Wiki DhammaCitta

Buddhisme Indonesia

Alat Pengguna

Alat Situs


samatha_vipassana

Perbedaan

Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.

Tautan ke tampilan pembanding ini

Revisi selanjutnya
Revisi sebelumnya
samatha_vipassana [2025/12/26 09:04] – dibuat seniyasamatha_vipassana [2025/12/27 14:10] (sekarang) – [Menurut Sutta-Sutta Awal] seniya
Baris 1: Baris 1:
-====== Menurut Theravada Saat Ini ======+====== Samatha dan Vipassana: Sepasang Utusan Cepat ====== 
 + 
 +===== Menurut Theravada Saat Ini =====
  
 Dalam Theravada saat ini, istilah //samatha// dan //vipassana// menunjuk pada 2 jenis meditasi yang berbeda metode dan tujuannya. **Samatha** (dalam bahasa Pali berarti ketenangan batin) adalah meditasi yang bertujuan untuk mencapai ketenangan batin dengan memusatkan perhatian/berfokus pada objek meditasi tertentu (terdapat 40 objek meditasi samatha menurut Visuddhimagga) hingga mencapai tingkat pemusatan pikiran yang disebut jhana. Dalam Theravada saat ini, istilah //samatha// dan //vipassana// menunjuk pada 2 jenis meditasi yang berbeda metode dan tujuannya. **Samatha** (dalam bahasa Pali berarti ketenangan batin) adalah meditasi yang bertujuan untuk mencapai ketenangan batin dengan memusatkan perhatian/berfokus pada objek meditasi tertentu (terdapat 40 objek meditasi samatha menurut Visuddhimagga) hingga mencapai tingkat pemusatan pikiran yang disebut jhana.
Baris 5: Baris 7:
 Adapun **vipassana** (pandangan terang) adalah meditasi yang bertujuan untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya (istilah Buddhis-nya mencapai pandangan terang) dengan berlatih empat landasan perhatian (satipatthana), yaitu perenungan atau perhatian pada jasmani (kayanupassana), perasaan (vedananupassana), pikiran (cittanupassana), dan objek-objek pikiran (dhammanupassana). Tidak seperti meditasi samatha yang menggunakan objek meditasi sebagai titik fokus perhatian untuk mencapai ketenangan batin atau konsentrasi pikiran, dalam meditasi vipassana seorang meditator hanya mengamati muncul, berlangsung/bertahan sebentar, dan lenyapnya fenomena-fenomena jasmani dan batin yang terjadi pada dirinya untuk memahami hakikat kehidupan yang tidak kekal (anicca), tidak memuaskan (dukkha), dan bukan diri (anatta). Dikatakan bahwa hanya dengan mempraktikkan meditasi vipassana tanpa mencapai jhana yang diperoleh melalui meditasi samatha, seorang praktisi Buddhis dapat mencapai pencerahan seperti yang dicapai Sang Buddha dan para siswa beliau. Adapun **vipassana** (pandangan terang) adalah meditasi yang bertujuan untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya (istilah Buddhis-nya mencapai pandangan terang) dengan berlatih empat landasan perhatian (satipatthana), yaitu perenungan atau perhatian pada jasmani (kayanupassana), perasaan (vedananupassana), pikiran (cittanupassana), dan objek-objek pikiran (dhammanupassana). Tidak seperti meditasi samatha yang menggunakan objek meditasi sebagai titik fokus perhatian untuk mencapai ketenangan batin atau konsentrasi pikiran, dalam meditasi vipassana seorang meditator hanya mengamati muncul, berlangsung/bertahan sebentar, dan lenyapnya fenomena-fenomena jasmani dan batin yang terjadi pada dirinya untuk memahami hakikat kehidupan yang tidak kekal (anicca), tidak memuaskan (dukkha), dan bukan diri (anatta). Dikatakan bahwa hanya dengan mempraktikkan meditasi vipassana tanpa mencapai jhana yang diperoleh melalui meditasi samatha, seorang praktisi Buddhis dapat mencapai pencerahan seperti yang dicapai Sang Buddha dan para siswa beliau.
  
-====== Menurut Sutta-Sutta Awal ======+===== Menurut Sutta-Sutta Awal =====
  
 Namun demikian, menurut sutta-sutta awal istilah samatha dan vipassana ternyata menunjuk pada kualitas batin yang dicapai melalui pelatihan Jalan Mulia Berunsur Delapan (JMB8) alih-alih metode meditasi yang berbeda tujuannya. Keduanya saling mendukung dan dibutuhkan untuk mencapai pencerahan, seperti yang disebutkan dalam AN 2.31 sbb: Namun demikian, menurut sutta-sutta awal istilah samatha dan vipassana ternyata menunjuk pada kualitas batin yang dicapai melalui pelatihan Jalan Mulia Berunsur Delapan (JMB8) alih-alih metode meditasi yang berbeda tujuannya. Keduanya saling mendukung dan dibutuhkan untuk mencapai pencerahan, seperti yang disebutkan dalam AN 2.31 sbb:
Baris 31: Baris 33:
 >    “Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebas dari noda keinginan indria, bebas dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’ >    “Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebas dari noda keinginan indria, bebas dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’
  
-Oleh sebab itu, dalam SN 35.245 samatha dan vipassana diumpamakan sebagai "sepasang utusan cepat":+Oleh sebab itu, dalam SN 35.245 samatha dan vipassana diumpamakan sebagai "**sepasang utusan cepat**":
  
 >    “Misalkan, bhikkhu, seorang raja memiliki sebuah kota perbatasan dengan benteng yang kuat, tembok-tembok, dan lengkungan, dan dengan enam gerbang. Penjaga gerbang yang ditugaskan di sana adalah orang yang bijaksana, kompeten, dan cerdas; seorang yang menolak orang asing dan menerima kenalan. Sepasang utusan cepat masuk dari timur dan bertanya kepada penjaga gerbang: ‘Di manakah, tuan, raja kota ini?’ Ia akan menjawab: ‘Ia sedang duduk di lapangan tengah.’ Kemudian sepasang utusan cepat itu menyampaikan pesan kenyataan kepada raja kota itu dan pergi melalui jalan dari mana mereka datang. Demikian pula, utusan datang dari barat, dari utara, dari selatan, menyampaikan pesan mereka dan pergi melalui jalan dari mana mereka datang. >    “Misalkan, bhikkhu, seorang raja memiliki sebuah kota perbatasan dengan benteng yang kuat, tembok-tembok, dan lengkungan, dan dengan enam gerbang. Penjaga gerbang yang ditugaskan di sana adalah orang yang bijaksana, kompeten, dan cerdas; seorang yang menolak orang asing dan menerima kenalan. Sepasang utusan cepat masuk dari timur dan bertanya kepada penjaga gerbang: ‘Di manakah, tuan, raja kota ini?’ Ia akan menjawab: ‘Ia sedang duduk di lapangan tengah.’ Kemudian sepasang utusan cepat itu menyampaikan pesan kenyataan kepada raja kota itu dan pergi melalui jalan dari mana mereka datang. Demikian pula, utusan datang dari barat, dari utara, dari selatan, menyampaikan pesan mereka dan pergi melalui jalan dari mana mereka datang.
 > >
->    “Aku membuat perumpamaan ini, bhikkhu, untuk menyampaikan sebuah makna. Ini adalah maknanya di sini: ‘Kota’: adalah sebutan untuk jasmani ini yang terdiri dari empat unsur utama, berasal-mula dari ibu dan ayah, dibangun dari nasi dan bubur, tunduk pada ketidakkekalan, menjadi tua dan usang, menjadi hancur dan berserakan. ‘Enam gerbang’: ini adalah sebutan untuk enam landasan indria internal. ‘Penjaga gerbang’: ini adalah sebutan untuk perhatian. ‘Sepasang utusan cepat’: ini adalah sebutan untuk ketenangan dan pandangan terang. ‘Raja kota’: ini adalah sebutan untuk kesadaran. ‘Lapangan tengah’: ini adalah sebutan untuk empat unsur utama—unsur tanah, unsur air, unsur panas, unsur angin. ‘Pesan kebenaran’: ini adalah sebutan untuk Nibbāna. ‘Jalan dari mana mereka datang’: ini adalah sebutan untuk Jalan Mulia Berunsur Delapan: yaitu, Pandangan Benar … Konsentrasi Benar.”[4]+>    “Aku membuat perumpamaan ini, bhikkhu, untuk menyampaikan sebuah makna. Ini adalah maknanya di sini: ‘Kota’: adalah sebutan untuk jasmani ini yang terdiri dari empat unsur utama, berasal-mula dari ibu dan ayah, dibangun dari nasi dan bubur, tunduk pada ketidakkekalan, menjadi tua dan usang, menjadi hancur dan berserakan. ‘Enam gerbang’: ini adalah sebutan untuk enam landasan indria internal. ‘Penjaga gerbang’: ini adalah sebutan untuk perhatian. ‘Sepasang utusan cepat’: ini adalah sebutan untuk ketenangan dan pandangan terang. ‘Raja kota’: ini adalah sebutan untuk kesadaran. ‘Lapangan tengah’: ini adalah sebutan untuk empat unsur utama—unsur tanah, unsur air, unsur panas, unsur angin. ‘Pesan kebenaran’: ini adalah sebutan untuk Nibbāna. ‘Jalan dari mana mereka datang’: ini adalah sebutan untuk Jalan Mulia Berunsur Delapan: yaitu, Pandangan Benar … Konsentrasi Benar.”
  
 Demikianlah menurut sutta-sutta, kualitas samatha dan vipassana sama-sama dibutuhkan untuk mencapai pencerahan. Ini pun ditegaskan dalam Dhammapada syair 372 sbb: Demikianlah menurut sutta-sutta, kualitas samatha dan vipassana sama-sama dibutuhkan untuk mencapai pencerahan. Ini pun ditegaskan dalam Dhammapada syair 372 sbb:
Baris 59: Baris 61:
 Jadi, dapat disimpulkan bahwa samatha dan vipassana sesungguhnya bukanlah metode meditasi, melainkan sepasang kualitas batin yang saling melengkapi untuk mencapai pembebasan dari noda-noda atau pencerahan (Nibbana) dan dihasilkan secara langsung dari pelatihan empat landasan perhatian, yang juga berakumulasi dari keseluruhan praktik JMB8. Oleh sebab itu, pengajaran bahwa vipassana lebih baik daripada samatha karena hanya vipassana yang bisa membawa pada pencerahan tidak didukung oleh sutta-sutta awal. Jadi, dapat disimpulkan bahwa samatha dan vipassana sesungguhnya bukanlah metode meditasi, melainkan sepasang kualitas batin yang saling melengkapi untuk mencapai pembebasan dari noda-noda atau pencerahan (Nibbana) dan dihasilkan secara langsung dari pelatihan empat landasan perhatian, yang juga berakumulasi dari keseluruhan praktik JMB8. Oleh sebab itu, pengajaran bahwa vipassana lebih baik daripada samatha karena hanya vipassana yang bisa membawa pada pencerahan tidak didukung oleh sutta-sutta awal.
  
-====== Catatan Tambahan ======+===== Catatan Tambahan =====
  
-1. Dalam **AN 4.170 Yuganaddha Sutta** disebutkan bahwa terdapat 4 jalan atau metode mencapai Kearahantaan (pencerahan sebagai Arahant), yaitu (1) mengembangkan pandangan terang (vipassana) yang didahului ketenangan (samatha), (2) mengembangkan ketenangan yang didahului pandangan terang, (3) mengembangkan pandangan terang dan ketenangan secara bersamaan, dan (4) mengatasi pikiran yang dicengkeram kegelisahan terhadap Dhamma. Jalan/metode terakhir ini ditafsirkan dalam kitab komentar/penjelasan sebagai metode pengembangan vipassana tanpa samatha sama sekali karena kegelisahan terhadap Dhamma dianggap sebagai salah satu kekotoran pandangan terang yang harus diatasi oleh praktisi vipassana kering.+==== Metode Vipassana Kering dalam Yuganaddha Sutta (AN 4.170) ==== 
 + 
 +Dalam AN 4.170 Yuganaddha Sutta disebutkan bahwa terdapat 4 jalan atau metode mencapai Kearahantaan (pencerahan sebagai Arahant), yaitu (1) mengembangkan pandangan terang (vipassana) yang didahului ketenangan (samatha), (2) mengembangkan ketenangan yang didahului pandangan terang, (3) mengembangkan pandangan terang dan ketenangan secara bersamaan, dan (4) mengatasi pikiran yang dicengkeram kegelisahan terhadap Dhamma. Jalan/metode terakhir ini ditafsirkan dalam kitab komentar/penjelasan sebagai metode pengembangan vipassana tanpa samatha sama sekali karena kegelisahan terhadap Dhamma dianggap sebagai salah satu kekotoran pandangan terang yang harus diatasi oleh praktisi vipassana kering.
  
 Namun jika dilihat dari latar belakang sutta tersebut yang dikotbahkan Bhikkhu Ananda tanpa menyebutkan keberadaan Sang Buddha (yang berarti kemungkinan kotbah ini diberikan setelah wafatnya Buddha), maka metode terakhir ini mengacu pada kejadian bagaimana Bhikkhu Ananda mencapai Kearahantaan pada malam sebelum Konsili Buddhis I yang diadakan tiga bulan setelah wafatnya Sang Buddha, di mana ia merasa gelisah karena menjadi satu-satunya peserta konsili yang belum mencapai kesucian Arahant dan masih Sotapanna lalu ia bermeditasi sampai larut malam, tetapi tidak mencapai kemajuan apa pun; ketika ia memutuskan untuk beristirahat, saat posisi tubuhnya sudah beranjak dari duduk tetapi belum berbaring, noda-nodanya lenyap dan ia seketika itu tercerahkan menjadi Arahant. Dengan demikian ini adalah kejadian khusus yang hanya terjadi pada Bhikkhu Ananda seorang. Namun jika dilihat dari latar belakang sutta tersebut yang dikotbahkan Bhikkhu Ananda tanpa menyebutkan keberadaan Sang Buddha (yang berarti kemungkinan kotbah ini diberikan setelah wafatnya Buddha), maka metode terakhir ini mengacu pada kejadian bagaimana Bhikkhu Ananda mencapai Kearahantaan pada malam sebelum Konsili Buddhis I yang diadakan tiga bulan setelah wafatnya Sang Buddha, di mana ia merasa gelisah karena menjadi satu-satunya peserta konsili yang belum mencapai kesucian Arahant dan masih Sotapanna lalu ia bermeditasi sampai larut malam, tetapi tidak mencapai kemajuan apa pun; ketika ia memutuskan untuk beristirahat, saat posisi tubuhnya sudah beranjak dari duduk tetapi belum berbaring, noda-nodanya lenyap dan ia seketika itu tercerahkan menjadi Arahant. Dengan demikian ini adalah kejadian khusus yang hanya terjadi pada Bhikkhu Ananda seorang.
Baris 67: Baris 71:
 Mengingat Bhikkhu Ananda sebelumnya adalah seorang Sotapanna yang telah menyempurnakan praktik JMB8 sehingga tentu saja memiliki kualitas samatha dan vipassana, maka tidak tepat mengatakan metode keempat ini sebagai metode vipassana kering (hanya mengandalkan vipassana saja). Selengkapnya bisa dibaca juga dalam [[https://discourse.suttacentral.net/t/about-yuganaddha-sutta-an-4-170/2819/2|pembahasan forum Suttacentral tentang Yuganaddha Sutta]] ini. Mengingat Bhikkhu Ananda sebelumnya adalah seorang Sotapanna yang telah menyempurnakan praktik JMB8 sehingga tentu saja memiliki kualitas samatha dan vipassana, maka tidak tepat mengatakan metode keempat ini sebagai metode vipassana kering (hanya mengandalkan vipassana saja). Selengkapnya bisa dibaca juga dalam [[https://discourse.suttacentral.net/t/about-yuganaddha-sutta-an-4-170/2819/2|pembahasan forum Suttacentral tentang Yuganaddha Sutta]] ini.
  
-2. Satipatthana Sutta dalam MN 10[9] +==== Pengulangan Vipassana dalam Satipatthana Sutta ==== 
-maupun versi yang lebih panjang dalam DN 22 (Mahasatipatthana Sutta)[10] + 
-menyatakan bahwa empat landasan perhatian merupakan praktik pengembangan vipassana dengan mengatakan "di sini ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya jasmani …" dalam bagian pengulangannya. Namun demikian kalimat pengulangan vipassana ini tidak muncul dalam versi paralel Satipatthana Sutta yang ditemukan dalam teks Agama (yaitu Madhyama Agama/MA 98[11] +Satipatthana Sutta dalam [[https://dhammacitta.org/teks/mn/mn010-id-bodhi.html|MN 10]maupun versi yang lebih panjang dalam [[https://dhammacitta.org/teks/dn/dn22-id-walshe.html|DN 22]] (Mahasatipatthana Sutta) menyatakan bahwa empat landasan perhatian merupakan praktik pengembangan vipassana dengan mengatakan "//di sini ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya jasmani …//" dalam bagian pengulangannya. Namun demikian kalimat pengulangan vipassana ini tidak muncul dalam versi paralel Satipatthana Sutta yang ditemukan dalam teks Agama (yaitu [[https://suttacentral.net/ma98/id/ariyakumara|Madhyama Agama/MA 98]dan [[https://suttacentral.net/ea12.1/id/ariyakumara|Ekottarika Agama/EA 12.1]]). Kedua versi paralel Agama ini menyatakan bahwa pengembangan empat landasan perhatian atau empat penegakan perhatian adalah untuk melenyapkan lima rintangan (nivarana). Karena lima rintangan harus ditinggalkan untuk mencapai jhana, maka ini menegaskan kembali bahwa latihan empat landasan perhatian sesungguhnya memang untuk memgembangkan samatha, sesuai dengan kutipan MN 44 di atas.
-dan Ekottarika Agama/EA 12.1[12] +
-). Kedua versi paralel Agama ini menyatakan bahwa pengembangan empat landasan perhatian atau empat penegakan perhatian adalah untuk melenyapkan lima rintangan (nivarana). Karena lima rintangan harus ditinggalkan untuk mencapai jhana, maka ini menegaskan kembali bahwa latihan empat landasan perhatian sesungguhnya memang untuk memgembangkan samatha, sesuai dengan kutipan MN 44 di atas.+
samatha_vipassana.1766739840.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya