Ini adalah dokumen versi lama!
Menurut Theravada Saat Ini
Dalam Theravada saat ini, istilah samatha dan vipassana menunjuk pada 2 jenis meditasi yang berbeda metode dan tujuannya. Samatha (dalam bahasa Pali berarti ketenangan batin) adalah meditasi yang bertujuan untuk mencapai ketenangan batin dengan memusatkan perhatian/berfokus pada objek meditasi tertentu (terdapat 40 objek meditasi samatha menurut Visuddhimagga) hingga mencapai tingkat pemusatan pikiran yang disebut jhana.
Adapun vipassana (pandangan terang) adalah meditasi yang bertujuan untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya (istilah Buddhis-nya mencapai pandangan terang) dengan berlatih empat landasan perhatian (satipatthana), yaitu perenungan atau perhatian pada jasmani (kayanupassana), perasaan (vedananupassana), pikiran (cittanupassana), dan objek-objek pikiran (dhammanupassana). Tidak seperti meditasi samatha yang menggunakan objek meditasi sebagai titik fokus perhatian untuk mencapai ketenangan batin atau konsentrasi pikiran, dalam meditasi vipassana seorang meditator hanya mengamati muncul, berlangsung/bertahan sebentar, dan lenyapnya fenomena-fenomena jasmani dan batin yang terjadi pada dirinya untuk memahami hakikat kehidupan yang tidak kekal (anicca), tidak memuaskan (dukkha), dan bukan diri (anatta). Dikatakan bahwa hanya dengan mempraktikkan meditasi vipassana tanpa mencapai jhana yang diperoleh melalui meditasi samatha, seorang praktisi Buddhis dapat mencapai pencerahan seperti yang dicapai Sang Buddha dan para siswa beliau.
Menurut Sutta-Sutta Awal
Namun demikian, menurut sutta-sutta awal istilah samatha dan vipassana ternyata menunjuk pada kualitas batin yang dicapai melalui pelatihan Jalan Mulia Berunsur Delapan (JMB8) alih-alih metode meditasi yang berbeda tujuannya. Keduanya saling mendukung dan dibutuhkan untuk mencapai pencerahan, seperti yang disebutkan dalam AN 2.31 sbb:
“Para bhikkhu, kedua hal ini berhubungan dengan pengetahuan sejati. Apakah dua ini? Ketenangan (samatha) dan pandangan terang (vipassana). Ketika ketenangan terkembang, manfaat apakah yang dialami seseorang? Pikirannya terkembang. Ketika pikirannya terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Nafsu ditinggalkan. Ketika pandangan terang terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Kebijaksanaan terkembang. Ketika kebijaksanaan terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Ketidaktahuan ditinggalkan.
“Pikiran yang dikotori oleh nafsu adalah tidak terbebaskan, dan kebijaksanaan yang dikotori oleh ketidaktahuan adalah tidak terkembang. Demikianlah, para bhikkhu, melalui meluruhnya nafsu maka ada kebebasan pikiran, dan melalui meluruhnya ketidaktahuan maka ada kebebasan melalui kebijaksanaan.”
Di sini dikatakan bahwa untuk meninggalkan nafsu diperlukan kualitas pikiran yang berkembang atau tenang (samatha) dan untuk melenyapkan ketidaktahuan diperlukan kebijaksanaan yang berkembang (vipassana). Ditinggalkannya nafsu dan ketidaktahuan bersama-sama inilah yang disebut pencerahan sesungguhnya. Jadi bukan hanya vipassana yang diperlukan untuk mencapai pembebasan atau Nibbana.
Dalam skema JMB8 yang merupakan pelatihan bertahap Buddhis untuk mencapai pencerahan/pembebasan, samatha merupakan kualitas batin dari hasil pengembangan jhana melalui faktor JMB8 ke-8 yaitu konsentrasi benar (samma samadhi), yang didefinisikan dalam SN 45.8 sbb:
“Dan apakah, para bhikkhu, konsentrasi benar? Di sini, para bhikkhu, dengan terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan pemikiran dan pemeriksaan, dengan sukacita dan kebahagiaan yang timbul dari keterasingan. Dengan meredanya pemikiran dan pemeriksaan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan internal dan keterpusatan pikiran, yang tanpa pemikiran dan tanpa pemeriksaan, dan memiliki sukacita dan kebahagiaan yang timbul dari konsentrasi. Dengan meluruhnya sukacita, ia berdiam dalam keseimbangan dan, penuh perhatian dan memahami dengan jernih, ia mengalami kebahagiaan dalam jasmani; ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia seimbang, penuh perhatian, seorang yang berdiam dalam kebahagiaan.’ Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan menyakitkan juga bukan menyenangkan dan termasuk pemurnian perhatian oleh keseimbangan. Ini disebut konsentrasi benar.”
Sedangkan vipassana merupakan kualitas batin yang telah mengembangkan pandangan benar (samma ditthi) yang lebih tinggi di mana noda-noda dilenyapkan secara langsung. Definisi pandangan benar sebagai faktor pertama JMB8 dalam SN 45.8 adalah sbb:
“Dan apakah, para bhikkhu, pandangan benar? Pengetahuan atas penderitaan (dukkha) , pengetahuan atas asal-mula penderitaan, pengetahuan atas lenyapnya penderitaan, pengetahuan atas jalan menuju lenyapnya penderitaan: ini disebut Pandangan Benar.
Dengan kata lain, pandangan benar adalah pengetahuan tentang Empat Kebenaran Mulia. Dalam sutta-sutta tentang pelatihan bertahap, pandangan benar yang lebih tinggi atau pandangan terang (vipassana) dikembangkan setelah mencapai jhana (samatha) untuk menghancurkan noda-noda, seperti yang disebutkan dalam MN 27 sbb:
“Kemudian, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang tanpa kesakitan juga tanpa kenikmatan dan memiliki kemurnian perhatian karena keseimbangan. …
“Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; … ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’ … ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’ … ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’; … ‘Ini adalah noda-noda’; … ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’ … ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’ … ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’ …
“Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebas dari noda keinginan indria, bebas dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’
Oleh sebab itu, dalam SN 35.245 samatha dan vipassana diumpamakan sebagai “sepasang utusan cepat”:
“Misalkan, bhikkhu, seorang raja memiliki sebuah kota perbatasan dengan benteng yang kuat, tembok-tembok, dan lengkungan, dan dengan enam gerbang. Penjaga gerbang yang ditugaskan di sana adalah orang yang bijaksana, kompeten, dan cerdas; seorang yang menolak orang asing dan menerima kenalan. Sepasang utusan cepat masuk dari timur dan bertanya kepada penjaga gerbang: ‘Di manakah, tuan, raja kota ini?’ Ia akan menjawab: ‘Ia sedang duduk di lapangan tengah.’ Kemudian sepasang utusan cepat itu menyampaikan pesan kenyataan kepada raja kota itu dan pergi melalui jalan dari mana mereka datang. Demikian pula, utusan datang dari barat, dari utara, dari selatan, menyampaikan pesan mereka dan pergi melalui jalan dari mana mereka datang.
“Aku membuat perumpamaan ini, bhikkhu, untuk menyampaikan sebuah makna. Ini adalah maknanya di sini: ‘Kota’: adalah sebutan untuk jasmani ini yang terdiri dari empat unsur utama, berasal-mula dari ibu dan ayah, dibangun dari nasi dan bubur, tunduk pada ketidakkekalan, menjadi tua dan usang, menjadi hancur dan berserakan. ‘Enam gerbang’: ini adalah sebutan untuk enam landasan indria internal. ‘Penjaga gerbang’: ini adalah sebutan untuk perhatian. ‘Sepasang utusan cepat’: ini adalah sebutan untuk ketenangan dan pandangan terang. ‘Raja kota’: ini adalah sebutan untuk kesadaran. ‘Lapangan tengah’: ini adalah sebutan untuk empat unsur utama—unsur tanah, unsur air, unsur panas, unsur angin. ‘Pesan kebenaran’: ini adalah sebutan untuk Nibbāna. ‘Jalan dari mana mereka datang’: ini adalah sebutan untuk Jalan Mulia Berunsur Delapan: yaitu, Pandangan Benar … Konsentrasi Benar.”[4]
Demikianlah menurut sutta-sutta, kualitas samatha dan vipassana sama-sama dibutuhkan untuk mencapai pencerahan. Ini pun ditegaskan dalam Dhammapada syair 372 sbb:
Natthi jhānaṁ apaññassa,
paññā natthi ajhāyato;
Yamhi jhānañca paññā ca,
sa ve nibbānasantike.
Tiada jhana (= samatha) bagi seseorang yang tanpa kebijaksanaan (pandangan terang = vipassana)
Tiada kebijaksanaan bagi seseorang tanpa jhana
Tetapi bagi seseorang dengan jhana dan kebijaksanaan
Sesungguhnya dekat dengan Nibbana
Namun jika samatha dan vipassana bukanlah metode meditasi, bagaimanakah mencapai kedua kualitas batin ini? Dalam MN 44 dikatakan bahwa landasan konsentrasi adalah empat landasan perhatian:
“Yang Mulia, apakah konsentrasi? Apakah landasan konsentrasi? Apakah perlengkapan konsentrasi? Apakah pengembangan konsentrasi?”
“Keterpusatan pikiran, teman Visākha, adalah konsentrasi; Empat Landasan Perhatian adalah landasan konsentrasi; Empat Usaha Benar adalah perlengkapan konsentrasi; pengulangan, pengembangan, dan pelatihan atas kondisi-kondisi yang sama ini adalah pengembangan konsentrasi di sana.”
Dengan kata lain, praktik meditasi Buddhis yang berdasarkan empat landasan perhatian (satipatthana) [yang adalah faktor ke-7 JMB8], seperti yang diajarkan dalam Satipatthana Sutta, sesungguhnya merupakan jalan langsung menuju konsentrasi atau jhana (samatha). Hal yang sama disebutkan juga dalam AN 9.36 bahwa hancurnya noda-noda adalah bergantung pada jhana. Dan tentu saja dalam pelatihan bertahap, pencapaian jhana yang berpuncak pada hancurnya noda-noda merupakan akumulasi praktik semua faktor dalam JMB8.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa samatha dan vipassana sesungguhnya bukanlah metode meditasi, melainkan sepasang kualitas batin yang saling melengkapi untuk mencapai pembebasan dari noda-noda atau pencerahan (Nibbana) dan dihasilkan secara langsung dari pelatihan empat landasan perhatian, yang juga berakumulasi dari keseluruhan praktik JMB8. Oleh sebab itu, pengajaran bahwa vipassana lebih baik daripada samatha karena hanya vipassana yang bisa membawa pada pencerahan tidak didukung oleh sutta-sutta awal.
Catatan Tambahan
1. Dalam AN 4.170 Yuganaddha Sutta disebutkan bahwa terdapat 4 jalan atau metode mencapai Kearahantaan (pencerahan sebagai Arahant), yaitu (1) mengembangkan pandangan terang (vipassana) yang didahului ketenangan (samatha), (2) mengembangkan ketenangan yang didahului pandangan terang, (3) mengembangkan pandangan terang dan ketenangan secara bersamaan, dan (4) mengatasi pikiran yang dicengkeram kegelisahan terhadap Dhamma. Jalan/metode terakhir ini ditafsirkan dalam kitab komentar/penjelasan sebagai metode pengembangan vipassana tanpa samatha sama sekali karena kegelisahan terhadap Dhamma dianggap sebagai salah satu kekotoran pandangan terang yang harus diatasi oleh praktisi vipassana kering.
Namun jika dilihat dari latar belakang sutta tersebut yang dikotbahkan Bhikkhu Ananda tanpa menyebutkan keberadaan Sang Buddha (yang berarti kemungkinan kotbah ini diberikan setelah wafatnya Buddha), maka metode terakhir ini mengacu pada kejadian bagaimana Bhikkhu Ananda mencapai Kearahantaan pada malam sebelum Konsili Buddhis I yang diadakan tiga bulan setelah wafatnya Sang Buddha, di mana ia merasa gelisah karena menjadi satu-satunya peserta konsili yang belum mencapai kesucian Arahant dan masih Sotapanna lalu ia bermeditasi sampai larut malam, tetapi tidak mencapai kemajuan apa pun; ketika ia memutuskan untuk beristirahat, saat posisi tubuhnya sudah beranjak dari duduk tetapi belum berbaring, noda-nodanya lenyap dan ia seketika itu tercerahkan menjadi Arahant. Dengan demikian ini adalah kejadian khusus yang hanya terjadi pada Bhikkhu Ananda seorang.
Mengingat Bhikkhu Ananda sebelumnya adalah seorang Sotapanna yang telah menyempurnakan praktik JMB8 sehingga tentu saja memiliki kualitas samatha dan vipassana, maka tidak tepat mengatakan metode keempat ini sebagai metode vipassana kering (hanya mengandalkan vipassana saja). Selengkapnya bisa dibaca juga dalam pembahasan forum Suttacentral tentang Yuganaddha Sutta ini.
2. Satipatthana Sutta dalam MN 10[9] maupun versi yang lebih panjang dalam DN 22 (Mahasatipatthana Sutta)[10] menyatakan bahwa empat landasan perhatian merupakan praktik pengembangan vipassana dengan mengatakan “di sini ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya jasmani …” dalam bagian pengulangannya. Namun demikian kalimat pengulangan vipassana ini tidak muncul dalam versi paralel Satipatthana Sutta yang ditemukan dalam teks Agama (yaitu Madhyama Agama/MA 98[11] dan Ekottarika Agama/EA 12.1[12] ). Kedua versi paralel Agama ini menyatakan bahwa pengembangan empat landasan perhatian atau empat penegakan perhatian adalah untuk melenyapkan lima rintangan (nivarana). Karena lima rintangan harus ditinggalkan untuk mencapai jhana, maka ini menegaskan kembali bahwa latihan empat landasan perhatian sesungguhnya memang untuk memgembangkan samatha, sesuai dengan kutipan MN 44 di atas.
