Wiki DhammaCitta

Buddhisme Indonesia

Alat Pengguna

Alat Situs


teks:mn

Ini adalah dokumen versi lama!


Majjhima Nikāya

Khotbah-Khotbah Menengah

Majjhima Nikāya (Pāḷi Majjhima = “Menengah”) merupakan kumpulan khotbah-khotbah menengah (panjangnya) dalam Sutta Piṭaka yang merupakan bagian dari teks Kanon Pāḷi Tipitaka yang digunakan oleh sekte Theravāda. Majjhima Nikāya ini terdiri dari 152 khotbah yang diberikan oleh Sang Buddha dan murid utamanya. Kumpulan ini memiliki paralel dalam teks Sansekerta, Madhyama Āgama.

Deskripsi sutta-sutta ditulis oleh Bhikkhu Bodhi yang diambil dari buku “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha.”

    1. Kelompok Tentang Para Bhikkhu (Bhikkhuvagga)
    2. Kelompok Tentang Para Pengembara (Paribbājakavagga)
    3. Kelompok Para Raja (Rājavagga)
    4. Kelompok Para Brahmana (Brāhmaṇavagga)
  1. Lima Puluh Khotbah Terakhir (Uparipaṇṇāsapāḷi)
    1. Kelompok di Devadaha (Devadahavagga)
    2. Kelompok Satu demi Satu (Anupadavagga)
    3. Kelompok tentang Kekosongan (Suññatavagga)
    4. Kelompok Penjelasan (Vibhangavagga)
    5. Kelompok Enam Landasan (Saḷāyatanavagga)

I. Lima Puluh Khotbah Akar (Mūlapaṇṇāsapāḷi)

1. Kelompok Khotbah Tentang Akar (Mūlapariyāyavagga)


MN 1: Mūlapariyāya Sutta

Sang Buddha menganalisis proses kognitif dari empat jenis individu – orang biasa yang tidak terpelajar, siswa dalam latihan yang lebih tinggi, Arahant, dan Sang Tathāgata. Ini adalah salah satu sutta yang paling mendalam dan paling sulit dalam Kanon Pāli, dan oleh karena itu disarankan agar para siswa yang bersungguh-sungguh membacanya hanya sepintas lalu pada pembacaan pertama atas Majjhima Nikāya, kemudian kembali lagi untuk suatu pembelajaran yang lebih mendalam setelah menyelesaikan keseluruhan koleksi.
Bahasa Indonesia - Pali - PTS: M i 1

MN 2: Sabbāsava Sutta - Segala Noda

Sang Buddha mengajarkan para bhikkhu tujuh metode untuk mengendalikan dan meninggalkan noda-noda, kekotoran-kekotoran fundamental yang mempertahankan keterikatan dalam lingkaran kelahiran dan kematian.
Bahasa Indonesia - Pali - PTS: M i 6

MN 3: Dhammadāyāda Sutta - Pewaris dalam Dhamma

Pewaris dalam Dhamma. Sang Buddha menyuruh para bhikkhu agar menjadi pewaris dalam Dhamma, bukan pewaris dalam benda-benda materi. Kemudian Yang Mulia Sāriputta melanjutkan tema yang sama dengan menjelaskan bagaimana para siswa harus berlatih agar menjadi pewaris Buddha dalam Dhamma.
Bahasa Indonesia - Pali - PTS: M i 12

MN 4: Bhayabherava Sutta - Kekhawatiran dan Ketakutan

Kekhawatiran dan Ketakutan. Sang Buddha menjelaskan kepada seorang brahmana tentang kualitas-kualitas yang dituntut dari seorang bhikkhu yang ingin hidup sendirian di dalam hutan. Kemudian Beliau menceritakan suatu kisah tentang usahanya dalam menaklukkan ketakutan ketika berjuang untuk mencapai pencerahan.
Bahasa Indonesia - Pali - PTS: M i 16

MN 5: Anaṅgaṇa Sutta - Tanpa Noda

Yang Mulia Sāriputta memberikan khotbah kepada para bhikkhu tentang makna noda-noda, menjelaskan bahwa seorang bhikkhu menjadi ternoda ketika ia jatuh di bawah guncangan keinginan jahat.
Bahasa Indonesia - Pali - PTS: M i 24

MN 6: Ākankheyya Sutta - Jika Seorang Bhikkhu Menghendaki

Sang Buddha memulai dengan menekankan pentingnya moralitas sebagai landasan bagi latihan seorang bhikkhu; kemudian Beliau melanjutkan dengan menguraikan manfaat-manfaat yang dapat dipetik seorang bhikkhu yang dengan benar memenuhi latihan.
Bahasa Indonesia - Pali - PTS: M i 32

MN 7: Vatthūpama Sutta - Perumpamaan Kain

Dengan sebuah perumpamaan sederhana Sang Buddha mengilustrasikan perbedaan antara pikiran yang kotor dan pikiran yang murni.
Bahasa Indonesia - Pali - PTS: M i 36

MN 8: Sallekha Sutta - Penghapusan

Sang Buddha menolak pandangan bahwa hanya pencapaian absorpsi meditasi yang merupakan penghapusan dan menjelaskan bagaimana penghapusan dipraktikkan dengan benar dalam ajaranNya.
Bahasa Indonesia - Pali - PTS: M i 40

MN 9: Sammādiṭṭhi Sutta - Pandangan Benar

Sebuah khotbah panjang yang penting oleh Yang Mulia Sāriputta, dengan bagian terpisah tentang yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat, makanan, Empat Kebenaran Mulia, dua belas faktor kemunculan bergantungan.
Bahasa Indonesia - Pali - PTS: M i 46

MN 10: Satipaṭṭhāna Sutta - Landasan-Landasan Perhatian

Ini adalah salah satu dari sutta-sutta yang paling lengkap dan paling penting oleh Sang Buddha yang membahas tentang meditasi, dengan penekanan khusus pada pengembangan pandangan terang. Sang Buddha memulai dengan menyatakan empat landasan perhatian sebagai jalan langsung untuk merealisasikan Nibbāna, kemudian memberikan instruksi terperinci tentang empat landasan: perenungan jasmani, perasaan, pikiran, dan objek-objek pikiran.
Bahasa Indonesia - Pali - PTS: M i 55

2. Kelompok Auman Singa (Sīhanādavagga)

3. Kelompok Perumpamaan (Opammavagga)

4. Kelompok Panjang Berpasangan (Mahāyamakavagga)

5. Kelompok Pendek Berpasangan (Cūḷayamakavagga)

II. Lima Puluh Khotbah Menengah (Majjhimapaṇṇāsapāḷi)

1. Kelompok Tentang Perumah Tangga (Gahapativagga)

2. Kelompok Tentang Para Bhikkhu (Bhikkhuvagga)

3. Kelompok Tentang Para Pengembara (Paribbājakavagga)

4. Kelompok Para Raja (Rājavagga)

5. Kelompok Para Brahmana (Brāhmaṇavagga)

III. Lima Puluh Khotbah Terakhir (Uparipaṇṇāsapāḷi)

1. Kelompok di Devadaha (Devadahavagga)

2. Kelompok Satu demi Satu (Anupadavagga)

3. Kelompok tentang Kekosongan (Suññatavagga)

4. Kelompok Penjelasan (Vibhangavagga)

5. Kelompok Enam Landasan (Saḷāyatanavagga)

teks/mn.1765159930.txt.gz · Terakhir diubah: oleh sumedho