Wiki DhammaCitta

Buddhisme Indonesia

Alat Pengguna

Alat Situs


kebenaran_mulia

Ini adalah dokumen versi lama!


Empat Kebenaran Mulia

Penjelasan Doktrinal Empat Kebenaran Mulia

Empat Kebenaran Mulia pertama kali dijelaskan Sang Buddha dalam pengajaran pertamanya kepada lima pertapa yang menjadi siswa pertamanya di Taman Rusa Isipatana di Benares. Kotbah yang dikenal dengan judul Dhammacakkappavattana Sutta (Kotbah Pemutaran Roda Dhamma) ini ditemukan dalam SN 56.11 dan juga Vinaya Pitaka bagian Mahavagga yang mengisahkan pencerahan Buddha dan penahbisan para bhikkhu pertama. Pada bagian ini kita akan menjelaskan Empat Kebenaran Mulia berdasarkan kotbah pertama ini.

dhammacakka.jpg

Gambar 1. Sang Buddha mengajarkan kotbah pertama tentang jalan tengah dan Empat Kebenaran Mulia kepada lima orang pertapa yang kemudian menjadi lima orang siswa pertama beliau di Taman Rusa Isipatana, Benares.

Kebenaran Mulia Tentang Dukkha

“Sekarang ini, para bhikkhu, adalah kebenaran mulia penderitaan (dukkha): kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan; berkumpul dengan apa yang tidak menyenangkan adalah penderitaan; berpisah dengan apa yang menyenangkan adalah penderitaan; tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, kelima kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan adalah penderitaan.

Kebenaran mulia pertama ini membicarakan tentang dukkha yang diterjemahkan sebagai penderitaan atau lebih tepatnya ketidakpuasan. Dukkha dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:

a. Dukkha-dukkha, yaitu dukkha dari penderitaan fisik, yang mencakup kelahiran, usia tua, sakit, dan kematian. Menurut Buddhisme, saat dilahirkan ke dunia seorang bayi mengalami kesakitan (oleh sebab itu, bayi menangis saat dilahirkan); usia tua yang menyebabkan tubuh jasmani melemah dan kekuatan fisik memudar (tulang keropos, otot mengendur, jalan tertatih-tatih, gigi tanggal, kulit keriput, penglihatan kabur, dst) adalah penderitaan fisik tersendiri; sakit karena penyakit maupun ketidakhati-hatian (misalnya terjatuh) jelas merupakan penderitaan; saat kematian unsur-unsur pembentuk kehidupan terurai sehingga menyebabkan kesakitan bagi orang yang meninggal dunia.

b. Viparimana-dukkha, yaitu dukkha karena perubahan, yang mencakup berkumpul dengan hal yang tidak menyenangkan, berpisah dengan yang dicintai, dan tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Ini menyatakan adanya hal yang tidak menyenangkan ketika terjadi perubahan keadaan dari kondisi yang semula nyaman menjadi tidak nyaman.

c. Sankhara-dukkha, yaitu dukkha karena keterkondisian (sankhara): segala sesuatu yang muncul bergantung pada sebab dan kondisi adalah tidak kekal (anicca), apa pun yang tidak kekal adalah tidak memuaskan (dukkha). Fenomena fisik dan mental yang membentuk kehidupan, yaitu lima kelompok unsur kehidupan (pancakkandha) muncul karena sebab dan kondisi. Lima kelompok unsur kehidupan ini terdiri dari:

  • Bentuk jasmani (rupa), yaitu fenomena fisik kehidupan yang terbentuk dari 4 unsur utama (unsur tanah/padat, unsur air/cair, unsur api/panas, dan unsur angin/gerak) dan turunannya (pancaindria dan objeknya: bentuk, suara, bebauan, rasa kecapan, dan sentuhan). Sebab dan kondisi yang memunculkan bentuk jasmani adalah makanan fisik.
  • Perasaan (vedana), yaitu perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan, dan netral yang muncul dari kontak indria dan objeknya). Dengan demikian, sebab dan kondisi bagi perasaan adalah kontak.
  • Persepsi (sanna), yaitu fungsi mental yang mengenali karakteristik objek yang ditanggapi indria (misalnya warna dan bentuk objek). Sebab dan kondisi bagi persepsi adalah kontak.
  • Bentukan kehendak (sankhara), yaitu fungsi mental yang memutuskan apa yang dilakukan terhadap objek indria, misalnya kehendak, dorongan mental, keinginan, keserakahan, dan kebencian. Dari bentuk kehendak inilah hukum karma bekerja dan memberikan akibat sesuai dengan kualitas bermanfaat atau tidak bermanfaatnya bentukan kehendak tersebut. Sebab dan kondisi bagi bentukan kehendak adalah kontak.
  • Kesadaran (vinanna), yaitu fungsi mental yang menyadari (mengetahui sepenuhnya) objek indria. Kesadaran ini sering disalahpahami sebagai diri/jiwa/roh (atta/atman), namun menurut Buddhisme kesadaran bukanlah diri karena muncul dari sebab dan kondisi yang tak lain adalah nama (batin yang terdiri dari perasaan, persepsi, dan kehendak) dan bentuk jasmani. [Lihat juga SN 22.56]

Karena unsur-unsur kehidupan ini muncul dari sebab dan kondisi demikian, maka sifat kehidupan ini adalah tidak kekal dan tidak memuaskan. Karena kemelekatan pada lima kelompok unsur kehidupan (pancupadanakkandha) ini, muncullah ketidakpuasan yang menjadi problem kehidupan bagi semua makhluk.

Dengan demikian, dukkha dalam Buddhisme tidak sekedar penderitaan biasa (dukkha-dukkha) semata, melainkan juga perubahan kondisi kehidupan karena bertemu dengan hal yang tidak menyenangkan, berpisah dengan hal yang menyenangkan/disukai, dan tidak memperoleh sesuatu sesuai harapan (viparinama-dukkha), bahkan unsur-unsur pembentuk kehidupan ini sendiri menyebabkan ketidakpuasan (sankhara-dukkha).

Pemahaman dukkha ini merupakan langkah awal menapaki kehidupan spiritual Buddhis. Dengan menyadari bahwa kehidupan ini terbentuk dari sebab dan kondisi sehingga tidak kekal dan tidak memuaskan, maka seseorang menumbuhkan perasaan kemendesakan (samvega) untuk segera membebaskan diri dari kondisi demikian. Karena adanya perasaan kemendesakan ini, ia akan berusaha mencari ajaran yang dapat membebaskan dirinya dari dukkha ini. Ketika menemukan ajaran Sang Buddha yang mengajarkan dukkha dan pelenyapannya, setelah mempelajarinya dan menemukan ajaran tentang dukkha tersebut sesuai dengan fakta kehidupan yang ia alami, ia memunculkan keyakinan (saddha) terhadap ajaran Sang Buddha dan mulai menjalankannya setahap demi setahap hingga tercapainya tujuan akhir kehidupan spiritual Buddhis, yaitu pembebasan dari dukkha (Nibbana/Nirvana). Oleh sebab itu, dikatakan dalam SN 12.23 bahwa dukkha adalah penyebab terdekat dari keyakinan yang secara bertahap akan membawa seseorang pada pembebasan dari dukkha itu sendiri:

… dengan penderitaan sebagai penyebab terdekat, maka keyakinan [muncul]; dengan keyakinan sebagai penyebab terdekat, maka kegembiraan [muncul]; dengan kegembiraan sebagai penyebab terdekat, maka sukacita [muncul]; dengan sukacita sebagai penyebab terdekat, maka ketenangan [muncul]; dengan ketenangan sebagai penyebab terdekat, maka kebahagiaan [muncul]; dengan kebahagiaan sebagai penyebab terdekat, maka konsentrasi [muncul]; dengan konsentrasi sebagai penyebab terdekat, maka pengetahuan dan penglihatan atas segala sesuatu sebagaimana adanya [muncul]; dengan pengetahuan dan penglihatan atas segala sesuatu sebagaimana adanya sebagai penyebab terdekat, maka kejijikan [muncul]; dengan kejijikan sebagai penyebab terdekat, maka kebosanan [muncul]; dengan kebosanan sebagai penyebab terdekat, maka kebebasan [muncul]; dengan kebebasan sebagai penyebab terdekat, maka pengetahuan penghancuran [muncul].

Kebenaran Mulia tentang Sebab Dukkha

“Sekarang ini, para bhikkhu, adalah kebenaran mulia asal-mula penderitaan: adalah ketagihan yang menuntun menuju penjelmaan baru, disertai dengan kesenangan dan nafsu, mencari kenikmatan di sana-sini; yaitu, ketagihan pada kenikmatan indria, ketagihan pada penjelmaan, ketagihan pada pemusnahan.

Kebenaran mulia kedua membahas tentang asal mula atau sumber utama dukkha, yaitu tanha (Pali) atau trsna (Sanskrit). Tanha yang diterjemahkan sebagai ketagihan di sini memiliki akar kata yang sama dengan thirst dalam bahasa Inggris yang berarti kehausan [diserap dalam bahasa Jawa menjadi kata tresno]; secara kiasan, tanha merupakan kehausan yang membutuhkan pemuasan keinginan, yang bermanifestasi sebagai rasa kurang atau ingin dan berakar pada ketidakpuasan. Penggambaran tanha sebagai keinginan yang tidak habis-habisnya dipuaskan disebutkan dalam MN 82 ketika Bhikkhu Ratthapala menjelaskan kepada Raja Koravya dari kerajaan Kuru tentang alasannya meninggalkan keduniawian:

“Sekarang Guru Raṭṭhapāla berkata: ‘[Kehidupan di] alam manapun juga adalah tidak lengkap, tidak pernah terpuaskan, budak ketagihan.’ Bagaimanakah makna dari pernyataan ini dipahami?”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah engkau menguasai negeri Kuru yang kaya ini?”

“Benar, Guru Raṭṭhapāla.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang yang terpercaya dan dapat diandalkan mendatangimu dari timur dan berkata: ‘Untuk engkau ketahui, Baginda, bahwa aku datang dari timur, dan di sana aku melihat suatu negeri yang luas, kuat dan kaya, berpenduduk padat dan ramai oleh orang-orang. Terdapat banyak pasukan gajah di sana, banyak pasukan berkuda, pasukan kereta, dan pasukan pejalan kaki; ada banyak gading di sana, dan banyak uang-uang emas dan perak baik yang telah diolah maupun belum diolah, dan banyak perempuan untuk dijadikan istri. Dengan kekuatanmu yang sekarang engkau dapat menaklukkannya. Taklukkanlah, Baginda.’ Apakah yang akan engkau lakukan?”

“Kami akan menaklukkannya dan menguasainya, Guru Raṭṭhapāla.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang yang terpercaya dan dapat diandalkan mendatangimu dari barat … dari utara … dari selatan … dari seberang samudra dan berkata: ‘Untuk engkau ketahui, Baginda, bahwa aku datang dari seberang samudra, dan di sana aku melihat suatu negeri yang luas, kuat dan kaya … Taklukkanlah, Baginda.’ Apakah yang akan engkau lakukan?”

“Kami akan menaklukkannya juga dan menguasainya, Guru Raṭṭhapāla.”

“Baginda, adalah karena hal ini maka Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘[Kehidupan di] alam manapun juga adalah tidak lengkap, tidak pernah terpuaskan, budak ketagihan’; dan ketika aku mengetahui dan melihat dan mendengarnya, aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.”

“Sungguh mengagumkan, Guru Raṭṭhapāla, sungguh menakjubkan, betapa benarnya hal itu diungkapkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna: ‘[Kehidupan di] alam manapun juga adalah tidak lengkap, tidak pernah terpuaskan, budak ketagihan.’ Sungguh memang demikianlah adanya!”[5]

Ketagihan (tanha) di sini digambarkan pada titik yang paling ekstrem, di mana seorang raja yang paling berkuasa pun tidak pernah terpuaskan keinginannya untuk berkuasa dan selalu berusaha memenuhinya dengan melakukan ekspansi wilayah tiada habisnya.

Terdapat 3 jenis ketagihan menurut ajaran Buddha, yaitu:

a. Ketagihan pada kenikmatan indria (kamatanha), yaitu keinginan untuk memuaskan diri dalam lima utas kenikmatan indria (yaitu lima objek pancaindria yang diinginkan, menyenangkan, dan disukai: bentuk sebagai objek indria mata, suara sebagai objek indria telinga, bebauan sebagai objek indria hidung, rasa kecapan sebagai objek indria lidah, dan sentuhan sebagai objek indria badan/kulit).

b. Ketagihan pada penjelmaan/kelangsungan (bhavatanha), yaitu keinginan untuk menjelma (melangsungkan/melanjutkan kehidupan) pada alam-alam kehidupan melalui tiga jenis penjelmaan (penjelmaan di alam nafsu [kamabhava], penjelmaan di alam berbentuk [rupabhava], dan penjelmaan di alam tanpa bentuk [arupabhava]). Ketagihan pada penjelmaan ini merupakan keinginan yang mendorong seseorang terlahir kembali setelah kematiannya. Ketagihan ini berakar dari pandangan keabadian atau eternalisme (sassatavada) bahwa terdapat diri/jiwa/roh yang kekal yang tetap eksis setelah kematian.

c. Ketagihan pada pemusnahan (vibhavatanha), yaitu keinginan untuk tidak menjelma (tidak melangsungkan kehidupan) [lawan dari bhavatanha]. Berbeda dengan keinginan untuk tidak terlahir kembali (terbebas dari samsara/lingkaran kelahiran kembali) yang merupakan motivasi spiritual yang positif, ketagihan pada pemusnahan berakar dari pandangan pemusnahan atau nihilisme (ucchedavada) bahwa diri/jiwa/roh musnah dan hancur dengan hancurnya jasmani dan tidak ada lagi setelah kematian.

Berdasarkan konsep kemunculan bergantungan (paticcasamuppada), ketagihan merupakan sebab dan kondisi bagi penjelmaan baru (kelahiran kembali) yang menyebabkan dukkha dan berakar pada ketidaktahuan (avijja), yaitu:

Dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, maka bentukan-bentukan kehendak [muncul]; dengan bentukan-bentukan kehendak sebagai kondisi, kesadaran; dengan kesadaran sebagai kondisi, nama-dan-bentuk [muncul]; dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi, enam landasan indria [muncul]; dengan enam landasan indria sebagai kondisi, kontak; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan [muncul]; dengan perasaan sebagai kondisi, ketagihan [muncul]; dengan ketagihan sebagai kondisi, kemelekatan [muncul]; dengan kemelekatan sebagai kondisi, penjelmaan [muncul]; dengan penjelmaan sebagai kondisi, kelahiran [muncul]; dengan kelahiran sebagai kondisi, penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul. Demikianlah asal-mula dari keseluruhan kumpulan penderitaan. [SN 12.1]

Kebenaran Mulia tentang Lenyapnya Dukkha

Apakah kebenaran mulia lenyapnya penderitaan? Adalah peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketagihan yang sama itu, meninggalkan dan melepaskannya, kebebasan darinya, tidak bergantung padanya.

Kebenaran mulia ketiga membahas tentang lenyapnya dukkha yang tak lain adalah konsep pembebasan (vimutti/moksha) dari lingkaran kelahiran kembali (samsara) atau disebut juga Nibbana dalam Buddhisme. Konsep Nibbana dalam Buddhisme awal berdasarkan kotbah pertama ini adalah konsep yang paling sederhana (tanpa embel-embel metafisika dan filosofi yang menjelimet), yaitu lenyapnya atau padamnya ketagihan (tanha) [Kata “Nibbana” sendiri berasal dari kata “nibbuti” yang artinya “padam”, “damai”, atau “tenang”]. Dalam kelenyapan bergantungan, lenyapnya tanha dicapai dengan pelenyapan ketidaktahuan seperti dikutip dari AN 3.61 sbb:

“Dan apakah, para bhikkhu, kebenaran mulia lenyapnya penderitaan? Dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidak-tahuan maka lenyap pula aktivitas-aktivitas berkehendak; dengan lenyapnya aktivitas-aktivitas berkehendak, maka lenyap pula kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, maka lenyap pula nama-dan-bentuk; dengan lenyapnya nama-dan-bentuk, maka lenyap pula enam landasan indria; dengan lenyapnya enam landasan indria, maka lenyap pula kontak; dengan lenyapnya kontak, maka lenyap pula perasaan; dengan lenyapnya perasaan, maka lenyap pula ketagihan; dengan lenyapnya ketagihan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini. Ini disebut kebenaran mulia lenyapnya penderitaan.

Anatta dan Nibbana

Karena Buddhisme mengajarkan anatta (bukan diri), maka jika bukan diri yang mencapai Nibbana, lalu apakah/siapakah yang mencapai Nibbana? Pertanyaan ini sering ditanyakan orang-orang yang mempelajari konsep anatta. Sang Buddha sendiri dalam sutta-sutta awal tidak akan menjawab pertanyaan ini karena pertanyaan sejenis ini (“siapa yang mengalami usia tua dan kematian?”, “siapakah yang mengonsumsi makanan?”, dst) menyiratkan suatu pandangan diri di mana terdapat diri yang menjadi agen/pelaku hal tersebut (lihat SN 12.12 dan SN 12.35).

Namun sikap diam Sang Buddha ini tidak dapat memuaskan dahaga orang-orang yang membutuhkan suatu jawaban/solusi. Oleh sebab itu, cendikiawan Buddhis pada masa-masa berikutnya mengembangkan konsep dua jenis kebenaran (sacca/satya), yaitu: kebenaran konvensional (sammuti sacca/samvrti satya) dan kebenaran absolut/mutlak (paramattha sacca/paramartha satya). Pernyataan sehari-hari bahwa terdapat orang/pribadi/diri yang melakukan suatu perbuatan merupakan kebenaran konvensional yang diterima secara umum (menurut pandangan orang-orang awam), namun secara kebenaran absolut (pandangan mereka yang tercerahkan) orang/pribadi/diri itu hanyalah kumpulan unsur-unsur (pancakkandha) yang saling berinteraksi dan tidak dapat berdiri sendiri, bahkan fenomena batin yang dianggap jiwa/roh itu tak lain adalah kesadaran yang muncul bergantung pada fungsi mental lainnya seperti perasaan, persepsi, dan kehendak; kesadaran tidak bisa berfungsi sendiri tanpa jasmani dan fungsi mental lainnya. Seperti halnya kereta hanya eksis secara konvensional, tetapi secara absolut kereta hanya perpaduan komponen-komponen yang membentuk kereta (seperti roda, tempat duduk, kanopi, dst) dan tidak ada “inti kereta” yang bisa berdiri sendiri menjalankan fungsi sebagai kereta tanpa komponen-komponennya. Jadi, menurut Buddhisme, sifat saling ketergantungan ini menyatakan entitas tersebut bukan diri. [Selengkapnya bisa dibaca juga pada artikel tentang konsep dasar anatta ]

Dengan demikian, secara konvensional memang terdapat orang yang mencapai Nibbana, misalnya Siddhartha Gautama yang mencapai pencerahan/Nibbana pada usia 35 tahun dan para siswa beliau yang mencapai hal yang sama dengan mengikuti ajaran beliau. Namun secara absolut tidak ada diri yang mencapai Nibbana, melainkan hanya pancakkandha yang telah padam nafsu, kebencian, dan delusinya dan setelah kematian pancakkandha tersebut tidak akan berlanjut ke kehidupan berikutnya.

Walaupun penjelasan versi dua jenis kebenaran ini bisa menjawab pertanyaan seputar siapakah yang mencapai Nibbana, namun penjelasan ini membutuhkan filosofi Abhidhamma/Abhidharma yang cukup menjelimet sehingga saya sendiri cenderung menghindari penjelasan demikian dan lebih menyukai penjelasan versi yang lebih awal dan sederhana sesuai kotbah pertama Sang Buddha bahwa Nibbana tak lain adalah lenyapnya dukkha dengan memadamkan ketagihan. Lenyapnya dukkha berarti sebab akibat bergantungan (paticcasamuppada) yang memunculkan dukkha telah terhenti. Dengan demikian, Nibbana adalah padamnya proses yang mengakibatkan dukkha itu sendiri tanpa perlu mengasumsikan adanya agen/pelaku yang berperan di dalamnya. Hal ini sama seperti bekerjanya hukum karma dan kelahiran kembali yang dipandang hanyalah sebagai proses sebab akibat yang saling bergantungan; bedanya Nibbana adalah berhentinya proses sebab akibat tersebut sehingga hukum karma dan kelahiran kembali tidak bekerja lagi ketika seorang yang tercerahkan meninggal dunia. Cara pikir di mana harus ada sesuatu yang menjadi agen/pelaku yang menjalani karma, kelahiran kembali, dan mencapai Nibbana adalah cara pikir duniawi yang masih terdelusi oleh pandangan salah tentang diri.

Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha

Apakah kebenaran mulia jalan menuju lenyapnya penderitaan? Adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini, yaitu pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar.

Kebenaran mulia keempat membahas tentang solusi untuk melenyapkan dukkha, yaitu dengan menjalankan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jalan Mulia Berunsur Delapan jmerupakan jalan tengah yang ditemukan Sang Buddha ketika berusaha mencapai pencerahan.

Dikisahkan setelah meninggalkan keduniawian, Pertapa Gotama berguru kepada Alara Kalama yang mengajarkan pencapaian landasan kekosongan (arupajhana III) lalu berguru kepada Uddaka Ramaputta yang mengajarkan pencapaian landasan landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi (arupajhana IV). Menganggap ajaran kedua guru ini tidak membawa pada Nibbana dan hanya kelahiran kembali di alam tanpa bentuk, Pertapa Gotama memutuskan untuk berjuang dengan caranya sendiri, yaitu dengan melakukan pertapaan keras (yang antara lain menggertakkan gigi dan menekan lidah ke langit-langit, bermeditasi tanpa napas, tidak makan sama sekali, dan makan hanya sangat sedikit) sehingga tubuhnya sangat kurus dan hampir mati.

kebenaran_mulia.1766743455.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya