isi_kosong

Ini adalah dokumen versi lama!


Makna Kutipan "Isi adalah Kosong, Kosong adalah Isi" dari Sutra Hati

Pernyataan “isi adalah kosong, kosong adalah isi” merupakan salah terjemahan dari Sutra Mahayana berjudul Prajnaparamita Hrdaya Sutra (atau lebih dikenal sebagai Sutra Hati), yang dipopulerkan oleh film Perjalanan ke Barat/Kera Sakti (Sun Go Kong). Berikut kutipan Prajnaparamita Hrdaya Sutra dalam bahasa Sanskrit aslinya:

Iha, Śāriputra, rūpaṁ śūnyatā, śūnyataiva rūpaṁ;
Oh Sariputra, bentuk adalah kekosongan, kekosongan adalah bentuk;

rūpān na pṛthak śūnyatā, śunyatāyā na pṛthag rūpaṁ;
bentuk tidak berbeda dari kekosongan, kekosongan tidak berbeda dari bentuk;

yad rūpaṁ, sā śūnyatā; ya śūnyatā, tad rūpaṁ;
apa pun bentuk adalah kekosongan, apa pun kekosongan adalah bentuk;

evam eva vedanā-saṁjñā-saṁskāra-vijñānaṁ.
demikian juga halnya untuk perasaan, persepsi, bentukan pikiran, dan kesadaran.

Baris “rūpaṁ śūnyatā, śūnyataiva rūpaṁ” inilah yang diterjemahkan secara serampangan sebagai “isi adalah kosong, kosong adalah isi”, kemungkinan karena diterjemahkan dari teks bahasa China 色是空,空是色 (se shi kong, kong shi se) di mana kata 色 (se = rupa) dapat juga diterjemahkan sebagai “wujud” yang dianggap sama dengan “isi” sebagai lawan dari kata 空 (kong = kosong).

Namun demikian pernyataan “bentuk adalah kekosongan, kekosongan adalah bentuk” juga sulit dipahami karena umumnya dalam Buddhisme, bentuk [rūpa] (ataupun kelompok unsur kehidupan/skandha lainnya seperti perasaan [vedanā], persepsi [saṁjñā], bentukan pikiran [saṁskāra], dan kesadaran [vijñāna]) disamakan dengan “kosong” [śūnya] (kata sifat), yaitu kosong dari diri (atman/atta) atau kosong dari sifat intrinsik (svabhava), bukan dengan “kekosongan” [śūnyatā] (kata benda). Ini menyebabkan banyak yang mengalami kesulitan dalam memaknai pernyataan ini. Bahkan para komentator Buddhis kuno yang menulis komentar/penjelasan Sutra Hati menafsirkan pernyataan ini berdasarkan filosofi Buddhis tertentu yang mereka anut, bukan berdasarkan warisan tradisi kitab suci yang kembali pada penyusunan aslinya. Oleh sebab itu, agar dapat memahami makna pernyataan ini, kita perlu menelusuri sumbernya dari literatur Prajnaparamita awal.

Sumber Tekstual Mahayana yang Lebih Tua

Menurut penelitian Jayarava Attwood dalam makalahnya berjudul The Form is (Not) Emptiness: The Enigma of the Heart of the Heart Sutra, ungkapan “bentuk adalah kekosongan” dan “kekosongan adalah bentuk” dapat ditelusuri bersumber dari Prajnaparamita Sutra yang jauh lebih panjang berjudul Pañcaviṃśatisāhasrikā Prajñāpāramitā Sūtra (Sutra Kebijaksanaan Sempurna dalam 25.000 Baris) [untuk selanjutnya disingkat sebagai Panca]. Dalam teks ini ditemukan pernyataan sebagai berikut:

nānyad rūpam anyā śūnyatā
Bukan bentuk adalah satu hal dan kekosongan adalah hal lainnya

nānyā śūnyatā anyad rūpaṃ
Bukan kekosongan adalah satu hal dan bentuk adalah hal lainnya

rūpam eva śūnyatā
Bentuk adalah kekosongan

śūnyataiva rūpam
Kekosongan adalah bentuk

Bentuk Sanskrit “na anya X anya Y” [bukan X adalah satu hal dan Y adalah hal lainnya] (dari Panca) dan “X na prthag Y” [X tidak berbeda dari Y] (dari Sutra Hati) memiliki makna yang bersinonim, yaitu X dan Y bukanlah hal yang berbeda.

Menurut analisis historis, teks Panca merupakan perluasan dari teks Prajnaparamita Sutra yang lebih pendek, yaitu Aṣṭasāhasrikā Prajñāpāramitā Sūtra (Sutra Kebijaksanaan Sempurna dalam 8.000 Baris) [disingkat sebagai Asta] dan keduanya memiliki struktur yang mirip. Namun pernyataan “bentuk tidak berbeda dari kekosongan” dan seterusnya seperti dalam Panca dan Sutra Hati tidak ditemukan dalam Asta. Tetapi dalam bab pertama Asta terdapat tanya jawab antara Sang Buddha dan Subhuti sbb:

Subhuti: Jika Sang Bhagavan ditanya, “Apakah manusia ilusi (māyā puruṣa) akan berlatih dalam kemahatahuan (sarvajñatā), akan mendekatinya, atau akan keluar darinya?” Bagaimanakah Sang Bhagavan menjelaskan jawaban pertanyaan ini?

Buddha: Bagaimanakah menurutmu, Subhuti? Apakah ilusi berbeda dari bentuk? Apakah ilusi berbeda dari perasaan, persepsi, dan bentukan pikiran? Apakah ilusi berbeda dari kesadaran?

Subhuti: Sang Bhagavan, ilusi tidak berbeda dari bentuk (na hi anyā sā māyā anyat tad rūpam); ilusi adalah bentuk (rūpam eva māyā); bentuk adalah ilusi (māya iva rūpam). Demikian juga, Sang Bhagavan, ilusi tidak berbeda dari perasaan, persepsi, dan bentukan pikiran; perasaan, persepsi, dan bentukan pikiran adalah ilusi; ilusi adalah perasaan, persepsi, dan bentukan pikiran. Sang Bhagavan, ilusi tidak berbeda dari kesadaran; ilusi adalah kesadaran; kesadaran adalah ilusi.

Jawaban Subhuti di atas bahwa ilusi tidak berbeda dengan bentuk bermakna sama dengan bentuk “na anya X anya Y”, hanya berbeda konstruksi kalimat dalam Sanskrit karena perbedaan sandhi. Dengan demikian, pernyataan Asta ini merupakan sumber dari pernyataan Panca bentuk dan kekosongan bukan hal yang berbeda dengan mengganti kata “ilusi” (māyā) dengan “kekosongan” (śūnyatā). Inilah sumber asli pernyataan “bentuk adalah kekosongan, kekosongan adalah bentuk” dalam Sutra Hati.

Selain itu, kita juga menemukan hubungan antara lima skandha dan ilusi dalam Ratnaguṇasaṃcaya Gāthā (Rgs) yang berisi syair-syair yang merangkum ajaran Prajnaparamita dalam bab pertama syair 14 sebagai berikut:

māyopamāṃ ya iha jānati pañca skandhāṃ
Di sini ia mengetahui lima kelompok unsur kehidupan bagaikan ilusi

na ca māya anya na ca skandha karoti anyān
Dan tidak menganggap ilusi adalah satu hal dan kelompok unsur kehidupan adalah hal lainnya;

nānātvasaṃjñavigato upaśāntacārī
Bebas dari persepsi keberagaman, ia berlatih dalam kedamaian;

eṣā sa prajñavarapāramitāya caryā
Inilah praktik kebijaksanaan sempurna yang tertinggi.

Ini menyatakan bahwa memahami lima skandha bagaikan ilusi (māyopamāṃ) merupakan praktik utama untuk mengembangkan kebijaksanaan sempurna dalam literatur Prajnaparamita awal.

Lima Skandha sebagai Kekosongan atau Ilusi dalam Buddhisme Awal

Dalam teks Buddhisme awal, hubungan antara bentuk dan ilusi juga dinyatakan dalam bentuk perumpamaan, misalnya dalam SN 22.95 Pheṇapiṇḍūpama Sutta dikatakan:

Demikian pula, para bhikkhu, bentuk apa pun juga, apakah di masa lalu, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat: seorang bhikkhu memeriksanya, merenungkannya, dan dengan seksama menyelidikinya, dan ia akan melihatnya sebagai hampa (rittaka), kosong (tucchaka), tanpa inti/substansi (asāraka). Karena inti/substansi (sāra) apakah yang dapat berada di dalam bentuk?

Dalam memaknai kutipan sutta di atas, kita mendefinisikan bentuk bukan sebagai realitas yang benar-benar ada/nyata (makna ontologis), melainkan sebagai pengalaman yang muncul ketika indria berinteraksi dengan objeknya (makna epistemologis). Pendekatan epistemologis ini lebih sesuai dengan ajaran Buddha yang menekankan pentingnya dunia pengalaman indria daripada dunia yang membentuk realitas eksternal [disebutkan dalam SN 35.23, SN 35.68, dan SN 35.116 bahwa “dunia pengalaman” mencakup segala hal yang dihasilkan dari interaksi/kontak 6 landasan indera dan objeknya dan kita hanya secara langsung mengetahui fenomena dalam “dunia pengalaman” ini. Kita tidak dapat mengetahui secara pasti apakah realitas eksternal (di luar hal-hal yang diketahui melalui 6 landasan indera) adalah nyata atau tidak karena kita hanya memiliki pengamatan terhadap fenomena dari kacamata kita sendiri.]

Dengan demikian, pengalaman “bentuk” yang kita alami muncul karena indria mata bertemu dengan suatu objek visual yang memunculkan kesadaran penglihatan (cakkhu-vinnana). Objek indria meskipun dianggap nyata dalam Buddhisme, namun hanyalah landasan bagi pengalaman indria dan bukan inti/substansi atau esensi pengalaman itu sendiri. Walaupun kita mengalami bentuk atau memiliki bentuk, tidak ada “inti/substansi/esensi bentuk” yang ada dengan sendirinya/intrinsik (svabhava) karena “bentuk” ini hanyalah pengalaman yang muncul dan lenyap berdasarkan sebab dan kondisi (patticasamuppada). Setelah menyelidiki demikian, seseorang melihat bentuk yang dialaminya sebagai hampa, kosong, dan tanpa inti/substansi, seperti yang dijelaskan dalam kutipan SN 22.95 di atas.

Sutta ini kemudian ditutup dengan syair yang menegaskan kembali perumpamaan lima skandha sebagai ilusi sebagai berikut:

Pheṇapiṇḍūpamaṁ rūpaṁ
Bentuk adalah bagaikan segumpal buih,

vedanā bubbuḷūpamā
Perasaan bagaikan gelembung air,

Marīcikūpamā saññā
Persepsi bagaikan fatamorgana,

saṅkhārā kadalūpamā
Bentukan pikiran bagaikan batang pohon pisang,

Māyūpamañca viññāṇaṁ
Dan kesadaran bagaikan ilusi;

desitādiccabandhunā
Demikianlah dijelaskan oleh Kerabat Matahari.

Maka dapat kita telusuri bahwa pernyataan “lima skandha bagaikan ilusi” dari Rgs yang kemudian dikembangkan menjadi “bentuk adalah ilusi” dalam Asta diturunkan dari perumpamaan lima skandha sebagai ilusi dalam Buddhisme awal. Dengan demikian, kita akan lebih mudah memahami pernyataan Sutra Hati “bentuk adalah kekosongan, kekosongan adalah bentuk” melalui pendekatan Buddhisme awal yang merupakan sumber pertamanya.

Kesimpulan

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pernyataan “bentuk adalah kekosongan” dalam Sutra Hati merupakan evolusi tekstual dari pernyataan “bentuk adalah ilusi” dalam teks panjang Prajnaparamita Sutra yang lebih awal dan berasal dari perumpamaan “lima skandha bagaikan ilusi” yang juga ditemukan dalam teks Buddhisme awal (SN 22.95). Oleh sebab itu, kita dapat memahami maksud kalimat terkenal Sutra Hati ini (yang salah diterjemahkan sebagai “isi adalah kosong, kosong adalah isi”) sebagai berikut:

“Bentuk adalah kekosongan” = Bentuk hanyalah pengalaman indria yang bersifat bagaikan kekosongan atau ilusi (hampa, kosong, dan tanpa inti/substansi)

“Kekosongan adalah bentuk” = Pengalaman indria yang bersifat bagaikan kekosongan/ilusi sesungguhnya mewujudkan apa yang kita alami sebagai bentuk

Demikian juga, dengan cara yang sama (seperti penjelasan pengalaman “bentuk” dari kutipan SN 22.95 di atas) kita dapat memahami bahwa perasaan, persepsi, bentukan pikiran, dan kesadaran hanyalah pengalaman indria yang bersifat bagaikan kekosongan/ilusi dan pengalaman indria itulah yang mewujudkan apa yang kita alami sebagai empat skandha tersebut.

Tentu saja pemahaman secara teoretis ini tidak cukup untuk menembus kebijaksanaan sempurna (Prajnaparamita) yang tertinggi. Seperti yang dinyatakan dalam kutipan syair Rgs 1.14 di atas, untuk mencapai kebijaksanaan sempurna tertinggi, seseorang harus membebaskan dirinya dari persepsi keberagaman (nānātvasaṃjña/nānattasaññā) sehingga ia dapat berlatih dalam kedamaian (upaśānta). Persepsi keberagaman adalah beranekaragam persepsi yang muncul dari interaksi indria dan objeknya, yaitu berbagai jenis persepsi bentuk, suara, bebauan, rasa kecapan, sentuhan, dan pemikiran [lihat SN 14.7], yang membebani pikiran kita. Lawannnya adalah persepsi kesatuan (ekattasaññā) yang menyebabkan pikiran lebih relaks/tenang dan terpusat/terkonsentrasi.

Untuk membebaskan diri dari persepsi keberagaman, seseorang harus berlatih memperhatikan persepsi dari yang kasar/beranekaragam menuju yang lebih halus/terpusat secara bertahap dalam meditasi kekosongan (sunnatavihara) yang dijelaskan pada MN 121 [lihat artikel Konsep Kekosongan (Sunyata) dan Asal Mula Historisnya ]. Melalui meditasi ini seseorang mencapai ketenangan/kedamaian karena bebas dari persepsi keberagaman yang mengganggu pikiran. Dalam keadaan meditatif yang damai ini ia dapat melihat “bentuk adalah kekosongan, kekosongan adalah bentuk” secara langsung. Demikianlah dengan praktik ini ia mencapai kebijaksanaan sempurna yang tertinggi melalui pemahaman langsung.

isi_kosong.1765091814.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya