Ini adalah dokumen versi lama!
Daftar isi
Konsep Kekosongan (Sunyata) dan Asal Mula Historisnya
Konsep Kekosongan dalam Buddhisme Awal
Dalam ajaran Buddha pada masa awal, konsep sunyata adalah sama dengan konsep anatta/anatman (bukan diri) yang merupakan bantahan Sang Buddha terhadap konsep atta/atman (diri/jiwa/roh) dari Brahmanisme dan konsep jiva (jiwa) dari Sramanisme saat itu. Selengkapnya tentang pembahasan konsep anatta/anatman secara historis dapat dibaca pada artikel Anatta: Landasan Doktrinal dan Latar Belakang Historis.
Adapun konsep kekosongan (sunyata) dalam teks-teks Buddhis awal selalu menggunakan kata sifat “kosong” (suñña/sunya) dari sesuatu. Makna awal kata “suñña” tidak bersifat filosofis dan memiliki arti “kosong”, “tidak berpenghuni”, “tidak berguna”, dst. Karena suñña berarti kosong dan hampa, istilah ini sering dipakai dalam pengertian “kosong dari (kualitas atau sifat ini atau itu).” Seperti halnya dalam percakapan sehari-hari, jika dikatakan “rumah itu kosong”, maka yang dimaksud adalah “rumah itu kosong dari barang-barang” atau “rumah itu kosong dari penghuninya”. Oleh sebab itu, berdasarkan sifat/kualitas yang dinegasikan, terdapat 2 jenis konsep kekosongan dalam Buddhisme awal, yaitu kekosongan sebagai filosofi anatta itu sendiri dan kekosongan sebagai pencapaian meditatif.
Kekosongan sebagai Filosofi Anatta
Kekosongan sebagai filosofi anatta (bukan diri), yaitu kosong dari diri (atta), disebutkan dalam SN 35.85 berikut:
Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā … dan berkata kepada Beliau: “Yang Mulia, dikatakan ‘dunia ini kosong, dunia ini kosong.’ Bagaimanakah, Yang Mulia, yang dikatakan ‘dunia ini kosong’ itu?”
“Yaitu, Ānanda, karena kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri, sehingga dikatakan, ‘Dunia ini kosong.’ Dan apakah yang kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri? Mata, Ānanda, adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri. Bentuk-bentuk adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri. Kesadaran-mata adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri. Kontak-mata adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri … Perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-pikiran sebagai kondisi—apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan—itu juga adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri.
“Adalah, Ānanda, karena kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri, sehingga dikatakan, ‘Dunia ini kosong.’”
Di sini dikatakan bahwa dunia (yang didefinisikan dalam SN 35.68 dan SN 35.116 sebagai dunia pengalaman kita yang dipersepsikan melalui pancaindera dan indera pikiran) adalah kosong dari diri (atta) dan apa yang menjadi milik diri (attaniyena).
Penggunaan istilah “suñña” di sini bersifat filosofis dalam maknanya dan menunjukkan ciri paling awal dari pandangan Buddhis awal tentang dunia bahwa tidak ada yang independen, berdiri sendiri, ada dengan sendirinya, tidak memiliki sebab, dan kekal selamanya. Ini sepenuhnya berbeda dengan filosofi Brahmanisme yang paling kuat pada masa itu, yaitu Upanisad yang mengajarkan bahwa terdapat sebab metafisik yang tidak disebabkan (yang disebut Brahman), yang bermanifestasi sebagai diri (atman) dalam semua makhluk.
Pengggunaan istilah “suñña” dalam makna filosofis juga ditemukan dalam Mogharajamanavapuccha dari Suttanipata (Snp 5.16). Dalam sutta ini disebutkan percakapan antara Mogharaja dan Sang Buddha di mana Mogharaja bertanya: “Bagaimanakah seseorang harus memandang dunia ini agar raja kematian tidak melihatnya?” Dengan kata lain, ini adalah pertanyaan bagaimana seharusnya pandangan seseorang tentang dunia agar ia dapat bebas dari lingkaran kelahiran kembali (samsara). Jawaban Sang Buddha adalah: “Dengan selalu penuh perhatian (sati) dan melihat dunia sebagai kosong, setelah mencabut akar-akar pandangan tentang diri – demikianlah seseorang seharusnya melampaui kematian; ia yang melihat dunia dengan cara ini, raja kematian tidak dapat melihatnya.”
Dalam sutta ini Sang Buddha menggunakan istilah “suñña” untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang substansial dalam segala hal di dunia ini. Seluruh dunia kosong dari segala jenis entitas kekal apa pun. Pandangan eternalis (sassatavada) bahwa ada sesuatu yang kekal di dunia ini yang membuat seseorang terlibat dalam semua masalah kehidupan (dukkha). Oleh sebab itu, untuk bebas dari keadaan ini seseorang harus mengambil pandangan benar bahwa dunia ini adalah kosong (suñña) dari substansi/esensi yang kekal demikian. Oleh sebab itu, lebih lanjut Sang Buddha mengatakan agar seseorang seharusnya melepaskan pandangan (ditthi) tentang diri (atta).
Dengan demikian, konsep kekosongan (sunyata/sunya) dalam Buddhisme awal tak lain merupakan makna filosofis dari konsep anatta yang telah diajarkan Sang Buddha sejak awal karir pengajarannya.
Kekosongan sebagai Pencapaian Meditatif
Konsep kekosongan sebagai pencapaian meditatif, yaitu kosong dari pencapaian meditatif/konsentrasi yang lebih kasar menuju pencapaian meditatif yang lebih halus/mendalam, disebutkan dalam MN 121 Culasunnata Sutta dikatakan Sang Buddha sering berdiam dalam kekosongan (sunnatavihara), yang dilakukan dengan tahapan meditasi sbb:
1) dengan tidak memperhatikan persepsi desa, tidak memperhatikan persepsi orang-orang – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi hutan. Pikirannya memasuki persepsi hutan itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi desa; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi orang-orang. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi hutan.’
2) dengan tidak memperhatikan persepsi orang-orang, tidak memperhatikan persepsi hutan – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi tanah. Pikirannya memasuki persepsi tanah itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi orang-orang; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi hutan. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi tanah.’
3) dengan tidak memperhatikan persepsi hutan, tidak memperhatikan persepsi tanah – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi landasan ruang tanpa batas. Pikirannya memasuki persepsi landasan ruang tanpa batas itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi hutan; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi tanah. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi landasan ruang tanpa batas.’
4) dengan tidak memperhatikan persepsi tanah, tidak memperhatikan persepsi landasan ruang tanpa batas – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi landasan kesadaran tanpa batas. Pikirannya memasuki persepsi landasan kesadaran tanpa batas itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi tanah; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan ruang tanpa batas. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi landasan kesadaran tanpa batas.’
5) dengan tidak memperhatikan persepsi landasan ruang tanpa batas, tidak memperhatikan persepsi landasan kesadaran tanpa batas – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi landasan kekosongan. Pikirannya memasuki persepsi landasan kekosongan itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan ruang tanpa batas; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan kesadaran tanpa batas. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi landasan kekosongan.’
6) dengan tidak memperhatikan persepsi landasan kesadaran tanpa batas, tidak memperhatikan persepsi landasan kekosongan – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Pikirannya memasuki persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan kesadaran tanpa batas; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan kekosongan. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.’
7) dengan tidak memperhatikan persepsi landasan kekosongan, tidak memperhatikan persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada konsentrasi pikiran tanpa gambaran. Pikirannya memasuki konsentrasi pikiran tanpa gambaran itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan kekosongan; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, yang berhubungan dengan enam landasan yang bergantung pada jasmani dan dikondisikan oleh kehidupan.’
Ia memahami: ‘Konsentrasi pikiran tanpa gambaran ini adalah terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak. Tetapi apapun juga yang terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk pada lenyapnya.’ Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Demikianlah melalui tahapan meditasi kekosongan ini, seorang bhikkhu mencapai pembebasan dari noda-noda kekotoran batin (Nibbana).
Pada tahap no. 3–6 adalah pancapaian meditatif yang disebut landasan tanpa bentuk (arupayatana) atau dikenal sebagai arupajhana. Walaupun jika kita hanya membaca teks sutta MN 121 pencapaian arupajhana di atas dilakukan tanpa melalui pancapaian jhana biasa (rupajhana) terlebih dahulu, sedangkan menurut teks komentar (kitab penjelasan/tafsir) pada tahap no. 2 meditasi dengan memperhatikan persepsi tanah merupakan objek kasina (unsur) tanah yang membawa pada pencapaian (rupa)jhana I s/d IV, kemudian barulah sang meditator bisa melanjutkan ke tahap no. 3.
Pada tahap terakhir, pencapaian konsentrasi tanpa gambaran (animitta-cetosamadhi), istilah “animitta cetosamadhi” tidak ada penjelasan teknisnya secara detail dalam sutta-sutta Nikaya Pali, kecuali dalam MN 43 bahwa kebebasan pikiran tanpa gambaran (animitta cetovimutti) yang dihasilkan dari konsentrasi pikiran tanpa gambaran adalah serupa tetapi tidak sama dengan kebebasan pikiran tanpa batas (appamāṇā cetovimutti), kebebasan pikiran melalui ketiadaan/kekosongan (ākiñcaññā cetovimutti), kebebasan pikiran melalui kekosongan/kehampaan (suññatā cetovimutti). Dalam MN 43 kebebasan pikiran melalui kehampaan/kekosongan didefinisikan sebagai:
“Dan apakah, teman, kebebasan pikiran melalui kehampaan [kekosongan] ? Di sini seorang bhikkhu, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, merenungkan sebagai berikut: ‘Ini hampa [kosong] dari diri atau apa yang menjadi milik diri.’ Ini disebut kebebasan pikiran melalui kehampaan.
Di sini jelas bahwa filosofi kekosongan (kosong dari diri = anatta) dapat dijadikan bahan perenungan atau objek meditasi yang membawa pada pencapaian meditatif yang membawa pada pembebasan/pencerahan. Inilah penembusan kekosongan yang sebenarnya.
Sedangkan teks Samyukta Agama (padanan Samyutta Nikaya/SN dari aliran Sarvastivada) sutra ke-80 (SA 80) menjelaskan konsentrasi pikiran melalui kekosongan dan melalui tanpa tanda/gambaran sbb:
“Seumpamanya seorang bhikkhu duduk di sebuah tempat kosong pada akar sebuah pohon dan dengan baik merenungkan bentuk jasmani sebagai tidak kekal, bersifat menjadi usang dan memudar. Dengan cara yang sama ia menyelidiki perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sebagai tidak kekal, bersifat menjadi usang dan memudar. Dengan menyelidiki kelompok-kelompok unsur kehidupan itu sebagai tidak kekal, bersifat menjadi usang, tidak stabil, dan berubah-ubah, pikirannya menjadi gembira, dimurnikan, dan terbebaskan. Ini disebut [konsentrasi pikiran melalui] kekosongan.
[….]
“Selanjutnya terdapat suatu perhatian dengan benar pada konsentrasi dengan merenungkan ditinggalkannya tanda [gambaran] (nimitta) bentuk, ditinggalkannya tanda [gambaran] suara, bebauan, rasa, sentuhan, dan objek-objek pikiran. Ini disebut [konsentrasi pikiran] ketanpa-tandaan [tanpa gambaran].
Dari kutipan di atas tampak bahwa meditasi kekosongan tidak mesti merenungkan “ini kosong dari diri” atau “ini kosong dari [pencapaian meditatif yang lebih kasar]”, melainkan juga melalui perenungan ketidakkekalan unsur-unsur kehidupan. Sedangkan konsentrasi pikiran tanpa gambaran (animitta cetosamadhi) yang dicapai dalam tahap terakhir dari 7 tahap meditasi kekosongan menurut MN 121 di atas merupakan konsentrasi dari perenungan ditinggalkannya gambaran/tanda (ciri-ciri) objek-objek indria (dari bentuk sampai objek pikiran) [tanpa gambaran ini adalah atribut yang tidak berkondisi (asankhata = Nibbana)]. Dalam konsentrasi ini kontak/tanggapan (phassa) indria dengan objeknya terhenti sementara, mendekati keadaan konsentrasi pencapaian lenyapnya (nirodha-samapatti)/lenyapnya perasaan dan persepsi (saññā-vedayita-nirodha), tetapi tidak ada indikasi dalam teks-teks awal bahwa keduanya adalah sama.
Jadi, dalam Buddhisme awal konsep kekosongan merupakan filosofi (teori) tentang realitas dunia yang tanpa substansi/esensi (bukan diri = anatta), yang seharusnya ditembus (direalisasikan) melalui meditasi untuk mencapai pandangan benar dan pencerahan sempurna.
