Wiki DhammaCitta

Buddhisme Indonesia

Alat Pengguna

Alat Situs


kebenaran_mulia

Perbedaan

Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.

Tautan ke tampilan pembanding ini

Kedua sisi revisi sebelumnyaRevisi sebelumnya
Revisi selanjutnya
Revisi sebelumnya
kebenaran_mulia [2025/12/26 09:47] – [Anatta dan Nibbana] seniyakebenaran_mulia [2025/12/26 14:00] (sekarang) – [Penjelasan Doktrinal Empat Kebenaran Mulia] seniya
Baris 1: Baris 1:
-====== Empat Kebenaran Mulia ======+====== Empat Kebenaran Mulia: Penjelasan Doktrinal dan Makna Filosofis ======
  
-===== Kebenaran Mulia Tentang Dukkha =====+===== Penjelasan Doktrinal Empat Kebenaran Mulia ===== 
 + 
 +Empat Kebenaran Mulia pertama kali dijelaskan Sang Buddha dalam pengajaran pertamanya kepada lima pertapa yang menjadi siswa pertamanya di Taman Rusa Isipatana di Benares. Kotbah yang dikenal dengan judul Dhammacakkappavattana Sutta (Kotbah Pemutaran Roda Dhamma) ini ditemukan dalam SN 56.11 dan juga Vinaya Pitaka bagian Mahavagga yang mengisahkan pencerahan Buddha dan penahbisan para bhikkhu pertama. Pada bagian ini kita akan menjelaskan aspek doktrinal Empat Kebenaran Mulia berdasarkan kotbah pertama tersebut.  
 + 
 +{{::dhammacakka.jpg}} 
 + 
 +> Gambar 1. Sang Buddha mengajarkan kotbah pertama tentang jalan tengah dan Empat Kebenaran Mulia kepada lima orang pertapa yang kemudian menjadi lima orang siswa pertama beliau di Taman Rusa Isipatana, Benares. 
 +==== Kebenaran Mulia Tentang Dukkha ====
  
 >    //“Sekarang ini, para bhikkhu, adalah kebenaran mulia penderitaan (dukkha): kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan; berkumpul dengan apa yang tidak menyenangkan adalah penderitaan; berpisah dengan apa yang menyenangkan adalah penderitaan; tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, kelima kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan adalah penderitaan.// >    //“Sekarang ini, para bhikkhu, adalah kebenaran mulia penderitaan (dukkha): kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan; berkumpul dengan apa yang tidak menyenangkan adalah penderitaan; berpisah dengan apa yang menyenangkan adalah penderitaan; tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, kelima kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan adalah penderitaan.//
Baris 27: Baris 34:
 >    … dengan penderitaan sebagai penyebab terdekat, maka keyakinan [muncul]; dengan keyakinan sebagai penyebab terdekat, maka kegembiraan [muncul]; dengan kegembiraan sebagai penyebab terdekat, maka sukacita [muncul]; dengan sukacita sebagai penyebab terdekat, maka ketenangan [muncul]; dengan ketenangan sebagai penyebab terdekat, maka kebahagiaan [muncul]; dengan kebahagiaan sebagai penyebab terdekat, maka konsentrasi [muncul]; dengan konsentrasi sebagai penyebab terdekat, maka pengetahuan dan penglihatan atas segala sesuatu sebagaimana adanya [muncul]; dengan pengetahuan dan penglihatan atas segala sesuatu sebagaimana adanya sebagai penyebab terdekat, maka kejijikan [muncul]; dengan kejijikan sebagai penyebab terdekat, maka kebosanan [muncul]; dengan kebosanan sebagai penyebab terdekat, maka kebebasan [muncul]; dengan kebebasan sebagai penyebab terdekat, maka pengetahuan penghancuran [muncul]. >    … dengan penderitaan sebagai penyebab terdekat, maka keyakinan [muncul]; dengan keyakinan sebagai penyebab terdekat, maka kegembiraan [muncul]; dengan kegembiraan sebagai penyebab terdekat, maka sukacita [muncul]; dengan sukacita sebagai penyebab terdekat, maka ketenangan [muncul]; dengan ketenangan sebagai penyebab terdekat, maka kebahagiaan [muncul]; dengan kebahagiaan sebagai penyebab terdekat, maka konsentrasi [muncul]; dengan konsentrasi sebagai penyebab terdekat, maka pengetahuan dan penglihatan atas segala sesuatu sebagaimana adanya [muncul]; dengan pengetahuan dan penglihatan atas segala sesuatu sebagaimana adanya sebagai penyebab terdekat, maka kejijikan [muncul]; dengan kejijikan sebagai penyebab terdekat, maka kebosanan [muncul]; dengan kebosanan sebagai penyebab terdekat, maka kebebasan [muncul]; dengan kebebasan sebagai penyebab terdekat, maka pengetahuan penghancuran [muncul].
  
-===== Kebenaran Mulia tentang Sebab Dukkha =====+==== Kebenaran Mulia tentang Sebab Dukkha ====
  
 >    //“Sekarang ini, para bhikkhu, adalah kebenaran mulia asal-mula penderitaan: adalah ketagihan yang menuntun menuju penjelmaan baru, disertai dengan kesenangan dan nafsu, mencari kenikmatan di sana-sini; yaitu, ketagihan pada kenikmatan indria, ketagihan pada penjelmaan, ketagihan pada pemusnahan.// >    //“Sekarang ini, para bhikkhu, adalah kebenaran mulia asal-mula penderitaan: adalah ketagihan yang menuntun menuju penjelmaan baru, disertai dengan kesenangan dan nafsu, mencari kenikmatan di sana-sini; yaitu, ketagihan pada kenikmatan indria, ketagihan pada penjelmaan, ketagihan pada pemusnahan.//
Baris 65: Baris 72:
 >    Dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, maka bentukan-bentukan kehendak [muncul]; dengan bentukan-bentukan kehendak sebagai kondisi, kesadaran; dengan kesadaran sebagai kondisi, nama-dan-bentuk [muncul]; dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi, enam landasan indria [muncul]; dengan enam landasan indria sebagai kondisi, kontak; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan [muncul]; dengan perasaan sebagai kondisi, ketagihan [muncul]; dengan ketagihan sebagai kondisi, kemelekatan [muncul]; dengan kemelekatan sebagai kondisi, penjelmaan [muncul]; dengan penjelmaan sebagai kondisi, kelahiran [muncul]; dengan kelahiran sebagai kondisi, penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul. Demikianlah asal-mula dari keseluruhan kumpulan penderitaan. [SN 12.1] >    Dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, maka bentukan-bentukan kehendak [muncul]; dengan bentukan-bentukan kehendak sebagai kondisi, kesadaran; dengan kesadaran sebagai kondisi, nama-dan-bentuk [muncul]; dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi, enam landasan indria [muncul]; dengan enam landasan indria sebagai kondisi, kontak; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan [muncul]; dengan perasaan sebagai kondisi, ketagihan [muncul]; dengan ketagihan sebagai kondisi, kemelekatan [muncul]; dengan kemelekatan sebagai kondisi, penjelmaan [muncul]; dengan penjelmaan sebagai kondisi, kelahiran [muncul]; dengan kelahiran sebagai kondisi, penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul. Demikianlah asal-mula dari keseluruhan kumpulan penderitaan. [SN 12.1]
  
-===== Kebenaran Mulia tentang Lenyapnya Dukkha =====+==== Kebenaran Mulia tentang Lenyapnya Dukkha ====
  
 >    //Apakah kebenaran mulia lenyapnya penderitaan? Adalah peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketagihan yang sama itu, meninggalkan dan melepaskannya, kebebasan darinya, tidak bergantung padanya.// >    //Apakah kebenaran mulia lenyapnya penderitaan? Adalah peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketagihan yang sama itu, meninggalkan dan melepaskannya, kebebasan darinya, tidak bergantung padanya.//
Baris 73: Baris 80:
 > “Dan apakah, para bhikkhu, kebenaran mulia lenyapnya penderitaan? Dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidak-tahuan maka lenyap pula aktivitas-aktivitas berkehendak; dengan lenyapnya aktivitas-aktivitas berkehendak, maka lenyap pula kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, maka lenyap pula nama-dan-bentuk; dengan lenyapnya nama-dan-bentuk, maka lenyap pula enam landasan indria; dengan lenyapnya enam landasan indria, maka lenyap pula kontak; dengan lenyapnya kontak, maka lenyap pula perasaan; dengan lenyapnya perasaan, maka lenyap pula ketagihan; dengan lenyapnya ketagihan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini. Ini disebut kebenaran mulia lenyapnya penderitaan. > “Dan apakah, para bhikkhu, kebenaran mulia lenyapnya penderitaan? Dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidak-tahuan maka lenyap pula aktivitas-aktivitas berkehendak; dengan lenyapnya aktivitas-aktivitas berkehendak, maka lenyap pula kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, maka lenyap pula nama-dan-bentuk; dengan lenyapnya nama-dan-bentuk, maka lenyap pula enam landasan indria; dengan lenyapnya enam landasan indria, maka lenyap pula kontak; dengan lenyapnya kontak, maka lenyap pula perasaan; dengan lenyapnya perasaan, maka lenyap pula ketagihan; dengan lenyapnya ketagihan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini. Ini disebut kebenaran mulia lenyapnya penderitaan.
  
-==== Anatta dan Nibbana ====+=== Anatta dan Nibbana ===
  
 Karena Buddhisme mengajarkan anatta (bukan diri), maka jika bukan diri yang mencapai Nibbana, lalu apakah/siapakah yang mencapai Nibbana? Pertanyaan ini sering ditanyakan orang-orang yang mempelajari konsep anatta. Sang Buddha sendiri dalam sutta-sutta awal tidak akan menjawab pertanyaan ini karena pertanyaan sejenis ini ("siapa yang mengalami usia tua dan kematian?", "siapakah yang mengonsumsi makanan?", dst) menyiratkan suatu pandangan diri di mana terdapat diri yang menjadi agen/pelaku hal tersebut (lihat SN 12.12 dan SN 12.35). Karena Buddhisme mengajarkan anatta (bukan diri), maka jika bukan diri yang mencapai Nibbana, lalu apakah/siapakah yang mencapai Nibbana? Pertanyaan ini sering ditanyakan orang-orang yang mempelajari konsep anatta. Sang Buddha sendiri dalam sutta-sutta awal tidak akan menjawab pertanyaan ini karena pertanyaan sejenis ini ("siapa yang mengalami usia tua dan kematian?", "siapakah yang mengonsumsi makanan?", dst) menyiratkan suatu pandangan diri di mana terdapat diri yang menjadi agen/pelaku hal tersebut (lihat SN 12.12 dan SN 12.35).
  
-Namun sikap diam Sang Buddha ini tidak dapat memuaskan dahaga orang-orang yang membutuhkan suatu jawaban/solusi. Oleh sebab itu, cendikiawan Buddhis pada masa-masa berikutnya mengembangkan konsep dua jenis kebenaran (sacca/satya), yaitu: //kebenaran konvensional (sammuti sacca/samvrti satya)// dan //kebenaran absolut/mutlak (paramattha sacca/paramartha satya)//. Pernyataan sehari-hari bahwa terdapat orang/pribadi/diri yang melakukan suatu perbuatan merupakan kebenaran konvensional yang diterima secara umum (menurut pandangan orang-orang awam), namun secara kebenaran absolut (pandangan mereka yang tercerahkan) orang/pribadi/diri itu hanyalah kumpulan unsur-unsur (pancakkandha) yang saling berinteraksi dan tidak dapat berdiri sendiri, bahkan fenomena batin yang dianggap jiwa/roh itu tak lain adalah kesadaran yang muncul bergantung pada fungsi mental lainnya seperti perasaan, persepsi, dan kehendak; kesadaran tidak bisa berfungsi sendiri tanpa jasmani dan fungsi mental lainnya. Seperti halnya kereta hanya eksis secara konvensional, tetapi secara absolut kereta hanya perpaduan komponen-komponen yang membentuk kereta (seperti roda, tempat duduk, kanopi, dst) dan tidak ada "inti kereta" yang bisa berdiri sendiri menjalankan fungsi sebagai kereta tanpa komponen-komponennya. Jadi, menurut Buddhisme, sifat saling ketergantungan ini menyatakan entitas tersebut bukan diri. [Baca juga pembahasan konsep dasar anatta di [[anatta#konsep_dasar_anatta_bukan-diri]] ]+Namun sikap diam Sang Buddha ini tidak dapat memuaskan dahaga orang-orang yang membutuhkan suatu jawaban/solusi. Oleh sebab itu, cendikiawan Buddhis pada masa-masa berikutnya mengembangkan konsep dua jenis kebenaran (sacca/satya), yaitu: //kebenaran konvensional (sammuti sacca/samvrti satya)// dan //kebenaran absolut/mutlak (paramattha sacca/paramartha satya)//. Pernyataan sehari-hari bahwa terdapat orang/pribadi/diri yang melakukan suatu perbuatan merupakan kebenaran konvensional yang diterima secara umum (menurut pandangan orang-orang awam), namun secara kebenaran absolut (pandangan mereka yang tercerahkan) orang/pribadi/diri itu hanyalah kumpulan unsur-unsur (pancakkandha) yang saling berinteraksi dan tidak dapat berdiri sendiri, bahkan fenomena batin yang dianggap jiwa/roh itu tak lain adalah kesadaran yang muncul bergantung pada fungsi mental lainnya seperti perasaan, persepsi, dan kehendak; kesadaran tidak bisa berfungsi sendiri tanpa jasmani dan fungsi mental lainnya. Seperti halnya kereta hanya eksis secara konvensional, tetapi secara absolut kereta hanya perpaduan komponen-komponen yang membentuk kereta (seperti roda, tempat duduk, kanopi, dst) dan tidak ada "inti kereta" yang bisa berdiri sendiri menjalankan fungsi sebagai kereta tanpa komponen-komponennya. Jadi, menurut Buddhisme, sifat saling ketergantungan ini menyatakan entitas tersebut bukan diri. [Selengkapnya bisa dibaca juga pada artikel tentang [[anatta#konsep_dasar_anatta_bukan-diri|konsep dasar anatta]] ] 
 + 
 +Dengan demikian, secara konvensional memang terdapat orang yang mencapai Nibbana, misalnya Siddhartha Gautama yang mencapai pencerahan/Nibbana pada usia 35 tahun dan para siswa beliau yang mencapai hal yang sama dengan mengikuti ajaran beliau. Namun secara absolut tidak ada diri yang mencapai Nibbana, melainkan hanya pancakkandha yang telah padam nafsu, kebencian, dan delusinya dan setelah kematian pancakkandha tersebut tidak akan berlanjut ke kehidupan berikutnya. Ini juga menyatakan bahwa Nibbana bukan nihilistik karena sesungguhnya Nibbana tidak dicirikan dengan sosok diri yang mencapainya dan yang musnah ketika kematian. 
 + 
 +Walaupun penjelasan versi dua jenis kebenaran ini bisa menjawab pertanyaan seputar siapakah yang mencapai Nibbana, namun penjelasan ini membutuhkan filosofi Abhidhamma/Abhidharma yang cukup menjelimet sehingga saya sendiri cenderung menghindari penjelasan demikian dan lebih menyukai penjelasan versi yang lebih awal dan sederhana sesuai kotbah pertama Sang Buddha bahwa Nibbana tak lain adalah lenyapnya dukkha dengan memadamkan ketagihan. Lenyapnya dukkha berarti sebab akibat bergantungan (paticcasamuppada) yang memunculkan dukkha telah terhenti. Dengan demikian, Nibbana adalah padamnya proses yang mengakibatkan dukkha itu sendiri tanpa perlu mengasumsikan adanya agen/pelaku yang berperan di dalamnya. Hal ini sama seperti bekerjanya hukum karma dan kelahiran kembali yang dipandang hanyalah sebagai proses sebab akibat yang saling bergantungan; bedanya Nibbana adalah berhentinya proses sebab akibat tersebut sehingga hukum karma dan kelahiran kembali tidak bekerja lagi ketika seorang yang tercerahkan meninggal dunia. Cara pikir di mana harus ada sesuatu yang menjadi agen/pelaku yang menjalani karma, kelahiran kembali, dan mencapai Nibbana adalah cara pikir duniawi yang masih terdelusi oleh pandangan salah tentang diri. 
 + 
 +==== Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha ==== 
 + 
 +>    //Apakah kebenaran mulia jalan menuju lenyapnya penderitaan? Adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini, yaitu pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar.// 
 + 
 +Kebenaran mulia keempat membahas tentang solusi untuk melenyapkan dukkha, yaitu dengan menjalankan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jalan Mulia Berunsur Delapan jmerupakan jalan tengah yang ditemukan Sang Buddha ketika berusaha mencapai pencerahan. 
 + 
 +Dikisahkan setelah meninggalkan keduniawian, Pertapa Gotama berguru kepada Alara Kalama yang mengajarkan pencapaian landasan kekosongan (arupajhana III) lalu berguru kepada Uddaka Ramaputta yang mengajarkan pencapaian landasan landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi (arupajhana IV). Menganggap ajaran kedua guru ini tidak membawa pada Nibbana dan hanya kelahiran kembali di alam tanpa bentuk, Pertapa Gotama memutuskan untuk berjuang dengan caranya sendiri, yaitu dengan melakukan pertapaan keras (yang antara lain menggertakkan gigi dan menekan lidah ke langit-langit, bermeditasi tanpa napas, tidak makan sama sekali, dan makan hanya sangat sedikit) sehingga tubuhnya sangat kurus dan hampir mati. 
 + 
 +{{:pertapa_gotama.jpg}} 
 + 
 +> Gambar 2. Kondisi Pertapa Gotama yang kurus kering karena pertapaan keras yang dijalankannya selama 6 tahun. 
 + 
 +Dalam kemunduran fisiknya Pertapa Gotama teringat pada pengalamannya sewaktu kecil ketika bermeditasi di bawah pohon jambu dan setelah meninggalkan nafsu indria mencapai jhana I yang disertai kenikmatan dan sukacita yang muncul dari keterasingan (dari nafsu). Pengalaman ini menyadarkan Pertapa Gotama bahwa kenikmatan dan sukacita tidak seharusnya ditakuti dan dilenyapkan dengan pertapaan keras, melainkan jika muncul dari keterasingan dapat dimeditasikan sebagai jalan menuju pencerahan. Berbekal dari pengalaman inilah Pertapa Gotama akhirnya mencapai pencerahan melalui pencapaian jhana-jhana. 
 + 
 +Dari pengalaman pencapaian pencerahan tersebut Sang Buddha menyatakan Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai jalan tengah yang disebutkan pada awal kotbah pertama beliau: 
 + 
 +>    “Para bhikkhu, dua ekstrim ini tidak boleh diikuti oleh seorang yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Apakah dua ini? Mengejar kebahagiaan indria dalam kenikmatan indria, yang rendah, kasar, cara-cara kaum duniawi, tidak mulia, tidak bermanfaat; dan mengejar penyiksaan diri, yang menyakitkan, tidak mulia, tidak bermanfaat. Tanpa berbelok ke arah salah satu dari ekstrim-ekstrim ini, Sang Tathāgata telah membangkitkan jalan tengah, yang memunculkan penglihatan, yang memunculkan pengetahuan, yang menuntun menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbāna. 
 +
 +>    “Dan apakah, para bhikkhu, jalan tengah yang telah dibangkitkan oleh Sang Tathāgata itu, yang memunculkan penglihatan … yang menuntun menuju Nibbāna? Adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar. Ini, para bhikkhu, adalah jalan tengah yang telah dibangkitkan oleh Sang Tathāgata itu, yang memunculkan penglihatan, yang memunculkan pengetahuan, yang menuntun menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbāna. 
 + 
 +Dua ekstrem yang harus dihindari seorang pertapa adalah kemanjaan dalam kenikmatan indria (yang biasanya dilakukan oleh orang-orang duniawi yang hidup dalam rumah tangga) dan pertapaan keras/penyiksaan diri (yang umumnya dilakukan oleh para pertapa India kuno pada masa Sang Buddha dengan pandangan bahwa kenikmatan dan sukacita dilawan dengan penyiksaan diri agar jiwa yang terikat pada jasmani dapat terbebaskan, suatu pandangan yang pernah dianut oleh pertapa Gotama sebelum pencerahannya). 
 + 
 +{{::roda_dharma.webp|100}} 
 + 
 +> Gambar 3. Roda Dhamma/Dharma (Dhammacakka/Dharmacakra) berjeruji delapan yang melambangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan. 
 + 
 +Untuk menghindari kedua ekstrem yang tidak bermanfaat dalam kemajuan spiritual ini, Sang Buddha mengajarkan Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai jalan tengahnya: 
 + 
 +  - **Pandangan benar**, yaitu pemahaman empat kebenaran mulia (dukkha, sebabnya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya) melalui penembusan meditatif. 
 +  - **Kehendak benar**, yaitu kehendak melepaskan keduniawian, tanpa permusuhan/kebencian, dan tidak melukai makhluk hidup. 
 +  - **Ucapan benar**, yaitu ucapan yang menghindari kebohongan, ucapan fitnah/memecah belah, ucapan kasar, dan gosip/obrolan tanpa tujuan. 
 +  - **Perbuatan benar**, yaitu menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, dan menghindari hubungan seksual. 
 +  - **Penghidupan benar**, yaitu mencari empat kebutuhan pokok (papan, sandang, pangan, dan tempat tinggal) sesuai dengan Dhamma. 
 +  - **Usaha/upaya benar**, yaitu mengerahkan usaha untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang belum muncul, melenyapkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang telah muncul, memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul, dan mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul. (Kondisi tidak bermanfaat adalah kondisi pikiran yang dipenuhi keserakahan, kebencian, dan delusi; kondisi bermanfaat adalah kondisi pikiran yang bebas dari keserakahan, kebencian, dan delusi/kebodohan batin). 
 +  - **Perhatian benar**, yaitu meditasi perhatian penuh (mindfulness) terhadap fenomena fisik/jasmani, perasaan, pikiran. dan objek pikiran (dhamma). 
 +  - **Konsentrasi benar**, yaitu pencapaian ketenangan meditatif (samatha) dari jhana I s/d IV yang diperlukan bersama pandangan benar untuk menghancurkan noda-noda batin dan mencapai lenyapnya dukkha (Nibbana). 
 + 
 +==== Penembusan Empat Kebenaran Mulia sebagai Inti Pencerahan Sang Buddha ==== 
 + 
 +>    //Ketika **pengetahuanKu dan penglihatanKu pada Empat Kebenaran Mulia** sebagaimana adanya ini dengan tiga tahap dan dua belas aspeknya ini telah sepenuhnya dimurnikan dengan cara ini, maka **Aku mengaku telah tercerahkan hingga pencerahan sempurna yang tiada taranya** di dunia ini dengan para deva, Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia. Pengetahuan dan penglihatan muncul padaKu: **‘Kebebasan batinKu tidak tergoyahkan. Ini adalah kelahiranKu yang terakhir. Tidak akan ada lagi penjelmaan baru.’**// 
 + 
 +Dalam kotbah pertamanya Sang Buddha mengatakan bahwa melalui pengetahuan langsung atau penembusan beliau atas Empat Kebenaran Mulia beliau mencapai pencerahan sempurna yang tiada bandingnya (anuttara sammasambodhi). [Dengan demikian, dalam Buddhisme awal pencapaian Kebuddhaan tak berbeda dengan pencapaian Arahant]. Penembusan Empat Kebenaran Mulia ini dilakukan dalam 3 tahap dan 12 aspek, yaitu: 
 + 
 +- Pengetahuan bahwa inilah Kebenaran Mulia (sacca ñāna): (a) inilah dukkha, (b) inilah sebab dukkha, (c) inilah lenyapnya dukkha, dan (d) inilah jalan menuju lenyapnya dukkha. 
 +- Pengetahuan bahwa fungsi tertentu dari Kebenaran Mulia seharusnya dilakukan (kicca ñāna): (a) dukkha harus dipahami, (b) sebab dukkha harus dilenyapkan, (c) lenyapnya dukkha harus direalisasikan/dicapai, dan (d) jalan menuju lenyapnya dukkha harus dikembangkan/dilatih. 
 +- Pengetahuan bahwa fungsi tertentu dari Kebenaran Mulia telah dilakukan (kata ñāna): (a) dukkha telah dipahami, (b) sebab dukkha telah dilenyapkan, (c) lenyapnya dukkha telah direalisasikan, dan (d) jalan menuju lenyapnya dukkha telah dikembangkan. 
 + 
 +Karena terdapat 4 Kebenaran Mulia dengan masing-masing 3 tahap pengetahuannya, maka secara keseluruhan ada 3 x 4 = 12 aspek pengetahuan atas Kebenaran Mulia seperti di atas. 
 + 
 +Dalam kata-kata beliau sendiri Sang Buddha mengatakan bagaimana melalui konsentrasi benar yang merupakan puncak pengembangan Jalan Mulia Berunsur Delapan beliau menembus Empat Kebenaran Mulia untuk mencapai pencerahan: 
 + 
 +>    “Ketika konsentrasi pikiranKu [dari jhana IV] sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘**Ini adalah penderitaan**’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘**Ini adalah asal-mula penderitaan**’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘**Ini adalah lenyapnya penderitaan**’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘**Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan**.’ Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’ 
 +
 +>    “Ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, pikiranKu terbebas dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda Ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘terbebaskan.’ Aku secara langsung mengetahui: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi makhluk apapun.’ 
 +
 +>    “Ini adalah pengetahuan sejati ke tiga yang dicapai olehKu pada jaga ke tiga malam itu. Ketidak-tahuan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh. 
 + 
 +Jadi, dengan pikiran terkonsentrasi dari pencapaian jhana IV seseorang merenungkan Empat Kebenaran Mulia ini hingga dapat menembusnya dengan pengetahuan langsung dan mencapai lenyapnya noda-noda kekotoran batin sehingga terbebaskan sepenuhnya dari kelahiran kembali (Nibbana). 
 + 
 +Demikianlah penjelasan Empat Kebenaran Mulia dalam Buddhisme awal yang tak lain adalah inti pencerahan Sang Buddha yang beliau sampaikan dalam kotbah pertamanya. 
 + 
 +===== Makna Filosofis Empat Kebenaran Mulia ===== 
 + 
 +Secara filosofi, intisari apa yang diajarkan Buddha adalah tentang dukkha dan pelenyapannya yang terdapat dalam empat kebenaran mulia, yaitu: 
 + 
 +1. **Kebenaran mulia tentang dukkha (penderitaan)**, yaitu terdapat ketidakpuasan dalam kehidupan ini yang merupakan masalah/problem kehidupan bagi semua orang. 
 + 
 +2. **Kebenaran mulia tentang sebab dukkha**, yaitu problem kehidupan ini disebabkan oleh keinginan dan kemelekatan/keterikatan kita terhadap hal-hal yang kita cintai/sukai. Lihat pembahasan [[#dukkha_dan_pelenyapannya_dalam_kehidupan_sehari-hari|di bawah ini]]. 
 + 
 +3. **Kebenaran mulia tentang lenyapnya dukkha**, yaitu dengan melenyapkan keinginan dan kemelekatan maka ketidakpuasan yang menjadi problem kehidupan akan berakhir (bagi kita orang biasa yang masih bergelut dalam urusan duniawi bisa dimulai dengan mengurangi sedikit demi sedikit keinginan dan kemelekatan ini). 
 + 
 +4. **Kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya dukkha**, yaitu solusi atas problem kehidupan ini dalam bentuk latihan spiritual yang disebut jalan mulia berunsur delapan yang secara praktis dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok latihan: 
 + 
 +a. __moralitas (sila)__, yaitu menjaga ucapan dan perbuatan kita agar tidak melakukan hal-hal yang buruk dan mengembangkan hal-hal yang baik, 
 + 
 +b. __konsentrasi (samadhi)__ atau meditasi, yaitu mengendalikan pikiran dan senantiasa penuh perhatian dalam aktivitas sehari-hari agar kondisi-kondisi batin yang tidak bermanfaat tidak muncul, dan 
 + 
 +c. __kebijaksanaan (panna)__, yaitu mengembangkan pemahaman yang benar terhadap sifat kehidupan ini yang dicirikan oleh ketidakkekalan (anica), ketidakpuasan (dukkha), dan tidak substansial (anatta). 
 + 
 +Dengan menerapkan empat kebenaran mulia ini dalam kehidupan kita sehari-hari, walaupun problem kehidupan yang kita hadapi tidak serta merta langsung tuntas dan lenyap selamanya, kita dapat menghadapi problem kehidupan tersebut dengan lebih baik dan jernih, tidak terbawa dalam penderitaan berkepanjangan yang menyebabkan stress/depresi, dan dapat menjalani kehidupan dengan tenang dan damai di tengah-tengah hiruk pikuk dunia ini. 
 + 
 +===== Dukkha dan Pelenyapannya dalam Kehidupan Sehari-hari ===== 
 + 
 +Dalam SN 42.11 Sang Buddha memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari yang sering kita jumpai untuk menjelaskan penyebab problem kehidupan berakar dari keinginan dan kemelekatan (sesuai dengan Empat Kebenaran Mulia) dengan sangat mengena, yaitu sbb: 
 + 
 +>    Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di sebuah pemukiman orang-orang Malla bernama Uruvelakappa. Kemudian Bhadraka sang kepala desa mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: “Baik sekali, Yang Mulia, jika Sang Bhagavā sudi mengajarkan kepadaku mengenai asal-mula dan lenyapnya penderitaan.” 
 +
 +>    “Jika, kepala desa, Aku mengajarkan kepadamu mengenai asal-mula dan lenyapnya penderitaan masa lalu, dengan mengatakan, ‘Demikianlah telah terjadi di masa lalu,’ kebingungan dan keraguan mengenai hal itu akan muncul dalam dirimu. Dan jika Aku mengajarkan kepadamu mengenai asal-mula dan lenyapnya penderitaan masa depan, dengan mengatakan, ‘Demikianlah akan terjadi di masa depan,’ kebingungan dan keraguan mengenai hal itu akan muncul dalam dirimu. Sebaliknya, kepala desa, selagi Aku duduk di sini, dan engkau duduk di sana, Aku akan mengajarkan kepadamu mengenai asal-mula dan lenyapnya penderitaan. Dengarkan dan perhatikanlah, Aku akan menjelaskan.” 
 +
 +>    “Baik, Yang Mulia,” kepala desa Bhadraka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: 
 +
 +>    “Bagaimana menurutmu, kepala desa? Adakah orang-orang di Uruvelakappa yang karenanya dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan akan muncul dalam dirimu jika mereka dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela?” 
 +
 +>    “Ada orang-orang demikian, Yang Mulia.” 
 +
 +>    “Tetapi adakah orang-orang di Uruvelakappa yang karenanya dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan tidak akan muncul dalam dirimu dalam peristiwa demikian?” 
 +
 +>    “Ada orang-orang demikian, Yang Mulia.” 
 +
 +>    “Apakah, kepala desa, sebab dan alasan mengapa sehubungan dengan beberapa orang di Uruvelakappa maka dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul dalam dirimu jika mereka dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, sementara sehubungan dengan orang-orang lainnya dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam dirimu?” 
 +
 +>    “Orang-orang di Uruvelakappa itu, Yang Mulia, yang sehubungan dengan mereka dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul dalam diriku jika mereka dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela—mereka adalah orang-orang yang kepada mereka aku memiliki keinginan dan kemelekatan. Tetapi orang-orang di Uruvelakappa itu, yang sehubungan dengan mereka tidak ada dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul dalam diriku—mereka adalah orang-orang yang kepada mereka aku tidak memiliki keinginan dan kemelekatan.” 
 +
 +>    “Kepala desa, dengan prinsip ini yang terlihat, dipahami, segera tercapai, terukur, terapkan metode ini ke masa lalu dan ke masa depan sebagai berikut: ‘Penderitaan apa pun yang muncul di masa lalu, semuanya itu muncul dengan berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan. Penderitaan apa pun yang muncul di masa depan, semuanya itu muncul dengan berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan.’” 
 +
 +>    “Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sungguh menakjubkan, Yang Mulia! Betapa indahnya hal itu dinyatakan oleh Sang Bhagavā: ‘Penderitaan apa pun yang muncul, semuanya berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan.’ Yang Mulia, aku memiliki seorang anak bernama Ciravāsī, yang menetap di tempat lain. Aku bangun pagi-pagi dan mengutus seseorang, dengan mengatakan, ‘Pergilah, dan lihat bagaimana keadaan Ciravāsī.’ Sampai orang itu kembali, Yang Mulia, aku merasa tidak tenang, berpikir, ‘Kuharap Ciravāsī tidak mengalami penderitaan apa pun!’” 
 +
 +>    “Bagaimana menurutmu, kepala desa? Jika Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, apakah dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan akan muncul dalam dirimu?” 
 +
 +>    “Yang Mulia, jika Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, bahkan hidupku menjadi tidak tenang, jadi bagaimana mungkin dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam diriku?” 
 +
 +>    “Demikianlah, kepala desa, dapat dipahami: ‘Penderitaan apa pun yang muncul, semuanya itu muncul dengan berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan.’ 
 +
 +>    “Bagaimana menurutmu, kepala desa? Sebelum engkau bertemu dengan ibu Ciravāsī atau mendengar tentangnya, apakah engkau memiliki keinginan, kemelekatan, atau kasih sayang terhadapnya?” 
 +
 +>    “Tidak, Yang Mulia.” 
 +
 +>    “Kalau begitu apakah, kepala desa, karena melihatnya atau mendengar tentangnya maka keinginan, kemelekatan, dan kasih sayang muncul dalam dirimu?” 
 +
 +>    “Benar, Yang Mulia.” 
 +
 +>    “Bagaimana menurutmu, kepala desa? Jika ibu Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, apakah dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan akan muncul dalam dirimu?” 
 +
 +>    “Yang Mulia, jika ibu Ciravāsī dieksekusi, dipenjara, dihukum, atau dicela, bahkan hidupku menjadi tidak tenang, jadi bagaimana mungkin dukacita, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam diriku?” 
 +
 +>    “Demikianlah, kepala desa, dapat dipahami: ‘**Penderitaan apa pun yang muncul, semuanya itu muncul dengan berakar pada keinginan, dengan keinginan sebagai sumbernya; karena keinginan adalah akar dari penderitaan.**’” 
 + 
 +Selanjutnya, dalam AN 3.53 Sang Buddha ketika ditanya oleh seorang brahmana menjelaskan bahwa kondisi-kondisi batin yang tidak bermanfaat, yaitu nafsu, kebencian, dan delusi/kebodohan batin, menyebabkan penderitaan diri sendiri dan orang lain, sedangkan mereka yang tidak diliputi oleh kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat ini bebas dari penderitaan/dukkha (problem kehidupan): 
 + 
 +>    “Guru Gotama, dikatakan: ‘Suatu Dhamma yang terlihat secara langsung, suatu Dhamma yang terlihat secara langsung.’ Dengan cara bagaimanakah Dhamma itu terlihat secara langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat diterapkan, untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana?” 
 +
 +>    (1) “Brahmana, seseorang yang tergerak oleh nafsu, dikendalikan oleh nafsu, dengan pikiran dikuasai oleh nafsu, menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya, dan ia mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Tetapi ketika nafsu ditinggalkan, ia tidak menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya, dan ia tidak mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Dengan cara inilah Dhamma itu terlihat secara langsung … 
 +
 +>    (2) “Brahmana, seseorang yang penuh kebencian, dikendalikan oleh kebencian, dengan pikiran dikuasai oleh kebencian, menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya, dan ia mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Tetapi ketika kebencian ditinggalkan, ia tidak menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya, dan ia tidak mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Dengan cara ini juga, bahwa Dhamma itu terlihat secara langsung … 
 +
 +>    (3) “Brahmana, seseorang yang terdelusi, dikendalikan oleh delusi, dengan pikiran dikuasai oleh delusi, menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya, dan ia mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Tetapi ketika delusi ditinggalkan, ia tidak menghendaki penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya, dan ia tidak mengalami penderitaan batin dan kesedihan. Dengan cara ini juga, bahwa Dhamma itu terlihat secara langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat diterapkan, untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana.” 
 + 
 +Bahwa keinginan, kemelekatan, nafsu/keserakahan, kebencian, dan delusi ini adalah akar semua problem kehidupan kita, ini sangat masuk akal dan dapat dibuktikan/dilihat langsung oleh siapa pun. Selain itu, Sang Buddha juga mengajarkan jalan membebaskan diri dari problem kehidupan/dukkha ini melalui latihan spiritual Buddhis.
kebenaran_mulia.1766742464.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya