Wiki DhammaCitta

Buddhisme Indonesia

Alat Pengguna

Alat Situs


kritik_teks_konsili_pertama

Perbedaan

Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.

Tautan ke tampilan pembanding ini

Kedua sisi revisi sebelumnyaRevisi sebelumnya
Revisi selanjutnya
Revisi sebelumnya
kritik_teks_konsili_pertama [2025/12/13 09:39] – [Pelaksanaan konsili dan penyusunan Ajaran] seniyakritik_teks_konsili_pertama [2025/12/13 10:58] (sekarang) – [Pemilihan Anggota Konsili dan Pencapaian Kearahanttaan Ānanda] seniya
Baris 1: Baris 1:
 ====== Analisis Kritik Tekstual terhadap Konsili Pertama ====== ====== Analisis Kritik Tekstual terhadap Konsili Pertama ======
  
-Konsili Buddhis pertama adalah peristiwa menurut berbagai tradisi Buddhis di mana tidak lama setelah Buddha parinibbana (beberapa minggu atau pada vassa berikutnya) para bhikkhu arahant berkumpul di Rājagaha dan merumuskan apa saja yang merupakan Ajaran dan Disiplin Buddha. Kisah ini tercatat dalam sutta tentang akhir kehidupan Buddha dan dalam Vinaya berbagai sekte awal; dalam tradisi Theravāda adalah DN16. Mahāparinibbāṇa Sutta dan Khandaka, Culavagga XI. Sama seperti Vinaya Mahīśāsaka, hanya sebagian kecil sutta, yang berhubungan dengan awal dari konsili, dimasukkan ke Vinaya. Vinaya Sarvāstivāda, Dharmaguptaka, dan Haimavata mengambil sebagian besar sutta; sementara Mūlasarvāstivāda dan Mahāsāṅghika memasukkan keseluruhan isi sutta ke dalam Vinaya. Selain dari teks Pali Theravāda, sumber yang digunakan adalah terjemahan Mandarin dan pada tulisan ini menggunakan rangkuman dari karya Teitaro Suzuki yang sangat kaya informasi. Sumber yang digunakan antara lain: Pancavarga Vinaya (Mahīśāsaka), Caturvarga Vinaya (Dharmagupta), Vinaya Mahāsāṅghika, Samyuktavastu (Mūlasarvāstivāda), Sudarsana Vinaya Vibhasa (padanan Mandarin dari Pāḷi Samantapasadika), Mahāprajñāpāramitā Sastra, Catatan Transmisi Dharmapitaka.+Konsili Buddhis pertama adalah peristiwa menurut berbagai tradisi Buddhis di mana tidak lama setelah Buddha parinibbana (beberapa minggu atau pada vassa berikutnya) para bhikkhu arahant berkumpul di Rājagaha dan merumuskan apa saja yang merupakan Ajaran dan Disiplin Buddha. Kisah ini tercatat dalam sutta tentang akhir kehidupan Buddha dan dalam Vinaya berbagai sekte awal; dalam tradisi Theravāda adalah DN16. Mahāparinibbāṇa Sutta dan Khandaka, Culavagga XI. Sama seperti Vinaya Mahīśāsaka, hanya sebagian kecil sutta, yang berhubungan dengan awal dari konsili, dimasukkan ke Vinaya. Vinaya Sarvāstivāda, Dharmaguptaka, dan Haimavata mengambil sebagian besar sutta; sementara Mūlasarvāstivāda dan Mahāsāṅghika memasukkan keseluruhan isi sutta ke dalam Vinaya. Selain dari teks Pali Theravāda, sumber yang digunakan adalah terjemahan Mandarin dan pada tulisan ini menggunakan rangkuman dari karya Teitaro Suzuki yang sangat kaya informasi. Sumber yang digunakan antara lain: Pancavarga Vinaya (Mahīśāsaka), Caturvarga Vinaya (Dharmagupta), Vinaya Mahāsāṅghika, Samyuktavastu (Mūlasarvāstivāda), Sudarsana Vinaya Vibhasa (padanan Mandarin dari Pāḷi Samantapasadika), Mahāprajñāpāramitā Sastra, Catatan Transmisi Dharmapitaka, dan Pengantar Ekottarika Āgama (EĀ).
  
 Berbagai narasi ini memiliki perbedaan-perbedaan baik dalam kejadian, pelaku, kronologis, dan detail minor lainnya, maka narasi dari Tradisi Theravāda digunakan sebagai tolok ukur strukturnya, karena kisah ini adalah yang paling umum dikenal. Berbagai narasi ini memiliki perbedaan-perbedaan baik dalam kejadian, pelaku, kronologis, dan detail minor lainnya, maka narasi dari Tradisi Theravāda digunakan sebagai tolok ukur strukturnya, karena kisah ini adalah yang paling umum dikenal.
  
-===== Motivasi pelaksanaan konsili =====+===== Motivasi Pelaksanaan Konsili =====
  
 **Theravāda**: ketika tersebar kabar bahwa Buddha telah wafat, seorang bhikkhu bernama Subhadda merasa senang karena ia bisa bebas dari peraturan-peraturan Buddha yang terlalu ketat. Mahākassapa yang mengetahui hal itu, merasakan perlunya melestarikan ajaran, dan setelah selesai dengan upacara kremasi Buddha, ia memutuskan untuk menggelar persamuhan untuk mengukuhkan aturan dan ajaran Buddha. **Theravāda**: ketika tersebar kabar bahwa Buddha telah wafat, seorang bhikkhu bernama Subhadda merasa senang karena ia bisa bebas dari peraturan-peraturan Buddha yang terlalu ketat. Mahākassapa yang mengetahui hal itu, merasakan perlunya melestarikan ajaran, dan setelah selesai dengan upacara kremasi Buddha, ia memutuskan untuk menggelar persamuhan untuk mengukuhkan aturan dan ajaran Buddha.
Baris 15: Baris 15:
 **Dharmapitaka**: Tidak ada sosok Subhadda ataupun Deva, namun atas inisiatif Mahākassapa. **Dharmapitaka**: Tidak ada sosok Subhadda ataupun Deva, namun atas inisiatif Mahākassapa.
  
-===== Pemilihan anggota konsili dan pencapaian Arahatta Ananda =====+**Pengantar EĀ**: Karena khawatir Dharma akan lenyap setelah kematian Sang Buddha, Mahākassapa berinisiatif mengumpulkan dan menyusun ajaran-ajaran Buddha. 
 + 
 +===== Pemilihan Anggota Konsili dan Pencapaian Kearahantaan Ānanda =====
  
 **Theravāda**: Mahākassapa memilih 499 Arahant dan kemudian mereka menganjurkan agar mengikutsertakan Ānanda, sebab walaupun belum mencapai kesempurnaan, Ānanda paling dekat dan banyak menghafal khotbah-khotbah Buddha, dan Mahākassapa menyetujuinya. Sudarsana Vibhasa menjelaskan Mahākassapa ingin melindungi persamuhan dari ketidak-murnian. Ānanda dikatakan mencapai Arahatta pada malam sebelum konsili dalam posisi unik yang tidak dalam Iriyapatha: ketika ia akan berbaring, kakinya telah terangkat dari tanah namun kepalanya belum menyentuh bantal. **Theravāda**: Mahākassapa memilih 499 Arahant dan kemudian mereka menganjurkan agar mengikutsertakan Ānanda, sebab walaupun belum mencapai kesempurnaan, Ānanda paling dekat dan banyak menghafal khotbah-khotbah Buddha, dan Mahākassapa menyetujuinya. Sudarsana Vibhasa menjelaskan Mahākassapa ingin melindungi persamuhan dari ketidak-murnian. Ānanda dikatakan mencapai Arahatta pada malam sebelum konsili dalam posisi unik yang tidak dalam Iriyapatha: ketika ia akan berbaring, kakinya telah terangkat dari tanah namun kepalanya belum menyentuh bantal.
Baris 29: Baris 31:
 **Mahāprajñāpāramitā**: seperti Sarvāstivāda, Ānanda diusir dengan tuduhan 6 kesalahan, dan pintu gerbang ditutup. Ketika Ānanda telah mencapai Arahatta, ia meminta diizinkan masuk dan Mahākassapa menyuruhnya masuk melalui lubang kunci, dan Ānanda melakukannya. **Mahāprajñāpāramitā**: seperti Sarvāstivāda, Ānanda diusir dengan tuduhan 6 kesalahan, dan pintu gerbang ditutup. Ketika Ānanda telah mencapai Arahatta, ia meminta diizinkan masuk dan Mahākassapa menyuruhnya masuk melalui lubang kunci, dan Ānanda melakukannya.
  
-===== Pelaksanaan konsili dan penyusunan Ajaran =====+**Pengantar EĀ**: Mahākāśyapa memilih Ānanda karena ia dianggap paling bijaksana dan memiliki ingatan yang luar biasa, walaupun ia belum menjadi Arahant. Pemilihan Ānanda ini didukung oleh para dewa seperti Brahma, Indra, Empat Raja Langit, dan Bodhisattva Maitreya. Bahkan setelah konsili selesai Ānanda tidak mencapai Kearahantaan. 
 + 
 +===== Pelaksanaan Konsili dan Penyusunan Ajaran =====
  
 **Theravāda**: Mahākassapa menanyakan kepada Upali tentang Vinaya, dimulai dari Parajika pertama, dan seterusnya. Kemudian kepada Ānanda tentang Sutta, dimulai dari Brahmajala Sutta, Samaññaphala Sutta dan seterusnya. Dengan cara yang sama 5 nikaya diulang. Pembahasan mengenai peraturan minor (Khuddhanukhuddakasikkhapada) yang dikatakan boleh dihapus, dan disepakati tidak ada yang diubah. Kemudian tuduhan 5 kesalahan terhadap Ānanda berikut pembelaan dari Ānanda. **Theravāda**: Mahākassapa menanyakan kepada Upali tentang Vinaya, dimulai dari Parajika pertama, dan seterusnya. Kemudian kepada Ānanda tentang Sutta, dimulai dari Brahmajala Sutta, Samaññaphala Sutta dan seterusnya. Dengan cara yang sama 5 nikaya diulang. Pembahasan mengenai peraturan minor (Khuddhanukhuddakasikkhapada) yang dikatakan boleh dihapus, dan disepakati tidak ada yang diubah. Kemudian tuduhan 5 kesalahan terhadap Ānanda berikut pembelaan dari Ānanda.
Baris 40: Baris 44:
  
 **Mahāsāṅghika**: Ānanda diminta untuk mengulang "Dharmapitaka" dan kemudian mengulang khotbah-khotbah Buddha ke dalam 4 kelompok: Digha...Majjhima...Anguttara...Samyutta. Kemudian Upali menuduhkan 7 kesalahan kepada Ānanda, dan kemudian mengulang Vinaya. Setelah kompilasi selesai, 1000 bhikkhu di luar diundang masuk dan membahas mengenai peraturan minor. Terjadi perdebatan mengenai apa yang akan dihapus namun Mahākassapa memutuskan untuk tidak mengubah apa yang telah ditetapkan. **Mahāsāṅghika**: Ānanda diminta untuk mengulang "Dharmapitaka" dan kemudian mengulang khotbah-khotbah Buddha ke dalam 4 kelompok: Digha...Majjhima...Anguttara...Samyutta. Kemudian Upali menuduhkan 7 kesalahan kepada Ānanda, dan kemudian mengulang Vinaya. Setelah kompilasi selesai, 1000 bhikkhu di luar diundang masuk dan membahas mengenai peraturan minor. Terjadi perdebatan mengenai apa yang akan dihapus namun Mahākassapa memutuskan untuk tidak mengubah apa yang telah ditetapkan.
 +
 +**Pengantar EĀ**: Ānanda membagi ajaran Buddha menjadi tiga bagian utama (Tripiṭaka): Sūtra, Vinaya, dan Abhidharma. Untuk Sūtra dibagi menjadi Ekottarika Āgama sebagai kumpulan pertama, kemudian Madhyama, Dīrgha, dan Saṃyukta Āgama.
  
 __Catatan:__ __Catatan:__
Baris 46: Baris 52:
   * Berbeda dengan catatan Theravāda di mana Kondañña lebih dahulu wafat daripada Buddha, menurut Sarvāstivāda ia masih hidup dan kemungkinan adalah sebagai pimpinan sidang berdasarkan senioritas. Mahīśāsaka memberikan daftar senioritas dimulai dari Ājñāta Kauṇḍinya, Purāṅa, Dharmika, Daśabala Kāśyapa, Bhadra Kāśyapa, Mahākāśyapa, Upāli, Anuruddha.   * Berbeda dengan catatan Theravāda di mana Kondañña lebih dahulu wafat daripada Buddha, menurut Sarvāstivāda ia masih hidup dan kemungkinan adalah sebagai pimpinan sidang berdasarkan senioritas. Mahīśāsaka memberikan daftar senioritas dimulai dari Ājñāta Kauṇḍinya, Purāṅa, Dharmika, Daśabala Kāśyapa, Bhadra Kāśyapa, Mahākāśyapa, Upāli, Anuruddha.
  
-===== 10 Kesalahan Ānanda =====+===== Sepuluh Kesalahan Ānanda =====
  
   - Meminta penahbisan Bhikkhuni (Semua sekte)   - Meminta penahbisan Bhikkhuni (Semua sekte)
Baris 69: Baris 75:
 Kisah bhikkhu Purāṇa dan Gavāmpati ini menunjukkan perbedaan pendapat paling awal mengenai Dhamma-Vinaya. Kisah bhikkhu Purāṇa dan Gavāmpati ini menunjukkan perbedaan pendapat paling awal mengenai Dhamma-Vinaya.
  
-Brahmadaṇḍa (Hukuman Berat terhadap +===== Brahmadaṇḍa (Hukuman Berat terhadap Channa/Caṇḍa) =====
  
 Sepertinya ini hanya ada di tradisi **Mahīśāsaka & Theravāda**. Sepertinya ini hanya ada di tradisi **Mahīśāsaka & Theravāda**.
Baris 81: Baris 87:
 ===== Kesimpulan ===== ===== Kesimpulan =====
  
-Dari perbedaan mengenai kompilasi kitab suci, kemungkinan besar pada masa konsili pertama belum dilakukan pengategorian berdasarkan Digha, Majjhima, dan seterusnya. Setiap sekte berusaha memasukkan komposisi kanon mereka masing-masing ke dalam narasi konsili pertamanya. Perbedaan ketegori "Khuddaka" sebagai nikaya/agama atau pitaka juga menambah kerumitan. Perbedaan kronologi dan detail lainnya yang kadang sangat jauh juga mengindikasikan pengembangan kisah yang terjadi setelah masa perpecahan sekte. Namun di samping perbedaan-perbedaan, juga terdapat gambaran umum yang sama seperti pertemuan dilakukan segera setelah wafat Buddha, Ananda mencapai Arahatta, dan tuduhan terhadap Ananda. Kemungkinan ini adalah catatan tradisi Sangha awal sebelum perpecahan walaupun pertemuan yang dicatat hanya membahas masalah Vinaya (aturan minor yang diamanatkan untuk dihapus oleh Sang Buddha sebelum wafatnya) dan bukan penyusunan kanon/ajaran (Dhamma)+Dari perbedaan mengenai kompilasi kitab suci, kemungkinan besar pada masa konsili pertama belum dilakukan pengategorian berdasarkan Digha, Majjhima, dan seterusnya. Setiap sekte berusaha memasukkan komposisi kanon mereka masing-masing ke dalam narasi konsili pertamanya. Perbedaan ketegori "Khuddaka" sebagai nikaya/agama atau pitaka juga menambah kerumitan. Perbedaan kronologi dan detail lainnya yang kadang sangat jauh juga mengindikasikan pengembangan kisah yang terjadi setelah masa perpecahan sekte. Namun di samping perbedaan-perbedaan, juga terdapat gambaran umum yang sama seperti pertemuan dilakukan segera setelah wafat Buddha, Ananda mencapai Arahant, dan tuduhan terhadap Ananda. Kemungkinan ini adalah catatan pertemuan pertama Sangha awal segera setelah wafatnya Sang Buddha walaupun pertemuan itu hanya membahas masalah Vinaya (aturan minor yang diamanatkan untuk dihapus oleh Sang Buddha sebelum wafatnya) dan bukan penyusunan kanon/ajaran (Dhamma)
 + 
 +===== Sumber Bacaan ===== 
 + 
 +  * Teitaro Suzuki, //The First Buddhist Council//, 1904. 
 +  * J. Przyluski, //Le Concile De Rajagrha//, 1926. 
 +  * André Bareau, //Les premiers conciles bouddhiques//, 1955. 
 +  * Erich Frauwallner, //The Earliest Vinaya and the Beginnings of Buddhist Literature//, 1956. 
 +  * C.S. Prebish, //A Review of Scholarship on The Buddhist Councils//, 1974. 
 +  * La Valée Poussin, //The Buddhist Councils//, 1976. 
 +  * Amarnath Thakur, //Buddha and Buddhist Synods in India and Abroad//, 1996. 
 +  * Anālayo, //The Dawn of Abhidharma//, 2014. 
 +  * Charles Patton, //[[https://canon.dharmapearls.net/01_agama/ekottarika/01/EA_01_01.html|The Numerical Discourses (Ekottarika Āgama) - Chapter 1: Introduction]]//, 2023 
kritik_teks_konsili_pertama.1765618761.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya