Wiki DhammaCitta

Buddhisme Indonesia

Alat Pengguna

Alat Situs


kebenaran_mulia

Perbedaan

Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.

Tautan ke tampilan pembanding ini

Kedua sisi revisi sebelumnyaRevisi sebelumnya
Revisi selanjutnya
Revisi sebelumnya
kebenaran_mulia [2025/12/26 10:29] – [Makna Filosofis Empat Kebenaran Mulia] seniyakebenaran_mulia [2025/12/26 14:00] (sekarang) – [Penjelasan Doktrinal Empat Kebenaran Mulia] seniya
Baris 1: Baris 1:
-====== Empat Kebenaran Mulia ======+====== Empat Kebenaran Mulia: Penjelasan Doktrinal dan Makna Filosofis ======
  
 ===== Penjelasan Doktrinal Empat Kebenaran Mulia ===== ===== Penjelasan Doktrinal Empat Kebenaran Mulia =====
  
-Empat Kebenaran Mulia pertama kali dijelaskan Sang Buddha dalam pengajaran pertamanya kepada lima pertapa yang menjadi siswa pertamanya di Taman Rusa Isipatana di Benares. Kotbah yang dikenal dengan judul Dhammacakkappavattana Sutta (Kotbah Pemutaran Roda Dhamma) ini ditemukan dalam SN 56.11 dan juga Vinaya Pitaka bagian Mahavagga yang mengisahkan pencerahan Buddha dan penahbisan para bhikkhu pertama. Pada bagian ini kita akan menjelaskan Empat Kebenaran Mulia berdasarkan kotbah pertama ini+Empat Kebenaran Mulia pertama kali dijelaskan Sang Buddha dalam pengajaran pertamanya kepada lima pertapa yang menjadi siswa pertamanya di Taman Rusa Isipatana di Benares. Kotbah yang dikenal dengan judul Dhammacakkappavattana Sutta (Kotbah Pemutaran Roda Dhamma) ini ditemukan dalam SN 56.11 dan juga Vinaya Pitaka bagian Mahavagga yang mengisahkan pencerahan Buddha dan penahbisan para bhikkhu pertama. Pada bagian ini kita akan menjelaskan aspek doktrinal Empat Kebenaran Mulia berdasarkan kotbah pertama tersebut
  
 {{::dhammacakka.jpg}} {{::dhammacakka.jpg}}
Baris 86: Baris 86:
 Namun sikap diam Sang Buddha ini tidak dapat memuaskan dahaga orang-orang yang membutuhkan suatu jawaban/solusi. Oleh sebab itu, cendikiawan Buddhis pada masa-masa berikutnya mengembangkan konsep dua jenis kebenaran (sacca/satya), yaitu: //kebenaran konvensional (sammuti sacca/samvrti satya)// dan //kebenaran absolut/mutlak (paramattha sacca/paramartha satya)//. Pernyataan sehari-hari bahwa terdapat orang/pribadi/diri yang melakukan suatu perbuatan merupakan kebenaran konvensional yang diterima secara umum (menurut pandangan orang-orang awam), namun secara kebenaran absolut (pandangan mereka yang tercerahkan) orang/pribadi/diri itu hanyalah kumpulan unsur-unsur (pancakkandha) yang saling berinteraksi dan tidak dapat berdiri sendiri, bahkan fenomena batin yang dianggap jiwa/roh itu tak lain adalah kesadaran yang muncul bergantung pada fungsi mental lainnya seperti perasaan, persepsi, dan kehendak; kesadaran tidak bisa berfungsi sendiri tanpa jasmani dan fungsi mental lainnya. Seperti halnya kereta hanya eksis secara konvensional, tetapi secara absolut kereta hanya perpaduan komponen-komponen yang membentuk kereta (seperti roda, tempat duduk, kanopi, dst) dan tidak ada "inti kereta" yang bisa berdiri sendiri menjalankan fungsi sebagai kereta tanpa komponen-komponennya. Jadi, menurut Buddhisme, sifat saling ketergantungan ini menyatakan entitas tersebut bukan diri. [Selengkapnya bisa dibaca juga pada artikel tentang [[anatta#konsep_dasar_anatta_bukan-diri|konsep dasar anatta]] ] Namun sikap diam Sang Buddha ini tidak dapat memuaskan dahaga orang-orang yang membutuhkan suatu jawaban/solusi. Oleh sebab itu, cendikiawan Buddhis pada masa-masa berikutnya mengembangkan konsep dua jenis kebenaran (sacca/satya), yaitu: //kebenaran konvensional (sammuti sacca/samvrti satya)// dan //kebenaran absolut/mutlak (paramattha sacca/paramartha satya)//. Pernyataan sehari-hari bahwa terdapat orang/pribadi/diri yang melakukan suatu perbuatan merupakan kebenaran konvensional yang diterima secara umum (menurut pandangan orang-orang awam), namun secara kebenaran absolut (pandangan mereka yang tercerahkan) orang/pribadi/diri itu hanyalah kumpulan unsur-unsur (pancakkandha) yang saling berinteraksi dan tidak dapat berdiri sendiri, bahkan fenomena batin yang dianggap jiwa/roh itu tak lain adalah kesadaran yang muncul bergantung pada fungsi mental lainnya seperti perasaan, persepsi, dan kehendak; kesadaran tidak bisa berfungsi sendiri tanpa jasmani dan fungsi mental lainnya. Seperti halnya kereta hanya eksis secara konvensional, tetapi secara absolut kereta hanya perpaduan komponen-komponen yang membentuk kereta (seperti roda, tempat duduk, kanopi, dst) dan tidak ada "inti kereta" yang bisa berdiri sendiri menjalankan fungsi sebagai kereta tanpa komponen-komponennya. Jadi, menurut Buddhisme, sifat saling ketergantungan ini menyatakan entitas tersebut bukan diri. [Selengkapnya bisa dibaca juga pada artikel tentang [[anatta#konsep_dasar_anatta_bukan-diri|konsep dasar anatta]] ]
  
-Dengan demikian, secara konvensional memang terdapat orang yang mencapai Nibbana, misalnya Siddhartha Gautama yang mencapai pencerahan/Nibbana pada usia 35 tahun dan para siswa beliau yang mencapai hal yang sama dengan mengikuti ajaran beliau. Namun secara absolut tidak ada diri yang mencapai Nibbana, melainkan hanya pancakkandha yang telah padam nafsu, kebencian, dan delusinya dan setelah kematian pancakkandha tersebut tidak akan berlanjut ke kehidupan berikutnya.+Dengan demikian, secara konvensional memang terdapat orang yang mencapai Nibbana, misalnya Siddhartha Gautama yang mencapai pencerahan/Nibbana pada usia 35 tahun dan para siswa beliau yang mencapai hal yang sama dengan mengikuti ajaran beliau. Namun secara absolut tidak ada diri yang mencapai Nibbana, melainkan hanya pancakkandha yang telah padam nafsu, kebencian, dan delusinya dan setelah kematian pancakkandha tersebut tidak akan berlanjut ke kehidupan berikutnya. Ini juga menyatakan bahwa Nibbana bukan nihilistik karena sesungguhnya Nibbana tidak dicirikan dengan sosok diri yang mencapainya dan yang musnah ketika kematian.
  
 Walaupun penjelasan versi dua jenis kebenaran ini bisa menjawab pertanyaan seputar siapakah yang mencapai Nibbana, namun penjelasan ini membutuhkan filosofi Abhidhamma/Abhidharma yang cukup menjelimet sehingga saya sendiri cenderung menghindari penjelasan demikian dan lebih menyukai penjelasan versi yang lebih awal dan sederhana sesuai kotbah pertama Sang Buddha bahwa Nibbana tak lain adalah lenyapnya dukkha dengan memadamkan ketagihan. Lenyapnya dukkha berarti sebab akibat bergantungan (paticcasamuppada) yang memunculkan dukkha telah terhenti. Dengan demikian, Nibbana adalah padamnya proses yang mengakibatkan dukkha itu sendiri tanpa perlu mengasumsikan adanya agen/pelaku yang berperan di dalamnya. Hal ini sama seperti bekerjanya hukum karma dan kelahiran kembali yang dipandang hanyalah sebagai proses sebab akibat yang saling bergantungan; bedanya Nibbana adalah berhentinya proses sebab akibat tersebut sehingga hukum karma dan kelahiran kembali tidak bekerja lagi ketika seorang yang tercerahkan meninggal dunia. Cara pikir di mana harus ada sesuatu yang menjadi agen/pelaku yang menjalani karma, kelahiran kembali, dan mencapai Nibbana adalah cara pikir duniawi yang masih terdelusi oleh pandangan salah tentang diri. Walaupun penjelasan versi dua jenis kebenaran ini bisa menjawab pertanyaan seputar siapakah yang mencapai Nibbana, namun penjelasan ini membutuhkan filosofi Abhidhamma/Abhidharma yang cukup menjelimet sehingga saya sendiri cenderung menghindari penjelasan demikian dan lebih menyukai penjelasan versi yang lebih awal dan sederhana sesuai kotbah pertama Sang Buddha bahwa Nibbana tak lain adalah lenyapnya dukkha dengan memadamkan ketagihan. Lenyapnya dukkha berarti sebab akibat bergantungan (paticcasamuppada) yang memunculkan dukkha telah terhenti. Dengan demikian, Nibbana adalah padamnya proses yang mengakibatkan dukkha itu sendiri tanpa perlu mengasumsikan adanya agen/pelaku yang berperan di dalamnya. Hal ini sama seperti bekerjanya hukum karma dan kelahiran kembali yang dipandang hanyalah sebagai proses sebab akibat yang saling bergantungan; bedanya Nibbana adalah berhentinya proses sebab akibat tersebut sehingga hukum karma dan kelahiran kembali tidak bekerja lagi ketika seorang yang tercerahkan meninggal dunia. Cara pikir di mana harus ada sesuatu yang menjadi agen/pelaku yang menjalani karma, kelahiran kembali, dan mencapai Nibbana adalah cara pikir duniawi yang masih terdelusi oleh pandangan salah tentang diri.
Baris 157: Baris 157:
 1. **Kebenaran mulia tentang dukkha (penderitaan)**, yaitu terdapat ketidakpuasan dalam kehidupan ini yang merupakan masalah/problem kehidupan bagi semua orang. 1. **Kebenaran mulia tentang dukkha (penderitaan)**, yaitu terdapat ketidakpuasan dalam kehidupan ini yang merupakan masalah/problem kehidupan bagi semua orang.
  
-2. **Kebenaran mulia tentang sebab dukkha**, yaitu problem kehidupan ini disebabkan oleh keinginan dan kemelekatan/keterikatan kita terhadap hal-hal yang kita cintai/sukai.+2. **Kebenaran mulia tentang sebab dukkha**, yaitu problem kehidupan ini disebabkan oleh keinginan dan kemelekatan/keterikatan kita terhadap hal-hal yang kita cintai/sukai. Lihat pembahasan [[#dukkha_dan_pelenyapannya_dalam_kehidupan_sehari-hari|di bawah ini]].
  
 3. **Kebenaran mulia tentang lenyapnya dukkha**, yaitu dengan melenyapkan keinginan dan kemelekatan maka ketidakpuasan yang menjadi problem kehidupan akan berakhir (bagi kita orang biasa yang masih bergelut dalam urusan duniawi bisa dimulai dengan mengurangi sedikit demi sedikit keinginan dan kemelekatan ini). 3. **Kebenaran mulia tentang lenyapnya dukkha**, yaitu dengan melenyapkan keinginan dan kemelekatan maka ketidakpuasan yang menjadi problem kehidupan akan berakhir (bagi kita orang biasa yang masih bergelut dalam urusan duniawi bisa dimulai dengan mengurangi sedikit demi sedikit keinginan dan kemelekatan ini).
Baris 169: Baris 169:
 c. __kebijaksanaan (panna)__, yaitu mengembangkan pemahaman yang benar terhadap sifat kehidupan ini yang dicirikan oleh ketidakkekalan (anica), ketidakpuasan (dukkha), dan tidak substansial (anatta). c. __kebijaksanaan (panna)__, yaitu mengembangkan pemahaman yang benar terhadap sifat kehidupan ini yang dicirikan oleh ketidakkekalan (anica), ketidakpuasan (dukkha), dan tidak substansial (anatta).
  
-Diharapkan dengan menerapkan empat kebenaran mulia ini dalam kehidupan kita sehari-hari, walaupun problem kehidupan yang kita hadapi tidak serta merta langsung tuntas dan lenyap selamanya, kita dapat menghadapi problem kehidupan tersebut dengan lebih baik dan jernih, tidak terbawa dalam penderitaan berkepanjangan (stress/depresi), dan dapat menjalani kehidupan dengan tenang dan damai di tengah-tengah hiruk pikuk dunia ini.+Dengan menerapkan empat kebenaran mulia ini dalam kehidupan kita sehari-hari, walaupun problem kehidupan yang kita hadapi tidak serta merta langsung tuntas dan lenyap selamanya, kita dapat menghadapi problem kehidupan tersebut dengan lebih baik dan jernih, tidak terbawa dalam penderitaan berkepanjangan yang menyebabkan stress/depresi, dan dapat menjalani kehidupan dengan tenang dan damai di tengah-tengah hiruk pikuk dunia ini.
  
 ===== Dukkha dan Pelenyapannya dalam Kehidupan Sehari-hari ===== ===== Dukkha dan Pelenyapannya dalam Kehidupan Sehari-hari =====
  
-Dalam SN 42.11 Sang Buddha dengan contoh kehidupan sehari-hari yang sering kita jumpai untuk menjelaskan penyebab problem kehidupan berakar dari keinginan dan kemelekatan dengan sangat mengena, yaitu sbb:+Dalam SN 42.11 Sang Buddha memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari yang sering kita jumpai untuk menjelaskan penyebab problem kehidupan berakar dari keinginan dan kemelekatan (sesuai dengan Empat Kebenaran Mulia) dengan sangat mengena, yaitu sbb:
  
-    Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di sebuah pemukiman orang-orang Malla bernama Uruvelakappa. Kemudian Bhadraka sang kepala desa mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: “Baik sekali, Yang Mulia, jika Sang Bhagavā sudi mengajarkan kepadaku mengenai asal-mula dan lenyapnya penderitaan.” +>    Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di sebuah pemukiman orang-orang Malla bernama Uruvelakappa. Kemudian Bhadraka sang kepala desa mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: “Baik sekali, Yang Mulia, jika Sang Bhagavā sudi mengajarkan kepadaku mengenai asal-mula dan lenyapnya penderitaan.” 
- +> 
-    “Jika, kepala desa, Aku mengajarkan kepadamu mengenai asal-mula dan lenyapnya penderitaan masa lalu, dengan mengatakan, ‘Demikianlah telah terjadi di masa lalu,’ kebingungan dan keraguan mengenai hal itu akan muncul dalam dirimu. Dan jika Aku mengajarkan kepadamu mengenai asal-mula dan lenyapnya penderitaan masa depan, dengan mengatakan, ‘Demikianlah akan terjadi di masa depan,’ kebingungan dan keraguan mengenai hal itu akan muncul dalam dirimu. Sebaliknya, kepala desa, selagi Aku duduk di sini, dan engkau duduk di sana, Aku akan mengajarkan kepadamu mengenai asal-mula dan lenyapnya penderitaan. Dengarkan dan perhatikanlah, Aku akan menjelaskan.” +   “Jika, kepala desa, Aku mengajarkan kepadamu mengenai asal-mula dan lenyapnya penderitaan masa lalu, dengan mengatakan, ‘Demikianlah telah terjadi di masa lalu,’ kebingungan dan keraguan mengenai hal itu akan muncul dalam dirimu. Dan jika Aku mengajarkan kepadamu mengenai asal-mula dan lenyapnya penderitaan masa depan, dengan mengatakan, ‘Demikianlah akan terjadi di masa depan,’ kebingungan dan keraguan mengenai hal itu akan muncul dalam dirimu. Sebaliknya, kepala desa, selagi Aku duduk di sini, dan engkau duduk di sana, Aku akan mengajarkan kepadamu mengenai asal-mula dan lenyapnya penderitaan. Dengarkan dan perhatikanlah, Aku akan menjelaskan.” 
- +> 
-    “Baik, Yang Mulia,” kepala desa Bhadraka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: +   “Baik, Yang Mulia,” kepala desa Bhadraka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: 
- +> 
-    “Bagaimana menurutmu, kepala desa? Adakah orang-orang di Uruvelakappa yang karenanya dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan akan muncul dalam dirimu jika mereka dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela?” +   “Bagaimana menurutmu, kepala desa? Adakah orang-orang di Uruvelakappa yang karenanya dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan akan muncul dalam dirimu jika mereka dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela?” 
- +> 
-    “Ada orang-orang demikian, Yang Mulia.” +   “Ada orang-orang demikian, Yang Mulia.” 
- +> 
-    “Tetapi adakah orang-orang di Uruvelakappa yang karenanya dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan tidak akan muncul dalam dirimu dalam peristiwa demikian?” +   “Tetapi adakah orang-orang di Uruvelakappa yang karenanya dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan tidak akan muncul dalam dirimu dalam peristiwa demikian?” 
- +> 
-    “Ada orang-orang demikian, Yang Mulia.” +   “Ada orang-orang demikian, Yang Mulia.” 
- +> 
-    “Apakah, kepala desa, sebab dan alasan mengapa sehubungan dengan beberapa orang di Uruvelakappa maka dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul dalam dirimu jika mereka dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, sementara sehubungan dengan orang-orang lainnya dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam dirimu?” +   “Apakah, kepala desa, sebab dan alasan mengapa sehubungan dengan beberapa orang di Uruvelakappa maka dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul dalam dirimu jika mereka dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, sementara sehubungan dengan orang-orang lainnya dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam dirimu?” 
- +> 
-    “Orang-orang di Uruvelakappa itu, Yang Mulia, yang sehubungan dengan mereka dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul dalam diriku jika mereka dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela—mereka adalah orang-orang yang kepada mereka aku memiliki keinginan dan kemelekatan. Tetapi orang-orang di Uruvelakappa itu, yang sehubungan dengan mereka tidak ada dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul dalam diriku—mereka adalah orang-orang yang kepada mereka aku tidak memiliki keinginan dan kemelekatan.” +   “Orang-orang di Uruvelakappa itu, Yang Mulia, yang sehubungan dengan mereka dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul dalam diriku jika mereka dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela—mereka adalah orang-orang yang kepada mereka aku memiliki keinginan dan kemelekatan. Tetapi orang-orang di Uruvelakappa itu, yang sehubungan dengan mereka tidak ada dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul dalam diriku—mereka adalah orang-orang yang kepada mereka aku tidak memiliki keinginan dan kemelekatan.” 
- +> 
-    “Kepala desa, dengan prinsip ini yang terlihat, dipahami, segera tercapai, terukur, terapkan metode ini ke masa lalu dan ke masa depan sebagai berikut: ‘Penderitaan apa pun yang muncul di masa lalu, semuanya itu muncul dengan berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan. Penderitaan apa pun yang muncul di masa depan, semuanya itu muncul dengan berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan.’” +   “Kepala desa, dengan prinsip ini yang terlihat, dipahami, segera tercapai, terukur, terapkan metode ini ke masa lalu dan ke masa depan sebagai berikut: ‘Penderitaan apa pun yang muncul di masa lalu, semuanya itu muncul dengan berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan. Penderitaan apa pun yang muncul di masa depan, semuanya itu muncul dengan berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan.’” 
- +> 
-    “Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sungguh menakjubkan, Yang Mulia! Betapa indahnya hal itu dinyatakan oleh Sang Bhagavā: ‘Penderitaan apa pun yang muncul, semuanya berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan.’ Yang Mulia, aku memiliki seorang anak bernama Ciravāsī, yang menetap di tempat lain. Aku bangun pagi-pagi dan mengutus seseorang, dengan mengatakan, ‘Pergilah, dan lihat bagaimana keadaan Ciravāsī.’ Sampai orang itu kembali, Yang Mulia, aku merasa tidak tenang, berpikir, ‘Kuharap Ciravāsī tidak mengalami penderitaan apa pun!’” +   “Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sungguh menakjubkan, Yang Mulia! Betapa indahnya hal itu dinyatakan oleh Sang Bhagavā: ‘Penderitaan apa pun yang muncul, semuanya berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan.’ Yang Mulia, aku memiliki seorang anak bernama Ciravāsī, yang menetap di tempat lain. Aku bangun pagi-pagi dan mengutus seseorang, dengan mengatakan, ‘Pergilah, dan lihat bagaimana keadaan Ciravāsī.’ Sampai orang itu kembali, Yang Mulia, aku merasa tidak tenang, berpikir, ‘Kuharap Ciravāsī tidak mengalami penderitaan apa pun!’” 
- +> 
-    “Bagaimana menurutmu, kepala desa? Jika Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, apakah dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan akan muncul dalam dirimu?” +   “Bagaimana menurutmu, kepala desa? Jika Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, apakah dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan akan muncul dalam dirimu?” 
- +> 
-    “Yang Mulia, jika Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, bahkan hidupku menjadi tidak tenang, jadi bagaimana mungkin dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam diriku?” +   “Yang Mulia, jika Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, bahkan hidupku menjadi tidak tenang, jadi bagaimana mungkin dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam diriku?” 
- +> 
-    “Demikianlah, kepala desa, dapat dipahami: ‘Penderitaan apa pun yang muncul, semuanya itu muncul dengan berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan.’ +   “Demikianlah, kepala desa, dapat dipahami: ‘Penderitaan apa pun yang muncul, semuanya itu muncul dengan berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan.’ 
- +> 
-    “Bagaimana menurutmu, kepala desa? Sebelum engkau bertemu dengan ibu Ciravāsī atau mendengar tentangnya, apakah engkau memiliki keinginan, kemelekatan, atau kasih sayang terhadapnya?” +   “Bagaimana menurutmu, kepala desa? Sebelum engkau bertemu dengan ibu Ciravāsī atau mendengar tentangnya, apakah engkau memiliki keinginan, kemelekatan, atau kasih sayang terhadapnya?” 
- +> 
-    “Tidak, Yang Mulia.” +   “Tidak, Yang Mulia.” 
- +> 
-    “Kalau begitu apakah, kepala desa, karena melihatnya atau mendengar tentangnya maka keinginan, kemelekatan, dan kasih sayang muncul dalam dirimu?” +   “Kalau begitu apakah, kepala desa, karena melihatnya atau mendengar tentangnya maka keinginan, kemelekatan, dan kasih sayang muncul dalam dirimu?” 
- +> 
-    “Benar, Yang Mulia.” +   “Benar, Yang Mulia.” 
- +> 
-    “Bagaimana menurutmu, kepala desa? Jika ibu Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, apakah dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan akan muncul dalam dirimu?” +   “Bagaimana menurutmu, kepala desa? Jika ibu Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, apakah dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan akan muncul dalam dirimu?” 
- +> 
-    “Yang Mulia, jika ibu Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, bahkan hidupku menjadi tidak tenang, jadi bagaimana mungkin dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam diriku?” +   “Yang Mulia, jika ibu Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, bahkan hidupku menjadi tidak tenang, jadi bagaimana mungkin dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam diriku?” 
- +> 
-    “Demikianlah, kepala desa, dapat dipahami: ‘Penderitaan apa pun yang muncul, semuanya itu muncul dengan berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan.’”[3]+   “Demikianlah, kepala desa, dapat dipahami: ‘**Penderitaan apa pun yang muncul, semuanya itu muncul dengan berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan.**’”
  
 Selanjutnya, dalam AN 3.53 Sang Buddha ketika ditanya oleh seorang brahmana menjelaskan bahwa kondisi-kondisi batin yang tidak bermanfaat, yaitu nafsu, kebencian, dan delusi/kebodohan batin, menyebabkan penderitaan diri sendiri dan orang lain, sedangkan mereka yang tidak diliputi oleh kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat ini bebas dari penderitaan/dukkha (problem kehidupan): Selanjutnya, dalam AN 3.53 Sang Buddha ketika ditanya oleh seorang brahmana menjelaskan bahwa kondisi-kondisi batin yang tidak bermanfaat, yaitu nafsu, kebencian, dan delusi/kebodohan batin, menyebabkan penderitaan diri sendiri dan orang lain, sedangkan mereka yang tidak diliputi oleh kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat ini bebas dari penderitaan/dukkha (problem kehidupan):
  
-    “Guru Gotama, dikatakan: ‘Suatu Dhamma yang terlihat secara langsung, suatu Dhamma yang terlihat secara langsung.’ Dengan cara bagaimanakah Dhamma itu terlihat secara langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat diterapkan, untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana?” +>    “Guru Gotama, dikatakan: ‘Suatu Dhamma yang terlihat secara langsung, suatu Dhamma yang terlihat secara langsung.’ Dengan cara bagaimanakah Dhamma itu terlihat secara langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat diterapkan, untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana?” 
- +> 
-    (1) “Brahmana, seseorang yang tergerak oleh nafsu, dikendalikan oleh nafsu, dengan pikiran dikuasai oleh nafsu, menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya, dan ia mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Tetapi ketika nafsu ditinggalkan, ia tidak menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya, dan ia tidak mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Dengan cara inilah Dhamma itu terlihat secara langsung … +   (1) “Brahmana, seseorang yang tergerak oleh nafsu, dikendalikan oleh nafsu, dengan pikiran dikuasai oleh nafsu, menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya, dan ia mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Tetapi ketika nafsu ditinggalkan, ia tidak menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya, dan ia tidak mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Dengan cara inilah Dhamma itu terlihat secara langsung … 
- +> 
-    (2) “Brahmana, seseorang yang penuh kebencian, dikendalikan oleh kebencian, dengan pikiran dikuasai oleh kebencian, menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya, dan ia mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Tetapi ketika kebencian ditinggalkan, ia tidak menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya, dan ia tidak mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Dengan cara ini juga, bahwa Dhamma itu terlihat secara langsung … +   (2) “Brahmana, seseorang yang penuh kebencian, dikendalikan oleh kebencian, dengan pikiran dikuasai oleh kebencian, menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya, dan ia mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Tetapi ketika kebencian ditinggalkan, ia tidak menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya, dan ia tidak mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Dengan cara ini juga, bahwa Dhamma itu terlihat secara langsung … 
- +> 
-    (3) “Brahmana, seseorang yang terdelusi, dikendalikan oleh delusi, dengan pikiran dikuasai oleh delusi, menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya, dan ia mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Tetapi ketika delusi ditinggalkan, ia tidak menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya, dan ia tidak mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Dengan cara ini juga, bahwa Dhamma itu terlihat secara langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat diterapkan, untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana.”[4]+   (3) “Brahmana, seseorang yang terdelusi, dikendalikan oleh delusi, dengan pikiran dikuasai oleh delusi, menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya, dan ia mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Tetapi ketika delusi ditinggalkan, ia tidak menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya, dan ia tidak mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Dengan cara ini juga, bahwa Dhamma itu terlihat secara langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat diterapkan, untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana.”
  
 Bahwa keinginan, kemelekatan, nafsu/keserakahan, kebencian, dan delusi ini adalah akar semua problem kehidupan kita, ini sangat masuk akal dan dapat dibuktikan/dilihat langsung oleh siapa pun. Selain itu, Sang Buddha juga mengajarkan jalan membebaskan diri dari problem kehidupan/dukkha ini melalui latihan spiritual Buddhis. Bahwa keinginan, kemelekatan, nafsu/keserakahan, kebencian, dan delusi ini adalah akar semua problem kehidupan kita, ini sangat masuk akal dan dapat dibuktikan/dilihat langsung oleh siapa pun. Selain itu, Sang Buddha juga mengajarkan jalan membebaskan diri dari problem kehidupan/dukkha ini melalui latihan spiritual Buddhis.
kebenaran_mulia.1766744960.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya