Wiki DhammaCitta

Buddhisme Indonesia

Alat Pengguna

Alat Situs


sejarah_buddhisme

Perbedaan

Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.

Tautan ke tampilan pembanding ini

Kedua sisi revisi sebelumnyaRevisi sebelumnya
Revisi selanjutnya
Revisi sebelumnya
sejarah_buddhisme [2025/12/05 14:37] – [Aliran-Aliran Buddhisme Awal] seniyasejarah_buddhisme [2025/12/26 14:01] (sekarang) – [Ajaran Pokok Buddhisme Awal] seniya
Baris 115: Baris 115:
 Para ahli sejarah menyebut ajaran Buddha awal mula yang berkembang sebelum perpecahan aliran sebagai Buddhisme awal atau Buddhisme pra-sektarian. Periode Buddhisme awal dimulai sejak Sang Buddha mengajarkan Dhamma pertama kali kepada lima pertapa yang kemudian menjadi para bhikkhu pertama di Taman Rusa Isipatana di Benares sampai beberapa ratus tahun setelah wafatnya Sang Buddha sebelum terjadinya perpecahan aliran-aliran. Para ahli sejarah menyebut ajaran Buddha awal mula yang berkembang sebelum perpecahan aliran sebagai Buddhisme awal atau Buddhisme pra-sektarian. Periode Buddhisme awal dimulai sejak Sang Buddha mengajarkan Dhamma pertama kali kepada lima pertapa yang kemudian menjadi para bhikkhu pertama di Taman Rusa Isipatana di Benares sampai beberapa ratus tahun setelah wafatnya Sang Buddha sebelum terjadinya perpecahan aliran-aliran.
  
-Tak lama setelah wafatnya Sang Buddha, para bhikkhu yang berjumlah 500 orang mengadakan pertemuan untuk mengulang kembali ajaran-ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada berbagai kalangan selama 45 tahun pengembaraan Beliau berkeliling mengajar ke seluruh penjuru India. Pertemuan ini dikenal sebagai **Konsili Buddhis I** dan berhasil mengumpulkan ajaran Buddha yang dikelompokkan dalam Dhamma (ajaran praktis yang tertuang dalam kotbah-kotbah Sang Buddha) dan Vinaya (aturan disiplin monastik bagi para bhikkhu dan bhikkhuni). Walaupun sebelum wafatnya Sang Buddha berpesan agar beberapa aturan monastik yang kurang penting dapat dihapuskan, para bhikkhu dalam Konsili I memutuskan untuk tidak mengubah apa pun dalam Vinaya.+Tak lama setelah wafatnya Sang Buddha, para bhikkhu yang berjumlah 500 orang mengadakan pertemuan untuk mengulang kembali ajaran-ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada berbagai kalangan selama 45 tahun pengembaraan Beliau berkeliling mengajar ke seluruh penjuru India. Pertemuan ini dikenal sebagai **[[kritik_teks_konsili_pertama|Konsili Buddhis I]]** dan berhasil mengumpulkan ajaran Buddha yang dikelompokkan dalam Dhamma (ajaran praktis yang tertuang dalam kotbah-kotbah Sang Buddha) dan Vinaya (aturan disiplin monastik bagi para bhikkhu dan bhikkhuni). Walaupun sebelum wafatnya Sang Buddha berpesan agar beberapa aturan monastik yang kurang penting dapat dihapuskan, para bhikkhu dalam Konsili I memutuskan untuk tidak mengubah apa pun dalam Vinaya.
  
 Seratus tahun kemudian terjadi perbedaan pendapat dan penafsiran atas Vinaya sehingga memunculkan 10 poin yang diajukan para bhikkhu dari negeri Vajji (Vajjiputtaka), yang di antaranya memperbolehkan para bhikkhu menggunakan emas dan perak (sama dengan uang sebagai alat tukar pada masa modern ini). Para bhikkhu senior kemudian berkumpul dan memutuskan praktek 10 poin tersebut tidak sesuai dengan ajaran Buddha. Pertemuan ini kemudian dikenal sebagai **Konsili Buddhis II** dan perselisihan berhasil didamaikan. Seratus tahun kemudian terjadi perbedaan pendapat dan penafsiran atas Vinaya sehingga memunculkan 10 poin yang diajukan para bhikkhu dari negeri Vajji (Vajjiputtaka), yang di antaranya memperbolehkan para bhikkhu menggunakan emas dan perak (sama dengan uang sebagai alat tukar pada masa modern ini). Para bhikkhu senior kemudian berkumpul dan memutuskan praktek 10 poin tersebut tidak sesuai dengan ajaran Buddha. Pertemuan ini kemudian dikenal sebagai **Konsili Buddhis II** dan perselisihan berhasil didamaikan.
  
 +==== Ajaran Pokok Buddhisme Awal ====
 +
 +Ajaran-ajaran pokok yang terdapat dalam teks Nikāya-Nikāya Pali dan Āgama-Āgama (dalam bahasa Cina kuno maupun bahasa India lainnya) secara historis berasal dari periode Buddhisme awal sehingga dianggap berasal dari Sang Buddha sendiri (atau setidaknya para siswa langsung beliau). Ajaran-ajaran pokok ini terdiri dari doktrin-doktrin utama Buddhisme yang diakui semua aliran, yaitu:
 +
 +  - [[kebenaran_mulia|Empat kebenaran mulia]]
 +  - Jalan mulia berunsur delapan
 +  - Lima kelompok unsur kehidupan
 +  - Kemunculan (sebab-akibat) yang saling bergantungan
 +  - Karma dan kelahiran kembali
 +  - Tiga karakteristik (ketidakkekalan [anicca], ketidakpuasan/penderitaan [dukkha], [[anatta|bukan diri [anatta]]])
 +
 +Namun demikian, penjelasan rinci item-item dalam ajaran-ajaran pokok ini bisa berbeda antara satu aliran Buddhis dengan yang lainnya, menunjukkan bahwa penjelasan ini merupakan hasil pengembangan pada masa sektarian.
 +
 +Umumnya para ahli sejarah menggunakan perbandingan teks berbagai aliran Buddhisme awal, terutama Nikāya dan Āgama, untuk memperoleh gambaran lengkap bagaimanakah ajaran Buddha pada periode awal ini. Seringkali pendekatan ini disertai analisis yang tajam dan kritis menggunakan [[kritik_tekstual|metode kritik tekstual]].
 ===== Buddhisme Sektarian ===== ===== Buddhisme Sektarian =====
  
Baris 137: Baris 151:
 {{::perpecahan_aliran_awal.jpg}} {{::perpecahan_aliran_awal.jpg}}
  
-//Gambar Diagram perpecahan aliran-aliran Buddhisme awal (hanya menampilkan beberapa aliran yang penting saja)//+//Gambar 9. Diagram perpecahan aliran-aliran Buddhisme awal (hanya menampilkan beberapa aliran yang penting saja)//
  
 === Mahasanghika === === Mahasanghika ===
Baris 240: Baris 254:
 Menurut sumber Theravada dalam Kathavatthu, Sarvastivada bersepaham dengan Vajjiputtiya bahwa seorang Arahat dapat mengalami kemerosotan. Menurut sumber Theravada dalam Kathavatthu, Sarvastivada bersepaham dengan Vajjiputtiya bahwa seorang Arahat dapat mengalami kemerosotan.
  
-Sekitar 500-1000 tahun setelah Parinibbana Sang Buddha muncul aliran Mulasarvastivada (Sarvastivada akar) dan Vinaya-nya digunakan dalam aliran Mahayana Tibet saat ini. Menurut catatan Yijing, Mulasarvastivada juga berkembang di kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 M. Namun demikian, asal-usul aliran ini dan hubungannya dengan aliran Sarvastivada masih belum terungkap oleh para ahli. Menurut Bhikkhu Sujato dalam Sects and Sectarianism:+Sekitar 500-1000 tahun setelah Parinibbana Sang Buddha muncul aliran **Mulasarvastivada** (Sarvastivada akar) dan Vinaya-nya digunakan dalam aliran Mahayana Tibet saat ini. Menurut catatan Yijing, Mulasarvastivada juga berkembang di kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 M. Namun demikian, asal-usul aliran ini dan hubungannya dengan aliran Sarvastivada masih belum terungkap oleh para ahli. Menurut Bhikkhu Sujato dalam Sects and Sectarianism:
  
 > Ketidakpastian mengenai aliran ini telah membawa pada sejumlah hipotesis. Teori Frauwallner menyatakan bahwa Vinaya Mūlasarvāstivāda adalah aturan disiplin dari komunitas Buddhis awal yang berbasis di Mathura, yang sangat independen dalam perkembangannya sebagai komunitas monastik dari Sarvāstivādin dari Kaśmir (walaupun tentu saja ini tidak berarti mereka berbeda dalam hal ajaran). Lamotte, berlawanan dengan Frauwallner, menyatakan bahwa Vinaya Mūlasarvāstivāda adalah penyusunan Kaśmīr yang belakangan untuk melengkapi Vinaya Sarvāstivāda. Warder menyatakan bahwa Mūlasarvāstivādin adalah perkembangan belakangan dari Sarvāstivāda, yang inovasi utamanya adalah tulisan, penyusunan Vinaya yang besar dan Saddharmasmṛtyupasthāna Sūtra, yang mengandung ajaran-ajaran awal tetapi membawa gaya tetap up to date pada masa perkembangan tulisan yang sezaman. Enomoto menarik kesimpulan dari semua teori ini dengan menyatakan bahwa Sarvāstivādin dan Mūlasarvāstivādin sebenarnya adalah sama. Sementara itu, Willemen, Dessein, dan Cox telah mengembangkan teori bahwa Sautrantika, suatu cabang atau kecenderungan dalam kelompok aliran Sarvāstivādin, muncul di Gandhāra dan Bactria sekitar tahun 200 M. Walaupun mereka adalah kelompok yang paling awal, mereka secara sementara kehilangan tanah pada aliran Kaśmīr Vaibhāśika disebabkan oleh pengaruh politik Kaṇiṣka. Dalam tahun-tahun belakangan Sautrantika menjadi dikenal sebagai Mūlasarvāstivādin dan mendapatkan kembali pengaruhnya.[254] Saya telah di tempat lain memberikan alasan saya untuk tidak setuju dengan teori dari Enomoto dan Willemen dkk. Baik Warder ataupun Lamotte tidak memberikan cukup bukti untuk mendukung teori mereka. Kita disisakan dengan teori Frauwallner, yang dalam hal ini bertahan dalam uji waktu. > Ketidakpastian mengenai aliran ini telah membawa pada sejumlah hipotesis. Teori Frauwallner menyatakan bahwa Vinaya Mūlasarvāstivāda adalah aturan disiplin dari komunitas Buddhis awal yang berbasis di Mathura, yang sangat independen dalam perkembangannya sebagai komunitas monastik dari Sarvāstivādin dari Kaśmir (walaupun tentu saja ini tidak berarti mereka berbeda dalam hal ajaran). Lamotte, berlawanan dengan Frauwallner, menyatakan bahwa Vinaya Mūlasarvāstivāda adalah penyusunan Kaśmīr yang belakangan untuk melengkapi Vinaya Sarvāstivāda. Warder menyatakan bahwa Mūlasarvāstivādin adalah perkembangan belakangan dari Sarvāstivāda, yang inovasi utamanya adalah tulisan, penyusunan Vinaya yang besar dan Saddharmasmṛtyupasthāna Sūtra, yang mengandung ajaran-ajaran awal tetapi membawa gaya tetap up to date pada masa perkembangan tulisan yang sezaman. Enomoto menarik kesimpulan dari semua teori ini dengan menyatakan bahwa Sarvāstivādin dan Mūlasarvāstivādin sebenarnya adalah sama. Sementara itu, Willemen, Dessein, dan Cox telah mengembangkan teori bahwa Sautrantika, suatu cabang atau kecenderungan dalam kelompok aliran Sarvāstivādin, muncul di Gandhāra dan Bactria sekitar tahun 200 M. Walaupun mereka adalah kelompok yang paling awal, mereka secara sementara kehilangan tanah pada aliran Kaśmīr Vaibhāśika disebabkan oleh pengaruh politik Kaṇiṣka. Dalam tahun-tahun belakangan Sautrantika menjadi dikenal sebagai Mūlasarvāstivādin dan mendapatkan kembali pengaruhnya.[254] Saya telah di tempat lain memberikan alasan saya untuk tidak setuju dengan teori dari Enomoto dan Willemen dkk. Baik Warder ataupun Lamotte tidak memberikan cukup bukti untuk mendukung teori mereka. Kita disisakan dengan teori Frauwallner, yang dalam hal ini bertahan dalam uji waktu.
Baris 326: Baris 340:
 {{::penyebaran_buddhisme.png?600}} {{::penyebaran_buddhisme.png?600}}
  
-//Peta penyebaran Buddhisme pada masa kuno//+//Gambar 10. Peta penyebaran Buddhisme pada masa kuno// 
 + 
 +Secara historis gerakan Mahayana muncul dalam semua aliran Buddhisme awal dan terinspirasi dari kisah-kisah kehidupan lampau Sang Buddha (**Jataka**) ketika masih berstatus Bodhisattva (makhluk yang akan mencapai pencerahan pada masa yang akan datang) di mana beliau mengumpulkan jasa-jasa kebajikan dalam bentuk **kesempurnaan (parami/paramita)**. Ini memunculkan sutra-sutra Mahayana awal yang menitikberatkan pada praktik paramita (terutama prajnaparamita/kebijaksanaan sempurna, seperti dalam Prajnaparamita Sutra dalam berbagai versinya) karena praktik paramita ini dianggap jalan menuju Kebuddhaan, sedangkan praktik-praktik yang ditekankan dalam sutta-sutta awal (seperti empat kebenaran mulia dan jalan mulia berunsur delapan) dianggap hanya membawa pada pencapaian Arahant yang dipandang lebih rendah. 
 + 
 +Oleh sebab itu, golongan Mahayana menyebut aliran-aliran Buddhisme awal yang masih menekankan pada pencapaian Arahant sebagai **Hinayana** (Kendaraan/Wahana Kecil) sebagai lawan dari Mahayana (Kendaraan/Wahana Besar) yang dapat membawa semua makhluk pada tujuan akhir yang tertinggi (Kebuddhaan). [Istilah ini dianggap derogatif (bersifat merendahkan) oleh golongan Hinayana dan istilah yang lebih tepat adalah **Sravakayana** (Kendaraan/Jalan Sravaka/Arahant) sebagai lawan dari **Bodhisattvayana** (Jalan Bodhisattva) yang ditekankan dalam Mahayana) 
 + 
 +Saat kemunculan gerakan Mahayana, reaksi aliran-aliran Buddhisme awal sendiri ada yang menolak ajaran "baru" ini dan ada yang menerimanya. Menurut catatan Xuanzang, peziarah Cina yang datang ke India pada abad 7 M, dalam aliran Sthaviravada sendiri ada golongan yang disebut Mahayana-Sthavira yang menerima sutra-sutra Mahayana sebagai sabda Sang Buddha (Buddhavacana) dan ada golongan yang disebut Hinayana-Sthavira yang menolaknya.
  
 +Selain menekankan praktik paramita, konsep Mahayana yang populer saat ini antara lain [[sunyata|filosofi kekosongan (sunyata)]] yang dikembangkan Nagarjuna berdasarkan konsep kemunculan bergantungan dalam sutta-sutta awal. Namun demikian, konsep sunyata yang paling banyak dikutip saat ini adalah pernyataan "isi adalah kosong, kosong adalah isi" yang merupakan salah terjemahan dari kutipan Prajnaparamita Hrdaya Sutra atau Sutra Hati sehingga banyak yang mengartikan bahwa kebijaksanaan dalam Mahayana adalah seperti orang gila, yang tidak memperhatikan baik dan buruk serta menantang rasionalitas dan logika. Padahal konsep kekosongan dalam Mahayana awal tidak seperti itu dan masih selaras dengan Buddhisme awal. Hal ini selengkapnya bisa dibaca pada artikel [[isi_kosong]]
 ===== Buddhisme Modern ===== ===== Buddhisme Modern =====
  
 Pada masa modern Buddhisme terus menyebar ke seluruh dunia setelah kolonisasi India oleh Inggris yang menyebabkan ketertarikan orang-orang Barat akan agama-agama Dharma (Hindu, Buddha, Jain, dst). Pada masa modern Buddhisme terus menyebar ke seluruh dunia setelah kolonisasi India oleh Inggris yang menyebabkan ketertarikan orang-orang Barat akan agama-agama Dharma (Hindu, Buddha, Jain, dst).
sejarah_buddhisme.1764945436.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya