sunyata
Perbedaan
Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.
| Kedua sisi revisi sebelumnyaRevisi sebelumnyaRevisi selanjutnya | Revisi sebelumnya | ||
| sunyata [2025/12/06 06:38] – seniya | sunyata [2025/12/06 06:59] (sekarang) – [Filosofi Kekosongan dalam Mahayana] seniya | ||
|---|---|---|---|
| Baris 47: | Baris 47: | ||
| Ia memahami: ‘Konsentrasi pikiran tanpa gambaran ini adalah terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak. Tetapi apapun juga yang terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk pada lenyapnya.’ Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Demikianlah melalui tahapan meditasi kekosongan ini, seorang bhikkhu mencapai pembebasan dari noda-noda kekotoran batin (Nibbana). | Ia memahami: ‘Konsentrasi pikiran tanpa gambaran ini adalah terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak. Tetapi apapun juga yang terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk pada lenyapnya.’ Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Demikianlah melalui tahapan meditasi kekosongan ini, seorang bhikkhu mencapai pembebasan dari noda-noda kekotoran batin (Nibbana). | ||
| - | Pada tahap no. 3–6 adalah pancapaian meditatif yang disebut landasan tanpa bentuk (arupayatana) atau dikenal sebagai arupajhana. Walaupun jika kita hanya membaca teks sutta MN 121 seakan-akan | + | Pada tahap no. 3–6 adalah pancapaian meditatif yang disebut landasan tanpa bentuk (arupayatana) atau dikenal sebagai arupajhana. Walaupun jika kita hanya membaca teks sutta MN 121 pencapaian arupajhana di atas dilakukan tanpa melalui pancapaian jhana biasa (rupajhana) terlebih dahulu, |
| - | Pada tahap terakhir, pencapaian konsentrasi tanpa gambaran (animitta-cetosamadhi), | + | Pada tahap terakhir, pencapaian konsentrasi tanpa gambaran (animitta-cetosamadhi), |
| - | | + | > “Dan apakah, teman, kebebasan pikiran melalui kehampaan [kekosongan] ? Di sini seorang bhikkhu, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, merenungkan sebagai berikut: ‘Ini hampa [kosong] dari diri atau apa yang menjadi milik diri.’ Ini disebut kebebasan pikiran melalui kehampaan. |
| Di sini jelas bahwa filosofi kekosongan (kosong dari diri = anatta) dapat dijadikan bahan perenungan atau objek meditasi yang membawa pada pencapaian meditatif yang membawa pada pembebasan/ | Di sini jelas bahwa filosofi kekosongan (kosong dari diri = anatta) dapat dijadikan bahan perenungan atau objek meditasi yang membawa pada pencapaian meditatif yang membawa pada pembebasan/ | ||
| Baris 57: | Baris 57: | ||
| Sedangkan teks Samyukta Agama (padanan Samyutta Nikaya/SN dari aliran Sarvastivada) sutra ke-80 (SA 80) menjelaskan konsentrasi pikiran melalui kekosongan dan melalui tanpa tanda/ | Sedangkan teks Samyukta Agama (padanan Samyutta Nikaya/SN dari aliran Sarvastivada) sutra ke-80 (SA 80) menjelaskan konsentrasi pikiran melalui kekosongan dan melalui tanpa tanda/ | ||
| - | | + | > “Seumpamanya seorang bhikkhu duduk di sebuah tempat kosong pada akar sebuah pohon dan dengan baik merenungkan bentuk jasmani sebagai tidak kekal, bersifat menjadi usang dan memudar. Dengan cara yang sama ia menyelidiki perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sebagai tidak kekal, bersifat menjadi usang dan memudar. Dengan menyelidiki kelompok-kelompok unsur kehidupan itu sebagai tidak kekal, bersifat menjadi usang, tidak stabil, dan berubah-ubah, |
| + | > | ||
| + | > | ||
| + | > | ||
| + | > “Selanjutnya terdapat suatu perhatian dengan benar pada konsentrasi dengan merenungkan ditinggalkannya tanda [gambaran] (nimitta) bentuk, ditinggalkannya tanda [gambaran] suara, bebauan, rasa, sentuhan, dan objek-objek pikiran. Ini disebut [konsentrasi pikiran] ketanpa-tandaan [tanpa gambaran]. | ||
| - | | + | Dari kutipan di atas tampak bahwa meditasi kekosongan tidak mesti merenungkan "ini kosong dari diri" atau "ini kosong dari [pencapaian meditatif yang lebih kasar]", |
| - | “Selanjutnya terdapat suatu perhatian dengan benar pada konsentrasi dengan merenungkan ditinggalkannya tanda [gambaran] | + | Jadi, dalam Buddhisme awal konsep kekosongan merupakan filosofi |
| - | Dari kutipan di atas tampak bahwa meditasi kekosongan tidak mesti merenungkan "ini kosong dari diri" atau "ini kosong dari [pencapaian meditatif yang lebih kasar]" | + | ===== Konsep Kekosongan |
| - | Jadi, dalam Buddhisme awal konsep kekosongan merupakan filosofi (teori) tentang | + | Walaupun masa Buddhisme awal telah mengenal konsep kekosongan seperti yang dijelaskan di atas, namun istilah " |
| + | |||
| + | ==== Abhidharma sebagai Latar Belakang Munculnya Konsep Kekosongan Mahayana ==== | ||
| + | |||
| + | Secara historis, munculnya filosofi Sunyata dalam Mahayana merupakan reaksi terhadap konsep **Svabhava** dari Abhidharma aliran Sarvastivada. Abhidharma/ | ||
| + | |||
| + | Secara umum, masing-masing aliran Buddhis awal mengembangkan versi Abhidharma masing-masing sebagai penafsiran terhadap ajaran Buddha dalam teks-teks awal (Nikaya dan Agama) yang berbeda satu sama lainnya. Namun terdapat juga aliran-aliran yang menolak Abhidharma sebagai Buddhavacana, | ||
| + | |||
| + | Dalam Abhidharma/ | ||
| + | |||
| + | Berdasarkan Abhidhamma, dhamma memiliki karakteristik sendiri atau sifat intrinstik (sabhava/ | ||
| + | |||
| + | ==== Abhidharma Sarvastivada dan Para Penentangnya ==== | ||
| + | |||
| + | Ajaran utama aliran Sarvastivada adalah doktrin " | ||
| + | |||
| + | Para penentang doktrin Sarvastivada mulai dari aliran **Vibhajjavada/ | ||
| + | |||
| + | ==== Filosofi Kekosongan dalam Mahayana ==== | ||
| + | |||
| + | Filosofi Mahayana berkembang dengan munculnya kumpulan teks sutra Mahayana awal berjudul Prajnaparamita Sutra yang menitikberatkan pada praktik kebijaksanan sempurna Bodhisattva (prajna paramita). Ada pun kebijaksanaan sempurna ini berasal dari pemahaman | ||
| + | |||
| + | > Bentuk jasmani (rupa) adalah kekosongan (sunyata), kekosongan adalah bentuk jasmani. | ||
| + | > Kekosongan tidak berbeda dari bentuk jasmani, bentuk jasmani tidak berbeda dari kekosongan. | ||
| + | > Apa pun bentuk jasmani adalah kekosongan, apa pun kekosongan adalah bentuk jasmani. | ||
| + | > Demikian juga halnya untuk perasaan (vedana), persepsi (samjna), bentukan pikiran (samskara), dan kesadaran (vijnana). | ||
| + | |||
| + | Dengan demikian, filosofi kekosongan dalam Mahayana secara umum merupakan | ||
| + | |||
| + | Pada abad kedua Masehi pemikir Mahayana bernama Nagarjuga mengembangkan lebih lanjut konsep kekosongan ini dengan mencetuskan | ||
| + | |||
| + | > Apa pun yang muncul bergantungan, | ||
| + | > Itulah yang disebut kekosongan. | ||
| + | > Hal itu, yang adalah penyebutan bergantungan, | ||
| + | > Ia sendiri adalah jalan tengah. | ||
| + | > | ||
| + | > Sesuatu yang tidak muncul bergantungan, | ||
| + | > Hal demikian tidaklah ada. | ||
| + | > Oleh sebab itu hal yang tidak kosong | ||
| + | > Adalah tidak ada. | ||
| + | |||
| + | Di sini Nagarjuna menyamakan kekosongan (sunyata) dengan **kemunculan kebergantungan** (pratityasamutpada/ | ||
| + | |||
| + | Sebenarnya konsep kemunculan bergantungan sebagai kekosongan dan jalan tengah bukanlah inovasi baru Nagarjuna, melainkan telah ada dalam teks Samyukta Agama dari aliran Sarvastivada, | ||
| + | |||
| + | > … //ketika ini ada, itu ada; dengan munculnya ini, itu muncul.// | ||
| + | > | ||
| + | > Yaitu, dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, bentukan muncul; dengan bentukan sebagai kondisi, kesadaran muncul; dengan kesadaran sebagai kondisi, nama-dan-bentuk muncul; dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi, enam landasan indera muncul; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, kontak muncul; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan muncul; dengan perasaan sebagai kondisi, ketagihan muncul; dengan ketagihan sebagai kondisi, kemelekatan muncul; dengan kemelekatan sebagai kondisi, penjelmaan muncul; dengan penjelmaan sebagai kondisi, kelahiran muncul; dengan kelahiran sebagai kondisi, penuaan dan kematian, dukacita, ratap tangis, kesakitan, kesedihan dan keputusasaan muncul. Demikianlah munculnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini. | ||
| + | |||
| + | Dan lawan dari kemunculan bergantungan ini (disebut kelenyapan bergantungan) adalah kebalikannya, | ||
| + | |||
| + | Konsep kemunculan bergantungan sebagai jalan tengah terhadap pandangan dualitas (eternalisme dan nihilisme) juga terdapat dalam SN 12.15 di mana Sang Buddha berkata: | ||
| + | |||
| + | > “‘// | ||
| + | |||
| + | Dalam Buddhisme awal kutipan ini menyatakan bahwa Sang Buddha menghindari pandangan eternalisme (" | ||
| + | |||
| + | Menurut Mahayana, konsep kekosongan dalam Buddhisme awal yang tak lain sama dengan konsep bukan diri/ | ||
| + | |||
| + | Dengan demikian, untuk memahami konsep kekosongan dalam Buddhisme diperlukan pemahaman secara komprehensif dari konsep awalnya, konsep Abhidharma yang melahirkannya, | ||
sunyata.1765003131.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya
