kebenaran_mulia
Perbedaan
Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.
| Kedua sisi revisi sebelumnyaRevisi sebelumnyaRevisi selanjutnya | Revisi sebelumnya | ||
| kebenaran_mulia [2025/12/26 10:47] – [Makna Filosofis Empat Kebenaran Mulia] seniya | kebenaran_mulia [2025/12/26 14:00] (sekarang) – [Penjelasan Doktrinal Empat Kebenaran Mulia] seniya | ||
|---|---|---|---|
| Baris 1: | Baris 1: | ||
| - | ====== Empat Kebenaran Mulia ====== | + | ====== Empat Kebenaran Mulia: Penjelasan Doktrinal dan Makna Filosofis |
| ===== Penjelasan Doktrinal Empat Kebenaran Mulia ===== | ===== Penjelasan Doktrinal Empat Kebenaran Mulia ===== | ||
| - | Empat Kebenaran Mulia pertama kali dijelaskan Sang Buddha dalam pengajaran pertamanya kepada lima pertapa yang menjadi siswa pertamanya di Taman Rusa Isipatana di Benares. Kotbah yang dikenal dengan judul Dhammacakkappavattana Sutta (Kotbah Pemutaran Roda Dhamma) ini ditemukan dalam SN 56.11 dan juga Vinaya Pitaka bagian Mahavagga yang mengisahkan pencerahan Buddha dan penahbisan para bhikkhu pertama. Pada bagian ini kita akan menjelaskan Empat Kebenaran Mulia berdasarkan kotbah pertama | + | Empat Kebenaran Mulia pertama kali dijelaskan Sang Buddha dalam pengajaran pertamanya kepada lima pertapa yang menjadi siswa pertamanya di Taman Rusa Isipatana di Benares. Kotbah yang dikenal dengan judul Dhammacakkappavattana Sutta (Kotbah Pemutaran Roda Dhamma) ini ditemukan dalam SN 56.11 dan juga Vinaya Pitaka bagian Mahavagga yang mengisahkan pencerahan Buddha dan penahbisan para bhikkhu pertama. Pada bagian ini kita akan menjelaskan |
| {{:: | {{:: | ||
| Baris 86: | Baris 86: | ||
| Namun sikap diam Sang Buddha ini tidak dapat memuaskan dahaga orang-orang yang membutuhkan suatu jawaban/ | Namun sikap diam Sang Buddha ini tidak dapat memuaskan dahaga orang-orang yang membutuhkan suatu jawaban/ | ||
| - | Dengan demikian, secara konvensional memang terdapat orang yang mencapai Nibbana, misalnya Siddhartha Gautama yang mencapai pencerahan/ | + | Dengan demikian, secara konvensional memang terdapat orang yang mencapai Nibbana, misalnya Siddhartha Gautama yang mencapai pencerahan/ |
| Walaupun penjelasan versi dua jenis kebenaran ini bisa menjawab pertanyaan seputar siapakah yang mencapai Nibbana, namun penjelasan ini membutuhkan filosofi Abhidhamma/ | Walaupun penjelasan versi dua jenis kebenaran ini bisa menjawab pertanyaan seputar siapakah yang mencapai Nibbana, namun penjelasan ini membutuhkan filosofi Abhidhamma/ | ||
| Baris 157: | Baris 157: | ||
| 1. **Kebenaran mulia tentang dukkha (penderitaan)**, | 1. **Kebenaran mulia tentang dukkha (penderitaan)**, | ||
| - | 2. **Kebenaran mulia tentang sebab dukkha**, yaitu problem kehidupan ini disebabkan oleh keinginan dan kemelekatan/ | + | 2. **Kebenaran mulia tentang sebab dukkha**, yaitu problem kehidupan ini disebabkan oleh keinginan dan kemelekatan/ |
| 3. **Kebenaran mulia tentang lenyapnya dukkha**, yaitu dengan melenyapkan keinginan dan kemelekatan maka ketidakpuasan yang menjadi problem kehidupan akan berakhir (bagi kita orang biasa yang masih bergelut dalam urusan duniawi bisa dimulai dengan mengurangi sedikit demi sedikit keinginan dan kemelekatan ini). | 3. **Kebenaran mulia tentang lenyapnya dukkha**, yaitu dengan melenyapkan keinginan dan kemelekatan maka ketidakpuasan yang menjadi problem kehidupan akan berakhir (bagi kita orang biasa yang masih bergelut dalam urusan duniawi bisa dimulai dengan mengurangi sedikit demi sedikit keinginan dan kemelekatan ini). | ||
| Baris 169: | Baris 169: | ||
| c. __kebijaksanaan (panna)__, yaitu mengembangkan pemahaman yang benar terhadap sifat kehidupan ini yang dicirikan oleh ketidakkekalan (anica), ketidakpuasan (dukkha), dan tidak substansial (anatta). | c. __kebijaksanaan (panna)__, yaitu mengembangkan pemahaman yang benar terhadap sifat kehidupan ini yang dicirikan oleh ketidakkekalan (anica), ketidakpuasan (dukkha), dan tidak substansial (anatta). | ||
| - | Diharapkan dengan | + | Dengan |
| ===== Dukkha dan Pelenyapannya dalam Kehidupan Sehari-hari ===== | ===== Dukkha dan Pelenyapannya dalam Kehidupan Sehari-hari ===== | ||
| Baris 215: | Baris 215: | ||
| > “Yang Mulia, jika ibu Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, bahkan hidupku menjadi tidak tenang, jadi bagaimana mungkin dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, | > “Yang Mulia, jika ibu Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, bahkan hidupku menjadi tidak tenang, jadi bagaimana mungkin dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, | ||
| > | > | ||
| - | > “Demikianlah, | + | > “Demikianlah, |
| Selanjutnya, | Selanjutnya, | ||
| Baris 225: | Baris 225: | ||
| > (2) “Brahmana, | > (2) “Brahmana, | ||
| > | > | ||
| - | > (3) “Brahmana, | + | > (3) “Brahmana, |
| Bahwa keinginan, kemelekatan, | Bahwa keinginan, kemelekatan, | ||
kebenaran_mulia.1766746057.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya
