sunyata
Perbedaan
Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.
| Kedua sisi revisi sebelumnyaRevisi sebelumnyaRevisi selanjutnya | Revisi sebelumnya | ||
| sunyata [2025/12/06 06:49] – seniya | sunyata [2025/12/06 06:59] (sekarang) – [Filosofi Kekosongan dalam Mahayana] seniya | ||
|---|---|---|---|
| Baris 80: | Baris 80: | ||
| Berdasarkan Abhidhamma, dhamma memiliki karakteristik sendiri atau sifat intrinstik (sabhava/ | Berdasarkan Abhidhamma, dhamma memiliki karakteristik sendiri atau sifat intrinstik (sabhava/ | ||
| + | |||
| + | ==== Abhidharma Sarvastivada dan Para Penentangnya ==== | ||
| + | |||
| + | Ajaran utama aliran Sarvastivada adalah doktrin " | ||
| + | |||
| + | Para penentang doktrin Sarvastivada mulai dari aliran **Vibhajjavada/ | ||
| + | |||
| + | ==== Filosofi Kekosongan dalam Mahayana ==== | ||
| + | |||
| + | Filosofi Mahayana berkembang dengan munculnya kumpulan teks sutra Mahayana awal berjudul Prajnaparamita Sutra yang menitikberatkan pada praktik kebijaksanan sempurna Bodhisattva (prajna paramita). Ada pun kebijaksanaan sempurna ini berasal dari pemahaman kekosongan semua fenomena bahwa sifat intrinsik semua fenomena adalah kosong (sunyata svabhava) sehingga fenomena (dharma) [yang dianggap sebagai entitas nyata oleh Sarvastivada] hanyalah konstruksi konseptual. Oleh sebab itu, dalam **Prajnaparamita Hrdaya Sutra** atau dikenal sebagai Sutra Hati (Heart Sutra) yang populer dalam Mahayana saat ini dikatakan: | ||
| + | |||
| + | > Bentuk jasmani (rupa) adalah kekosongan (sunyata), kekosongan adalah bentuk jasmani. | ||
| + | > Kekosongan tidak berbeda dari bentuk jasmani, bentuk jasmani tidak berbeda dari kekosongan. | ||
| + | > Apa pun bentuk jasmani adalah kekosongan, apa pun kekosongan adalah bentuk jasmani. | ||
| + | > Demikian juga halnya untuk perasaan (vedana), persepsi (samjna), bentukan pikiran (samskara), dan kesadaran (vijnana). | ||
| + | |||
| + | Dengan demikian, filosofi kekosongan dalam Mahayana secara umum merupakan reaksi terhadap perkembangan Abhidharma dari aliran-aliran Buddhisme India dan secara khusus membantah konsep svabhava dari aliran Sarvastivada. [Perlu diperhatikan di sini bahwa aliran Theravada tidak pernah dirujuk secara khusus sebagai rival Mahayanis saat itu karena Theravada berkembang di Sri Lanka sehingga istilah Hinayana sebagai lawan dari Mahayana hanya ditujukan kepada aliran-aliran Buddhisme awal di India seperti Sarvastivada, | ||
| + | |||
| + | Pada abad kedua Masehi pemikir Mahayana bernama Nagarjuga mengembangkan lebih lanjut konsep kekosongan ini dengan mencetuskan filosofi **Madhyamika/ | ||
| + | |||
| + | > Apa pun yang muncul bergantungan, | ||
| + | > Itulah yang disebut kekosongan. | ||
| + | > Hal itu, yang adalah penyebutan bergantungan, | ||
| + | > Ia sendiri adalah jalan tengah. | ||
| + | > | ||
| + | > Sesuatu yang tidak muncul bergantungan, | ||
| + | > Hal demikian tidaklah ada. | ||
| + | > Oleh sebab itu hal yang tidak kosong | ||
| + | > Adalah tidak ada. | ||
| + | |||
| + | Di sini Nagarjuna menyamakan kekosongan (sunyata) dengan **kemunculan kebergantungan** (pratityasamutpada/ | ||
| + | |||
| + | Sebenarnya konsep kemunculan bergantungan sebagai kekosongan dan jalan tengah bukanlah inovasi baru Nagarjuna, melainkan telah ada dalam teks Samyukta Agama dari aliran Sarvastivada, | ||
| + | |||
| + | > … //ketika ini ada, itu ada; dengan munculnya ini, itu muncul.// | ||
| + | > | ||
| + | > Yaitu, dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, bentukan muncul; dengan bentukan sebagai kondisi, kesadaran muncul; dengan kesadaran sebagai kondisi, nama-dan-bentuk muncul; dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi, enam landasan indera muncul; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, kontak muncul; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan muncul; dengan perasaan sebagai kondisi, ketagihan muncul; dengan ketagihan sebagai kondisi, kemelekatan muncul; dengan kemelekatan sebagai kondisi, penjelmaan muncul; dengan penjelmaan sebagai kondisi, kelahiran muncul; dengan kelahiran sebagai kondisi, penuaan dan kematian, dukacita, ratap tangis, kesakitan, kesedihan dan keputusasaan muncul. Demikianlah munculnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini. | ||
| + | |||
| + | Dan lawan dari kemunculan bergantungan ini (disebut kelenyapan bergantungan) adalah kebalikannya, | ||
| + | |||
| + | Konsep kemunculan bergantungan sebagai jalan tengah terhadap pandangan dualitas (eternalisme dan nihilisme) juga terdapat dalam SN 12.15 di mana Sang Buddha berkata: | ||
| + | |||
| + | > “‘// | ||
| + | |||
| + | Dalam Buddhisme awal kutipan ini menyatakan bahwa Sang Buddha menghindari pandangan eternalisme (" | ||
| + | |||
| + | Menurut Mahayana, konsep kekosongan dalam Buddhisme awal yang tak lain sama dengan konsep bukan diri/anatta (yang dibahas pada bagian pertama di atas) disebut **pudgala-nairatmya** (ketiadaan esensi atau kekosongan dalam diri/ | ||
| + | |||
| + | Dengan demikian, untuk memahami konsep kekosongan dalam Buddhisme diperlukan pemahaman secara komprehensif dari konsep awalnya, konsep Abhidharma yang melahirkannya, | ||
sunyata.1765003766.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya
