Ini adalah dokumen versi lama!
Daftar isi
Sejarah Terbentuknya Nikāya/Āgama
Pendahuluan
Keutamaan Nikāya/Āgama sebagai Sumber Ajaran Buddhisme Awal
Dalam studi Buddhisme awal, sutta-sutta dalam Nikāya-Nikāya dan paralelnya dalam Āgama menjadi sumber utama untuk menggali ajaran Buddhisme awal. Terdapat beberapa alasan mengapa Nikāya/Āgama dijadikan sumber yang lebih diutamakan dalam mempelajari Buddhisme awal/prasektarian dibandingkan teks-teks kuno Buddhis lainnya (misalnya Abhidhamma/Abhidharma dan Sutra Mahayana), yaitu:
Nikāya/Āgama
- Isi ajaran yang terkandung dalam Nikāya/Āgama hampir identik dalam semua aliran Buddhisme awal. Penjelasan sederhana untuk hal ini adalah mereka berasal dari ajaran-ajaran Buddhisme pra-sektarian yang sama.
- Terdapat bukti arkeologis yang berasal dari masa Asoka (kira-kira 200 tahun setelah Buddha wafat) yang menyebutkan nama-nama sutta individual yang dapat ditemukan dalam Nikāya saat ini.
- Semua aliran Buddhis menganggap ajaran-ajaran yang terkandung dalam Nikāya/Āgama sebagai otentik (berasal dari Buddha langsung)
- Sutta-sutta dalam Nikāya/Āgama menunjuk pada sutta-sutta lain dalam kumpulan tersebut, bukan pada teks-teks Abhidhamma atau literatur lainnya.
Abhidhamma/Abhidharma
- Gaya bahasa dan isi ajaran dalam Abhidhamma/Abhidharma menunjukkan perkembangan yang belakangan dibandingkan dengan Nikāya/Āgama.
- Abhidhamma/Abhidharma masing-masing aliran berbeda satu sama lain, bahkan ada aliran yang menolak keseluruhan teks Abhidharma.
- Sumber-sumber awal baik tekstual maupun arkeologis tidak mengetahui adanya Abhidharma/Abhidhamma sebagai ajaran khusus yang lebih mendalam.
- Abhidharma/Abhidhamma tidak menyatakan dirinya sebagai ucapan Buddha langsung, melainkan klaim ini berasal dari kitab-kitab komentar/penjelasan yang belakangan.
Sutra Mahayana
- Sutra-sutra Mahayana disusun dalam bahasa Sanskrit (BHS = Buddhist Hybrid Sanskrit) yang baru digunakan/ditemukan sekitar 500 tahun setelah wafatnya Sang Buddha. Perlu dicatat bahwa ketika sutra-sutra Mahayana disusun dalam bahasa Sanskrit, sutra-sutra awal dalam beberapa aliran (termasuk yang dipertahankan dalam Āgama Sutra berbahasa Cina) diterjemahkan pada periode yang sama dari bahasa Prakrit (bahasa India kuno yang mendekati bahasa Pali) ke bahasa Sanskrit.
- Gaya kesusasteraan, pengetahuan geografis, kondisi sosial, dan teknologi yang digambarkan dalam sutra-sutra Mahayana menunjukkan ciri khas dari periode sejarah yang belakangan jauh setelah wafatnya Sang Buddha.
- Ajaran dalam sutra-sutra Mahayana dapat ditunjukkan muncul sebagai proses historis dari evolusi doktrinal di antara aliran-aliran awal (misalnya konsep sunyata Mahayana muncul sebagai tanggapan atas konsep svabhava dari Abhidharma Sarvastivada).
- Mitos bahwa sutra-sutra Mahayana disimpan selama 500 tahun di alam naga menyatakan adanya bentuk tulisan pada masa Sang Buddha hidup, juga terdapat referensi pada bentuk tulis-menulis dalam sutra-sutra Mahayana itu sendiri, sedangkan kenyataannya ajaran-ajaran Buddha pada masa awal hanya dilafalkan secara lisan dan tidak dituliskan sampai 400 tahun kemudian.
Kesesuaian Nikāya dan Āgama
Beberapa ahli yang merintis studi komparatif/perbandingan antara Nikāya dan Āgama menemukan kesesuaian isi keduanya sbb:
Parinibbāna, Brahmajāla, Sigalovada, Dhammacakka, Kasi-Bhāradvadja, Mahāmangala; semua ini telah saya temukan dan bandingkan dengan terjemahan dari bahasa Pali, dan menemukan bahwa pada pokoknya mereka adalah identik. Saya tidak mengatakan secara harfiah sama; mereka berbeda dalam poin-poin kecil, tetapi identik dalam alur dan semua rincian yang penting.
(Samuel Beal, Buddhist Literature in China, 1988)
Dengan pengecualian penambahan Mahāyanis dalam Ekottara, yang dengan mudah dapat dibedakan, perbedaan-perbedaan yang dipertanyakan [antara Nikāya-nikāya dan Āgama-āgama] tidak mungkin mempengaruhi apa pun kecuali metode pengungkapan atau penyusunan dari pokok-pokok bahasan. Dasar ajaran yang umum pada Nikāya-Nikāya dan Āgama-Āgama sangat seragam. Namun, dipertahankan dan disebarkan oleh aliran-aliran, sūtra-sūtra tidak merupakan naskah-naskah skolastik, tetapi merupakan warisan bersama dari semua aliran.
(Étienne Lamotte, History of Indian Buddhism, 1976)
Struktur Teks-Teks Pra-Buddhis
Tradisi Brahmana (Veda)
- Kemungkinan model kitab/teks pra-Buddhis mempengaruhi struktur kitab-kitab Buddhis awal.
- Satu-satunya tradisi literatur yang disebutkan dalam khotbah-khotbah awal adalah tradisi Brahmanis dari tiga Veda. Tiga Veda adalah Ṛg, Sāman, dan Yajur Veda.
- Ṛg Veda adalah suatu kumpulan yang paling kuno (1500 SM?) dari sekitar 10.000 syair kebaktian dan liturgi. Salah satu sistem pengelompokan Ṛg adalah dalam vagga-vagga, kelompok-kelompok dari sekitar sepuluh baris syair.
- Berbagai bagian dari literatur Veda ditunjuk sebagai aṅga-aṅga, yang berarti “bagian-bagian”.
- Terdapat istilah sutta/sutra yang dalam penggunaan Brahmanis secara khusus berarti pernyataan ajaran yang pendek, mendasar, yang diperlakukan sebagai suatu dasar untuk penjelasan dan komentar.
Tradisi Sramana (Jainisme)
- Jainisme lebih tua daripada Buddhisme, namun teks-teks Buddhis tidak menyebutkan adanya teks-teks Jain pada masa Sang Buddha
- Walaupun kitab-kitab Jain dirumuskan belakangan, namun teks-teks Jain mengandung unsur-unsur awal yang masih terbukti dalam teks-teks yang ada saat ini dan mempengaruhi pembentukan teks-teks Buddhis (atau mungkin sebaliknya).
- Kitab Jain disebut Āgama (“tradisi yang diturunkan”) terdiri dari 14 purva (“sebelumnya”) yang sekarang telah lenyap, dan 12 aṅga, 11 di antaranya masih ada. Salah satu dari aṅga ini disebut prasnavyākaraṇa (“tanya jawab”).
- Ājīvaka, aliran Sramana lainnya, dikatakan dalam sūtra- sūtra Jain memiliki kitab-kitab peramalan yang terdiri dari 8 aṅga.
Kotbah-Kotbah Paling Awal
Pembagian yang paling penting dari ajaran-ajaran dalam semua aliran dan tradisi, yaitu Dhamma dan Vinaya, diyakini diulangi dalam Konsili Buddhis I. Ini adalah pembagian dasar yang kemungkinan besar berasal dari masa sebelum Sang Buddha wafat. Karena isi kedua kumpulan ini hampir sepenuhnya berbeda, maka beberapa ajaran doktrinal yang ditemukan dalam Vinaya memiliki suatu arti yang khusus. Ajaran-ajaran ini telah diketahui oleh semua bhikkhu dan bhikkhuni dari masa paling awal pengajaran Sang Buddha sebelum kumpulan-kumpulan ajaran berkembang.
Bukan berarti semua ajaran yang digunakan bersama antara kumpulan Sutta/Dhamma dan Vinaya pasti bersifat awal. Kita harus melihat khotbah-khotbah yang tidak hanya ditemukan di seluruh versi Vinaya yang ada, tetapi juga bersifat fundamental pada struktur teks itu sendiri dan tidak tampaknya seakan-akan dengan mudah disisipkan ke sana.
Beberapa versi dari Vinaya yang ada – ditemukan dalam kanon Mandarin, Vinaya Mūlasarvāstivāda dalam bahasa Tibet dan sebagian bahasa Sanskrit, Theravāda dalam kanon Pali; beberapa dalam bahasa Sanskrit campuran dan berbagai bahasa India. Ajaran doktrinal yang terpenting dalam Vinaya semua aliran ditemukan dalam tiga khotbah: Dhammacakkappavattana Sutta, Anattalakkhaṇa Sutta, dan Ādittapariyāya Sutta. Berdampingan dengan ini terdapat syair Permohonan Brahmā agar Sang Buddha mengajar dan jawaban Sang Buddha yang menyetujuinya.
Dhammacakkappavattana Sutta tersedia setidaknya dalam 5 Vinaya, dan dalam Nikāya dan Āgama. Kotbah ini paling tersebar luas dari semua khotbah, dengan tidak kurang dari 17 versi dan bertahan dalam empat bahasa utama Buddhis (Pali, Sanskrit, Mandarin, dan Tibet). Walau terdapat banyak variasi dalam detail, tetapi isi utamanya pada hakikatnya sama, yaitu jalan tengah dan empat kebenaran mulia. Anattalakkhaṇa Sutta, Ādittapariyāya Sutta dan Permohonan Brahmā juga muncul dalam beberapa versi. Semua teks ini terdapat dalam Nikāya dan Āgama.
Khotbah-khotbah ini membentuk inti ajaran dari riwayat hidup Sang Buddha yang paling awal, dengan menceritakan kisah sejak setelah pencerahan Sang Buddha sampai pembentukan Sangha. Walau terdapat detail yang berbeda dalam berbagai versi, tetapi terdapat suatu konsistensi yang luar biasa dalam kisah utama dan ajaran doktrinalnya. Teks-teks ini secara universal dianggap sebagai ajaran-ajaran pertama Sang Buddha sehingga kita memiliki kesepahaman penuh antara kesesuaian teks-teks dan testimoni dari tradisi. Namun tidak mungkin untuk menetapkan bahwa teks-teks ini secara harfiah adalah ajaran-ajaran pertama.
Selain membentuk intisari bab pertama dari Mahāvagga Vinaya Theravada, kumpulan teks ini juga ditemukan dalam Dīrgha Āgama Sarvāstivāda dengan judul Catuṣpariṣat Sūtra (“Sūtra Empat Perkumpulan”) yang sangat dekat dengan versi Pali, walaupun tidak memiliki unsur Vinaya yang khusus. Ini menyatakan kemungkinan teks-teks doktrinal ini bukan bagian dari Vinaya awal mula.
Namun demikian teks-teks ini adalah hal yang pokok bagi Dhamma dan Vinaya. Dalam membawakan khotbah pertama, ia menyediakan latar belakang naratif untuk Dhamma; dan penahbisan Añña Koṇḍañña setelahnya adalah titik awal yang sempurna untuk membuka Vinaya.
Kumpulan Kotbah Paling Awal
Tidak dapat diketahui secara pasti kapan para bhikkhu mulai mengumpulkan kotbah-kotbah individual ke dalam kumpulan kotbah yang terstruktur (Nikāya/Āgama). Teks-teks Buddhis terus-menerus berkembang dalam jumlah dan ukuran dari suatu kumpulan inti yang mengalami berbagai perubahan struktur dan isinya seiring berjalannya waktu.
Untuk mengetahui kumpulan manakah yang paling awal terbentuk, berbagai pendekatan dapat dilakukan, di antaranya pendekatan filosofis, doktrinal, kultural, analisis linguistik, dan sebagainya. Namun yang terutama digunakan dalam kajian ini adalah analisis struktural dari Nikāya/Āgama yang didukung oleh tesmoni tradisi.
Tabel 1 Kumpulan Nikāya/Āgama yang Ada Saat Ini
| Nikāya Theravāda | Āgama Sarvāstivāda | Āgama Lainnya (dalam Mandarin) |
|---|---|---|
| Dīgha (Pali) | Dīrgha (Sanskrit) | Dīrgha (Dharmaguptaka) |
| Majjhima (Pali) | Madhyama (Mandarin) | |
| Saṁyutta (Pali) | Saṁyukta (Mandarin) | Dua Saṁyukta “lainnya” (aliran tidak diketahui) |
| Aṅguttara (Pali) | Ekottara (Mahāsaṅghika?), Aṅguttara (aliran tidak diketahui) |
Kumpulan manakah yang kelihatannya memiliki hubungan struktural yang paling dekat?
- Aṅguttara Theravāda dan Ekottara Mahāsaṅghika sangat berbeda dalam isinya, walaupun keduanya menggunakan prinsip pengorganisasian yang sama (pengelompokan berdasarkan jumlah item doktrinal dalam sutta-sutta penyusunnya).
- Tiga Dīgha berbagi banyak khotbah yang sama, tetapi urutan dan organisasi dari khotbah-khotbah itu sangat berbeda.
- Dua Majjhima berbagi banyak isi tetapi sedikit struktur yang sama. Hampir semua judul bab dan pembagian sepenuhnya berbeda, dengan sedikit pengecualian, misalnya masing-masing memiliki sebuah bab yang disebut “Bab tentang Raja-raja” (Raja-Vagga). Dalam Pali, ini memiliki 10 khotbah, dalam Mandarin ada 14, tetapi hanya ada 2 khotbah yang sama dalam kedua versi. Kebanyakan khotbah lainnya ditemukan dalam kumpulan Pali dan Mandarin lain, tetapi tidak dalam bab ini.
- Dua Saṁyutta berbagi semua pembagian besar ke dalam subjek-subjek yang sama, dengan beberapa variasi dalam bab-bab kecil dan beberapa perubahan susunan. Saṁyutta memiliki sejumlah besar pola struktural yang tidak ada dalam kumpulan-kumpulan lainnya.
Dapat disimpulkan bahwa tidak hanya isi tetapi juga struktur Saṁyutta sebagian besar ditetapkan pada periode pra-sektarian, sedangkan struktur dari Majjhima, Dīgha, dan Aṅguttara sebagian besar bersifat sektarian.
Saṁyutta/Saṁyukta
Benih-Benih Saṁyutta
Kemungkinan Dhammacakkappavattana Sutta mulanya adalah khotbah pertama dalam Saṁyutta. Pada saat ini ia bernomor sebelas dalam Sacca-Saṁyutta Theravāda; tetapi dalam teks Mandarin ia adalah yang pertama dalam bab ini. Sacca-saṁyutta mungkin mulanya menjadi topik pertama dalam Saṁyutta.
Tradisi (Mūla)Sarvāstivāda mengatakan Dhammacakkappavattana Sutta adalah khotbah pertama yang dibacakan dalam Konsili I yang diselenggarakan karena nasehat Sang Buddha, sesaat sebelum wafat, agar Sangha mempertahankan Dhamma dengan mengulangi dua belas aṅga.
Dalam Kondisi I tersebut Yang Mulia Ānanda mengulangi Dhamma. Ia pertama kali mengucapkan Dhammacakkappavattana Sutta, kemudian Anattalakkhaṇa Sutta, lalu berlanjut pada kumpulan kotbah tentang kelompok unsur kehidupan (Khandha Vagga), kemudian landasan indria (Salāyatana Vagga), kemunculan bergantungan (Nidāna Vagga), ajaran yang diucapkan para siswa (Sāvakabhāsita), yang diucapkan Buddha (Buddhabhāsita), 37 faktor menuju pencerahan/bodhipakkhiya (Magga Vagga), dan syair-syair (sagāthāvagga). Kumpulan ini disebut Saṁyukta Āgama.
Ini mengukuhkan Saṁyutta sebagai tubuh sentral dari ajaran-ajaran fundamental, dikumpulkan dari benih-benih khotbah-khotbah pertama. Tiga Nikāya/Āgama lainnya disusun setelahnya.
Struktur Saṁyutta
Pengorganisasian Saṁyutta
- Saṁyutta Nikāya/Āgama (“Kelompok/tradisi dari saṁyutta-saṁyutta”)
- Khanda Vagga (“Buku [yang bagian pertama dan utamanya adalah] tentang kelompok unsur kehidupan”), Saḷāyatana Vagga, dan seterusnya.
- Khanda-saṁyutta (“Kumpulan [dari khotbah-khotbah] tentang kelompok unsur kehidupan”), Rādha-saṁyutta, dan seterusnya.
- Nakulapitu-vagga (“Bab [yang dimulai dengan sebuah khotbah kepada] Nakulapita”), dan seterusnya.
- Nakulapitu-sutta (“Khotbah kepada Nakulapita”), dan seterusnya.
Keseluruhan struktur dari Saṁyutta Nikāya/Āgama berhubungan secara kasar dengan Empat Kebenaran Mulia:
- KM1 = Khanda & Salāyatana
- KM2 & 3 = Nidāna
- KM4 = Magga
Topik-topik pokok ini disebut sebagai “saṁyutta-mātikā”
Tulang punggung dari Magga Vagga adalah 37 faktor menuju pencerahan (4 satipaṭṭhāna, 4 usaha benar, 4 landasan kekuatan batin, 5 indria, 5 kekuatan, 7 faktor pencerahan, jalan mulia berunsur 8); dalam SĀ ini dipertahankan dalam suatu urutan yang lebih dekat mengikuti urutan Sutta standar.
Daftar 37 faktor menuju pencerahan kemungkinan diringkas dari topik-topik Magga Vagga. Khotbah-khotbah yang muncul pertama kali dikumpulkan berdasarkan topik; kumpulan-kumpulan itu diberikan judul; judul digunakan sebagai suatu cara cepat menunjuk pada kumpulan itu; kemudian judul-judul tersebut menjadi berkembang sebagai suatu daftar yang independen, yang diulangi dan diuraikan dalam karya-karya yang belakangan.
Aṅga-Aṅga
Aṅga (bagian) merupakan sistem paling awal yang tercatat untuk mengelompokkan ajaran-ajaran. Sistem pengelompokan ke dalam Nikāya/Āgama, bahkan Tripitaka itu sendiri, tidak disebutkan dalam teks-teks awal.
Pembagian dalam 4 Āgama digunakan bersama di antara aliran-aliran. Oleh sebab itu, ini pasti telah ada pada masa pra-sektarian, tetapi perbedaan yang besar dalam struktur internal menyatakan bahwa Āgama belum ditetapkan secara detail pada masa tersebut.
Kemungkinan semua aliran mewarisi sekumpulan besar ajaran-ajaran, yang sebagian besar tetapi bukan seluruhnya saling melengkapi, dan suatu susunan umum teks-teks ke dalam Āgama.
Mengorganisasi sejumlah besar bhikkhu dan bhikkhuni untuk menghafalkan sejumlah besar teks menjadi motivasi utama untuk mengubah dari sistem aṅga ke sistem Āgama. Proses ini terjadi pada periode antara Konsili I dan II.
Tidak ada bukti bahwa kitab-kitab sebagai suatu keseluruhan pernah diselesaikan dan secara universal diterima pada periode pra-sektarian. Namun demikian, terdapat kumpulan besar teks-teks secara universal diterima sebelum dan sesudah perpecahan.
Terdapat 9 Aṅga: sutta, geyya, vyākaraṇa, gāthā, udāna, itivuttaka, jātaka, vedalla, dan abbhūtadhamma. Ini disebutkan dalam teks Pali dan teks Mahāsaṅghika. Teks Sanskrit menyebutkan 12 Aṅga dengan tambahan: nidāna, avadāna, dan upadeśa.
Dalam teks-teks awal mereka hanya didaftarkan tanpa penjelasan lebih lanjut. Teks-teks belakangan memberikan penjelasan; tetapi ini sangat berbeda-beda, dan mencakup banyak anakronisme dan ketidakmungkinan.
Kebanyakan sarjana modern menganggap aṅga-aṅga menunjuk pada gaya kesusasteraan alih-alih pada struktur kumpulan yang sebenarnya. Alasan paling utama untuk mempertimbangkan aṅga-aṅga sebagai hanya gaya adalah bahwa beberapa aṅga, khususnya tiga yang pertama, tidak muncul sebagai judul-judul kumpulan; dan karena, dari aṅga-aṅga yang merupakan judul-judul kumpulan yang ada, kitab-kitab yang mengandung judul-judul ini umumnya dianggap telah disusun lebih belakangan.
Daftar yang paling awal mungkin lebih pendek, dan seraya kitab-kitab lain disusun nama-nama mereka ditambahkan ke dalam daftar itu. Perbedaan antara daftar Pali dan Sanskrit menegaskan bahwa beberapa penambahan pasti telah dibuat, setidaknya untuk item-item tambahan dalam Sanskrit.
Banyak dari aṅga-aṅga yang belakangan dapat dihubungkan dengan cara yang sama dengan judul-judul teks-teks yang masih ada.
Sutta, Geyya, Vyākaraṇa
Tiga aṅga pertama juga mulanya telah menjadi kelompok-kelompok teks yang dapat dikenali, bagian-bagian yang berbeda dalam suatu kerangka yang lebih besar. Mempertimbangkan konservatisme literatur agama pada umumnya, dan Buddhisme pada khususnya, sangat tidak mungkin bahwa tidak ada sisa-sisa dari struktur ini dipertahankan dalam kanon-kanon yang ada.
Mahā Suññatā Sutta, dalam versi Sarvāstivāda dan Theravāda, memberikan daftar hanya tiga yang pertama: sutta, geyya, vyākaraṇa. Ini menunjukkan bahwa tiga ini merupakan yang paling awal. Versi Tibet di sini memiliki daftar yang biasa dari dua belas, yang membuktikan suatu tahap yang belakangan dalam perkembangan dalam aṅga-aṅga.
Bukti yang lebih jauh datang dari Mahā Parinirvāṇa Sūtra Sanskrit. Daftar dari dua belas aṅga muncul dalam versi lengkap dan sebagian, dan tiga yang pertama muncul dalam bentuk turunan, sebagai kata-kata individual, sedangkan aṅga-aṅga sisanya dikelompokkan semuanya bersama dalam suatu kata majemuk yang panjang: sūtraṁ geyaṁ vyākaraṇaṁ gāthodānanidānavadānetivṛttakajātakavaipulyādbhutadharmopadeśāḥ. Ini sangat tampak seakan-akan daftar awal mula dari tiga diperluas kemudian.
Jadi, tiga aṅga pertama adalah yang paling awal, atau setidaknya adalah yang pertama dikembangkan sebagai kanonik, sedangkan aṅga-aṅga berikutnya perlahan-lahan diperluas.
Sutta
Makna akar sutta adalah “benang”, dan ini secara menyolok digunakan dalam pengertian kiasan seutas benang di mana manik-manik diuntai. Sutta sebagai sebuah aṅga mencerminkan kiasan ini dan bermakna “pernyataan ajaran dasar”. Ini mirip dengan makna dalam konteks Brahmanis dan Jain. Sebuah gema dari makna ini bertahan dalam Vinaya. Kumpulan aturan yang membentuk Pāṭimokkha disebut (Pāṭimokkha) sutta. Analisis terperinci dari aturan-aturan itu disebut sutta vibhaṅga (“analisis dari sutta”).
Dalam Nettipakarana, sutta dijelaskan sebagai Empat Kebenaran Mulia. Ketika Sang Buddha mengatakan pada kita untuk mengambil sutta-sutta sebagai otoritas kita dalam menentukan apa yang sebenarnya diucapkan Sang Buddha, Beliau bermaksud terutama khotbah-khotbah inti yang sekarang ditemukan dalam bagian-bagian utama Saṁyutta.
Geyya
Aṅga kedua, geyya, secara konsisten dianggap sebagai campuran prosa dan syair. Yogacārabhūmiśāstra dan komentar Theravāda mengidentifikasinya dengan Sagāthāvagga dari Saṁyutta Nikāya.
Vyākaraṇa
Kata vyākaraṇa (Pali: veyyākaraṇa) berarti “jawaban” (juga berarti “tata bahasa” dan “ramalan”). Ia terutama digunakan dalam pengertian suatu jawaban yang bersifat penjelasan pada sebuah pertanyaan ajaran.
Makna dari vyākaraṇa sangat jelas dalam Abyākata-saṁyutta, saṁyutta tentang “pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab”, apa yang tidak dapat “di-vyākaraṇa-kan”. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab, tentu saja, pertanyaan-pertanyaan seperti “apakah Tathāgata ada setelah kematian” dan lain sebagainya. Tetapi apa yang dinyatakan (vyākata) Sang Buddha adalah Empat Kebenaran Mulia.
Beberapa khotbah menyajikan kita dengan suatu rangkaian numerik dari penyelidikan-penyelidikan dhamma: satu pertanyaan (pañha), satu ringkasan (uddesa), satu jawaban penjelasan (vyākaraṇa). Sutta-Sutta di mana Sāriputta, Mahākaccāyana, atau Buddha memberikan pemaparan rinci dari empat kebenaran mulia atau jalan mulia berunsur delapan, atau tentang ajaran mana pun dari Buddhisme atau tentang apa pun perkataan singkat Buddha, dianggap sebagai vyākaraṇa.
Aṅga dalam Saṁyutta
Menurut Yin Shun, Saṁyukta Āgama terdiri dari tiga aṅga. Ia mengidentifikasi sutta sebagai kumpulan ajaran yang pokok, geyya sebagai Sagāthāvagga bersama dengan Bhikkhu-saṁyutta, dan vyākaraṇa sebagai pemaparan pelengkapnya. Identifikasi atas Sagāthāvagga adalah bersifat langsung karena komentar Pali juga mengatakan bahwa geyya adalah campuran prosa dan syair, “khususnya keseluruhan Sagāthāvagga dari Saṁyutta Nikāya”.
Evolusi aṅga sutta-sutta dan vyākaraṇa-vyākaraṇa mengikuti suatu proses yang alami. Sang Buddha sangat sering mengajarkan ajaran-ajaran dasar. Ini dikumpulkan pada masa awal sebagai sutta. Penyelidikan-penyelidikan ke dalam makna dari ajaran-ajaran dasar ini berlanjut secara tetap. Ini membentuk vyākaraṇa.
Vyākaraṇa-vyākaraṇa dapat diperluas tidak terbatas. Pengelompokan awal yang sederhana menjadi tidak cukup dan struktur baru yang lebih terperinci, dibutuhkan. Oleh sebab itu diciptakan kumpulan baru bagi vyākaraṇa-vyākaraṇa individual yang diakumulasikan berdasarkan bahan yang tersebar dari seluruh kumpulan tiga-aṅga awal. Hasilnya adalah terbentuknya kumpulan baru: Majjhima, Dīgha, dan Aṅguttara.
Ini tidak berarti bahwa khotbah-khotbah Saṁyutta adalah awal dan otentik, sedangkan khotbah-khotbah lain adalah belakangan. Semua kumpulan mengandung suatu percampuran dari bahan awal dan belakangan.
Khotbah-khotbah di luar Saṁyutta muncul dari sejumlah sumber, yaitu:
- Beberapa mulanya dimasukkan dalam Saṁyutta kuno, tetapi dipindahkan keluar.
- Yang lainnya mungkin sudah beredar dalam komunitas, tetapi tidak dimasukkan dalam kumpulan dasar.
- Dalam kasus-kasus lain, khotbah-khotbah mungkin telah diwariskan di daerah-daerah yang jauh dan disisipkan kemudian.
- Khotbah-khotbah lain mungkin dibentuk kemudian dengan menggabungkan bagian-bagian yang sudah ada.
- Yang lain berevolusi dari kisah dan bahan latar belakang yang relatif informal yang berkaitan dengan ajaran-ajaran.
- Dan beberapa, tidak diragukan, adalah murni rekaan.
Aṅga sutta dalam SN/SĀ
Aṅga geyya dalam SN/SĀ
Aṅga vyākaraṇa dalam SN/SĀ
Majjhima/Madhyama
Pengaruh struktur Saṁyutta pada Majjhima:
- Beberapa bab dalam Majjhima Sarvāstivāda disebut “saṁyutta”. Terdapat sebuah Kamma-saṁyuttavagga, Sāriputta-saṁyutta-vagga, Samudaya-saṁyutta-vagga, dan Rāja-saṁyutta-vagga.
- Bab 6-10 dari Majjhima Theravāda memiliki judul-judul yang mirip atau identik dengan judul-judul dalam Saṁyutta: Gahapati (= Gāmaṇisaṁyutta), Bhikkhu, Paribbājaka, Rāja (= Kośala), dan Brāhmaṇa.
- Bab terakhir dari Majjhima Theravāda, Saḷāyatanavagga, tidak hanya berbagi judul dan pokok pembahasannya dengan Saṁyutta, tetapi semua khotbah ditemukan dalam Saṁyutta Sarvāstivāda.
Pembagian ke dalam tiga kelompok dari lima puluh khotbah dalam Majjhima Theravāda mencerminkan tiga aṅga:
- 50 pertama menyajikan ajaran-ajaran utama; walaupun secara formal ini sebagian besar vyākaraṇa, dalam Majjhima sebagai suatu keseluruhan mereka berfungsi sebagai teks-teks dasar (aṅga sutta).
- 50 kedua memiliki judul-judul yang mirip dengan Sagāthāvagga, memasukkan sejumlah syair, dan sering disampaikan kepada umat awam (aṅga geyya).
- 50 terakhir cenderung lebih bersifat analitis dan pemaparan (vyākaraṇa)
Terdapat satu kerangka yang sangat penting, yang mengisi sekeliling sepertiga dari khotbah-khotbah dalam Majjhima dan Dīgha. Ini adalah “pelatihan” (sikkhā). Saṁyukta Āgama Sarvāstivāda memiliki sebuah Sikkhā-saṁyutta yang terdiri dari khotbah-khotbah dasar tentang pelatihan berunsur tiga, di mana dalam Theravāda berada sekarang dalam Aṅguttara Nikāya. Dalam Majjhima dan Dīgha pelatihan berunsur tiga yang sederhana ini biasanya diuraikan ke dalam “pelatihan bertahap” yang terperinci, yang menghasilkan dalam banyak khotbah yang panjang.
Dīgha/Dīrgha
Struktur DN/DĀ
Aṅga dalam Dīgha
Kemungkinan awal mula Dīgha hanyalah Sīlakkhandhavagga. Ini didukung oleh sebuah pernyataan dalam pendahuluan Dīrgha Āgama Dharmaguptaka, yang menggambarkan kumpulan itu berkaitan dengan “berbagai jalan latihan”, yang adalah tujuan utama dari Sīlakkhandhavagga. Sīlakkhandhavagga mungkin telah ada pertama kali dalam Saṁyutta kuno, di mana ia terdiri atas “*Silakkhandha-saṁyutta”-nya sendiri. Ini adalah bab terbesar dalam sebuah “*Sikkhā-saṁyutta”, yang belakangan dipecah karena terlalu panjang.
Sarvāstivāda mempertahankan sebuah Sikkhā-saṁyutta yang sederhana yang sebagian besar terdiri dari khotbah-khotbah pendek tentang pelatihan berunsur tiga. Khotbah-khotbah yang lebih pendek dipindahkan ke dalam Aṅguttara, yang menengah ke dalam Majjhima, dan yang paling panjang membentuk sebuah kelompoknya sendiri, yang menarik khotbah-khotbah panjang lain dan menjadi Dīgha. Khotbah-khotbah panjang ini semuanya dalam bentuk percakapan (vyākaraṇa) antara Sang Buddha dan para tokoh spiritual sezaman-Nya.









