan melihat dunia sebagai kosong, setelah mencabut akar-akar pandangan tentang diri – demikianlah seseorang seharusnya melampaui kematian; ia yang melihat dunia dengan cara ini, raja kematian tidak dapat melihatnya.

Dalam sutta ini Sang Buddha menggunakan istilah “suñña” untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang substansial dalam segala hal di dunia ini. Seluruh dunia kosong dari segala jenis entitas kekal apa pun. Pandangan eternalis (sassatavada) bahwa ada sesuatu yang kekal di dunia ini yang membuat seseorang terlibat dalam semua masalah kehidupan (dukkha). Oleh sebab itu, untuk bebas dari keadaan ini seseorang harus mengambil pandangan benar bahwa dunia ini adalah kosong (suñña) dari substansi/esensi yang kekal demikian. Oleh sebab itu, lebih lanjut Sang Buddha mengatakan agar seseorang seharusnya melepaskan pandangan (ditthi) tentang diri (atta).

Dengan demikian, konsep kekosongan (sunyata/sunya) dalam Buddhisme awal tak lain merupakan makna filosofis dari konsep anatta yang telah diajarkan Sang Buddha sejak awal karir pengajarannya.

sunyata.1765001990.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya