Wiki DhammaCitta

Buddhisme Indonesia

Alat Pengguna

Alat Situs


sunyata

Perbedaan

Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.

Tautan ke tampilan pembanding ini

Kedua sisi revisi sebelumnyaRevisi sebelumnya
Revisi selanjutnya
Revisi sebelumnya
sunyata [2025/12/06 06:49] seniyasunyata [2025/12/06 06:59] (sekarang) – [Filosofi Kekosongan dalam Mahayana] seniya
Baris 80: Baris 80:
  
 Berdasarkan Abhidhamma, dhamma memiliki karakteristik sendiri atau sifat intrinstik (sabhava/svabhava) yang membedakan secara unik satu dhamma dari yang lainnya. Istilah "sabhava" (Pali) atau "svabhava" (Sanskrit) tidak ditemukan dalam teks Nikaya dan Agama dari Buddhisme awal, tetapi didefinisikan dalam teks-teks Abhidhamma/Abhidharma dan komentar/penjelasan/tafsir dari berbagai aliran yang muncul kemudian. Misalnya, dalam Abhidharma Sarvastivada dikatakan rupa (bentuk jasmani) merupakan dharma karena ia memiliki karakteristik khusus (svalaksana = svabhava) seperti resistensi (sapratighatva) dan visibilitas (sanidarśanatva) yang selalu dipertahankan (selalu ada/tidak berubah); vedana (perasaan) disebut dharma karena ia memiliki karakteristik khusus mengalami/merasakan (anubhava), dst. Berdasarkan Abhidhamma, dhamma memiliki karakteristik sendiri atau sifat intrinstik (sabhava/svabhava) yang membedakan secara unik satu dhamma dari yang lainnya. Istilah "sabhava" (Pali) atau "svabhava" (Sanskrit) tidak ditemukan dalam teks Nikaya dan Agama dari Buddhisme awal, tetapi didefinisikan dalam teks-teks Abhidhamma/Abhidharma dan komentar/penjelasan/tafsir dari berbagai aliran yang muncul kemudian. Misalnya, dalam Abhidharma Sarvastivada dikatakan rupa (bentuk jasmani) merupakan dharma karena ia memiliki karakteristik khusus (svalaksana = svabhava) seperti resistensi (sapratighatva) dan visibilitas (sanidarśanatva) yang selalu dipertahankan (selalu ada/tidak berubah); vedana (perasaan) disebut dharma karena ia memiliki karakteristik khusus mengalami/merasakan (anubhava), dst.
 +
 +==== Abhidharma Sarvastivada dan Para Penentangnya ====
 +
 +Ajaran utama aliran Sarvastivada adalah doktrin "semuanya ada" (sarvam asti) yang menyatakan semua fenomena (dharma) ada/eksis dalam tiga periode waktu (masa lampau, masa sekarang, dan masa depan). Oleh sebab itu, menurut Abhidharma Sarvastivada, sifat intrinsik (svabhava) suatu fenomena tidak berubah selama tiga periode waktu. Walaupun seperti aliran Buddhis lainnya, Sarvastivada menyatakan bahwa semua fenomena berkondisi (samkrta-dharma = samskara) adalah tidak kekal, namun sifat intrinsik semua fenomena tidak dipengaruhi oleh waktu dan merupakan entitas yang nyata (dravya). Hal ini diibaratkan seperti emas yang berubah bentuk menjadi perhiasan, mangkuk, dst, entitas/sifat intrinsik emas tersebut tidak berubah walaupun mengalami perubahan bentuk. Konsep svabhava inilah yang ditentang banyak aliran lainnya karena seakan-akan menyatakan adanya suatu inti/esensi atau substansi yang kekal dalam fenomena sehingga bertentangan ajaran bukan diri (anatta/anatman).
 +
 +Para penentang doktrin Sarvastivada mulai dari aliran **Vibhajjavada/Vibhajyavada** (ajaran analisis) yang merupakan cikal bakal aliran Theravada saat ini. Mereka menolak doktrin "semua ada" dan menyatakan hanya fenomena masa sekarang dan masa lampau yang belum memberikan akibatnya yang ada/eksis, bukan fenomena masa lampau yang telah memberikan akibatnya dan fenomena masa depan. Kemudian dari golongan Sarvastivada sendiri ada yang menolak otoritas Abhidharma Sarvastivada dan hanya mengakui ajaran-ajaran yang terdapat dalam sutra/sutta, yaitu aliran **Sautrantika atau Darstantika**, yang menolak konsep svabhava yang eksis dalam tiga periode waktu dan menyatakan fenomena (dharma) hanya muncul, bertahan sebentar, dan lenyap untuk kemudian muncul, bertahan sebentar, dan lenyap lagi pada momen saat ini (ksanikavada/khanikavada = doktrin tentang "momen"/doctrine of momentariness).
 +
 +==== Filosofi Kekosongan dalam Mahayana ====
 +
 +Filosofi Mahayana berkembang dengan munculnya kumpulan teks sutra Mahayana awal berjudul Prajnaparamita Sutra yang menitikberatkan pada praktik kebijaksanan sempurna Bodhisattva (prajna paramita). Ada pun kebijaksanaan sempurna ini berasal dari pemahaman kekosongan semua fenomena bahwa sifat intrinsik semua fenomena adalah kosong (sunyata svabhava) sehingga fenomena (dharma) [yang dianggap sebagai entitas nyata oleh Sarvastivada] hanyalah konstruksi konseptual. Oleh sebab itu, dalam **Prajnaparamita Hrdaya Sutra** atau dikenal sebagai Sutra Hati (Heart Sutra) yang populer dalam Mahayana saat ini dikatakan:
 +
 +> Bentuk jasmani (rupa) adalah kekosongan (sunyata), kekosongan adalah bentuk jasmani.
 +> Kekosongan tidak berbeda dari bentuk jasmani, bentuk jasmani tidak berbeda dari kekosongan.
 +> Apa pun bentuk jasmani adalah kekosongan, apa pun kekosongan adalah bentuk jasmani.
 +> Demikian juga halnya untuk perasaan (vedana), persepsi (samjna), bentukan pikiran (samskara), dan kesadaran (vijnana).
 +
 +Dengan demikian, filosofi kekosongan dalam Mahayana secara umum merupakan reaksi terhadap perkembangan Abhidharma dari aliran-aliran Buddhisme India dan secara khusus membantah konsep svabhava dari aliran Sarvastivada. [Perlu diperhatikan di sini bahwa aliran Theravada tidak pernah dirujuk secara khusus sebagai rival Mahayanis saat itu karena Theravada berkembang di Sri Lanka sehingga istilah Hinayana sebagai lawan dari Mahayana hanya ditujukan kepada aliran-aliran Buddhisme awal di India seperti Sarvastivada, Sautrantika, Mahasanghika, dst.]
 +
 +Pada abad kedua Masehi pemikir Mahayana bernama Nagarjuga mengembangkan lebih lanjut konsep kekosongan ini dengan mencetuskan filosofi **Madhyamika/Madhyamaka** (pengikut jalan tengah) atau **Sunyatavada** (doktrin kekosongan). Dalam karyanya berjudul Mulamadhyamakakarika, Nagarjuna menulis:
 +
 +> Apa pun yang muncul bergantungan,
 +> Itulah yang disebut kekosongan.
 +> Hal itu, yang adalah penyebutan bergantungan,
 +> Ia sendiri adalah jalan tengah.
 +>
 +> Sesuatu yang tidak muncul bergantungan,
 +> Hal demikian tidaklah ada.
 +> Oleh sebab itu hal yang tidak kosong
 +> Adalah tidak ada.
 +
 +Di sini Nagarjuna menyamakan kekosongan (sunyata) dengan **kemunculan kebergantungan** (pratityasamutpada/paticcasamuppada) yang merupakan konsep sebab akibat dalam ajaran Buddha tentang muncul dan lenyapnya fenomena jasmani dan batin yang saling bergantungan. Kemunculan bergantungan atau kekosongan ini juga merupakan jalan tengah dari pandangan substansialis/eternalis (sassatavada) dan nihilisme (ucchedavada). Dengan demikian, segala sesuatu kosong karena semua fenomena saling bergantungan, tidak dapat berdiri sendiri, dan tidak dapat terlepas dari yang lainnya. Sesuatu yang independen, berdiri sendiri, dan terpisah dari fenomena apa pun adalah sesuatu yang tidak ada.
 +
 +Sebenarnya konsep kemunculan bergantungan sebagai kekosongan dan jalan tengah bukanlah inovasi baru Nagarjuna, melainkan telah ada dalam teks Samyukta Agama dari aliran Sarvastivada, yaitu SA 297 (paralel dari SN 12.35) dan SA 335 (tiada paralel Pali), di mana Sang Buddha mengatakan makna kekosongan sebagai kemunculan bergantungan yang dirumuskan sebagai berikut:
 +
 +> … //ketika ini ada, itu ada; dengan munculnya ini, itu muncul.//
 +>
 +> Yaitu, dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, bentukan muncul; dengan bentukan sebagai kondisi, kesadaran muncul; dengan kesadaran sebagai kondisi, nama-dan-bentuk muncul; dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi, enam landasan indera muncul; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, kontak muncul; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan muncul; dengan perasaan sebagai kondisi, ketagihan muncul; dengan ketagihan sebagai kondisi, kemelekatan muncul; dengan kemelekatan sebagai kondisi, penjelmaan muncul; dengan penjelmaan sebagai kondisi, kelahiran muncul; dengan kelahiran sebagai kondisi, penuaan dan kematian, dukacita, ratap tangis, kesakitan, kesedihan dan keputusasaan muncul. Demikianlah munculnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.
 +
 +Dan lawan dari kemunculan bergantungan ini (disebut kelenyapan bergantungan) adalah kebalikannya, yaitu //ketika tiada ini, maka tiada itu; dengan lenyapnya ini, maka lenyaplah itu//: dengan lenyapnya ketidaktahuan, maka bentukan lenyap; ... dengan lenyapnya kelahiran, maka penuaan dan kematian, dukacita, ratap tangis, kesakitan, kesedihan dan keputusasaan lenyap).
 +
 +Konsep kemunculan bergantungan sebagai jalan tengah terhadap pandangan dualitas (eternalisme dan nihilisme) juga terdapat dalam SN 12.15 di mana Sang Buddha berkata:
 +
 +> “‘//Semua ada’ (sabbam atthī)// : Kaccāna, ini adalah satu ekstrim. ‘//Semua tidak ada (sabbaṁ natthī)//’: ini adalah ekstrim ke dua. Tanpa berbelok ke arah salah satu dari ekstrim-ekstrim ini, Sang Tathāgata mengajarkan Dhamma di tengah: ‘Dengan ketidak-tahuan sebagai kondisi, bentukan-bentukan kehendak [muncul]; dengan bentukan-bentukan kehendak sebagai kondisi, kesadaran … Demikianlah asal-mula dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini. Tetapi dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidaktahuan, maka lenyap pula bentukan-bentukan kehendak; dengan lenyapnya bentukan-bentukan kehendak, maka lenyap pula kesadaran … Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.”
 +
 +Dalam Buddhisme awal kutipan ini menyatakan bahwa Sang Buddha menghindari pandangan eternalisme ("semua ada") dari Brahmanisme saat itu (yaitu doktrin atman dan Brahman) dan pandangan nihilisme ("semua tidak ada") dari aliran-aliran Sramana yang menyatakan setelah kematian semuanya lenyap (seperti yang diajarkan oleh Ajita Kesambali). Namun Nagarjuna mengutip sutta ini (dalam paralelnya berbahasa Sanskrit) untuk membantah pandangan substansialisme/esensialisme atau eksistensialisme ("semua ada") dari doktrin svabhava dalam Sarvastivada di atas dan aliran Buddhis lainnya seperti Pudgalavada yang menyatakan adanya diri (pudgala) yang bukan sama dan bukan tidak sama dengan lima skandha serta pandangan non-eksistensialisme ("semua tidak ada") [abhava = tiada sesuatu apa pun sama sekali]. Demikianlah Nagarjuna memperluas ajaran kemunculan bergantungan dari Sang Buddha yang awalnya untuk menyanggah pandangan diri (atman & Brahman) dan lawan/antitesisnya menjadi sanggahan terhadap pandangan eksistensialisme dan antitesisnya
 +
 +Menurut Mahayana, konsep kekosongan dalam Buddhisme awal yang tak lain sama dengan konsep bukan diri/anatta (yang dibahas pada bagian pertama di atas) disebut **pudgala-nairatmya** (ketiadaan esensi atau kekosongan dalam diri/personalitas) dan konsep kekosongan dalam Mahayana yang sama sekali menolak eksistensi dalam fenomena (dharma) apa pun disebut **dharma-nairatmya** (ketiadan esensi atau kekosongan dalam fenomena). Dalam Mahayana, keduanya mutlak diperlukan untuk mencapai pencerahan sempurna yang tiada bandingnya sebagai seorang Buddha yang sempurna (Samma/Samyak Sambuddha) karena jika hanya memahami yang pertama saja tanpa pemahaman mendalam atas yang kedua, maka seseorang hanya dapat mencapai pencerahan sebagai seorang Arahant yang lebih terbatas pengetahuan dan kemampuan spiritualnya dibandingkan dengan seorang Buddha.
 +
 +Dengan demikian, untuk memahami konsep kekosongan dalam Buddhisme diperlukan pemahaman secara komprehensif dari konsep awalnya, konsep Abhidharma yang melahirkannya, sampai konsep kekosongan tertinggi dalam Mahayana
sunyata.1765003766.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya