historis_nikaya
Perbedaan
Ini menunjukkan perbedaan antara versi yang terpilih dengan versi yang sedang aktif.
| Kedua sisi revisi sebelumnyaRevisi sebelumnyaRevisi selanjutnya | Revisi sebelumnya | ||
| historis_nikaya [2026/01/01 12:23] – [Majjhima/Madhyama] seniya | historis_nikaya [2026/01/01 13:58] (sekarang) – [Keutamaan Nikāya/Āgama sebagai Sumber Ajaran Buddhisme Awal] seniya | ||
|---|---|---|---|
| Baris 3: | Baris 3: | ||
| ===== Pendahuluan ===== | ===== Pendahuluan ===== | ||
| - | ==== Keutamaan Nikāya/ | + | ==== Keutamaan Nikāya/ |
| Dalam studi Buddhisme awal, sutta-sutta dalam Nikāya-Nikāya dan paralelnya dalam Āgama menjadi sumber utama untuk menggali ajaran Buddhisme awal. Terdapat beberapa alasan mengapa Nikāya/ | Dalam studi Buddhisme awal, sutta-sutta dalam Nikāya-Nikāya dan paralelnya dalam Āgama menjadi sumber utama untuk menggali ajaran Buddhisme awal. Terdapat beberapa alasan mengapa Nikāya/ | ||
| Baris 106: | Baris 106: | ||
| Ini mengukuhkan Saṁyutta sebagai tubuh sentral dari ajaran-ajaran fundamental, | Ini mengukuhkan Saṁyutta sebagai tubuh sentral dari ajaran-ajaran fundamental, | ||
| - | ==== Struktur | + | ==== Struktur Saṁyutta ==== |
| **Pengorganisasian Saṁyutta** | **Pengorganisasian Saṁyutta** | ||
| Baris 120: | Baris 120: | ||
| Keseluruhan struktur dari Saṁyutta Nikāya/ | Keseluruhan struktur dari Saṁyutta Nikāya/ | ||
| - | * KM1 = Khanda & Salāyatana | + | * Kebenaran mulia tentang dukkha |
| - | * KM2 & 3 = Nidāna | + | * Kebenaran mulia tentang sebab & lenyapnya dukkha |
| - | * KM4 = Magga | + | * Kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya dukkha |
| Topik-topik pokok ini disebut sebagai “saṁyutta-mātikā” | Topik-topik pokok ini disebut sebagai “saṁyutta-mātikā” | ||
| Baris 184: | Baris 184: | ||
| - | ==== Aṅga dalam Nikāya & Āgama | + | ==== Aṅga dalam Saṁyutta |
| Menurut Yin Shun, Saṁyukta Āgama terdiri dari tiga aṅga. Ia mengidentifikasi sutta sebagai kumpulan ajaran yang pokok, geyya sebagai Sagāthāvagga bersama dengan Bhikkhu-saṁyutta, | Menurut Yin Shun, Saṁyukta Āgama terdiri dari tiga aṅga. Ia mengidentifikasi sutta sebagai kumpulan ajaran yang pokok, geyya sebagai Sagāthāvagga bersama dengan Bhikkhu-saṁyutta, | ||
| Baris 190: | Baris 190: | ||
| Evolusi aṅga sutta-sutta dan vyākaraṇa-vyākaraṇa mengikuti suatu proses yang alami. Sang Buddha sangat sering mengajarkan ajaran-ajaran dasar. Ini dikumpulkan pada masa awal sebagai sutta. Penyelidikan-penyelidikan ke dalam makna dari ajaran-ajaran dasar ini berlanjut secara tetap. Ini membentuk vyākaraṇa. | Evolusi aṅga sutta-sutta dan vyākaraṇa-vyākaraṇa mengikuti suatu proses yang alami. Sang Buddha sangat sering mengajarkan ajaran-ajaran dasar. Ini dikumpulkan pada masa awal sebagai sutta. Penyelidikan-penyelidikan ke dalam makna dari ajaran-ajaran dasar ini berlanjut secara tetap. Ini membentuk vyākaraṇa. | ||
| - | Vyākaraṇa- vyākaraṇa dapat diperluas tidak terbatas. Pengelompokan awal yang sederhana menjadi tidak cukup dan struktur baru yang lebih terperinci, dibutuhkan. Oleh sebab itu diciptakan kumpulan baru bagi vyākaraṇa-vyākaraṇa individual yang diakumulasikan berdasarkan bahan yang tersebar dari seluruh kumpulan tiga-aṅga awal. Hasilnya adalah terbentuknya kumpulan baru: Majjhima, Dīgha, dan Aṅguttara. | + | Vyākaraṇa-vyākaraṇa dapat diperluas tidak terbatas. Pengelompokan awal yang sederhana menjadi tidak cukup dan struktur baru yang lebih terperinci, dibutuhkan. Oleh sebab itu diciptakan kumpulan baru bagi vyākaraṇa-vyākaraṇa individual yang diakumulasikan berdasarkan bahan yang tersebar dari seluruh kumpulan tiga-aṅga awal. Hasilnya adalah terbentuknya kumpulan baru: Majjhima, Dīgha, dan Aṅguttara. |
| Ini tidak berarti bahwa khotbah-khotbah Saṁyutta adalah awal dan otentik, sedangkan khotbah-khotbah lain adalah belakangan. Semua kumpulan mengandung suatu percampuran dari bahan awal dan belakangan. | Ini tidak berarti bahwa khotbah-khotbah Saṁyutta adalah awal dan otentik, sedangkan khotbah-khotbah lain adalah belakangan. Semua kumpulan mengandung suatu percampuran dari bahan awal dan belakangan. | ||
| Baris 203: | Baris 203: | ||
| - Dan beberapa, tidak diragukan, adalah murni rekaan. | - Dan beberapa, tidak diragukan, adalah murni rekaan. | ||
| - | ==== Aṅga dalam Saṁyutta ==== | + | **Aṅga sutta dalam SN/SĀ** |
| - | + | ||
| - | Aṅga sutta dalam SN/SĀ: | + | |
| {{:: | {{:: | ||
| - | Aṅga geyya dalam SN/SĀ: | + | **Aṅga geyya dalam SN/SĀ** |
| {{:: | {{:: | ||
| - | Aṅga vyākaraṇa dalam SN/SĀ: | + | **Aṅga vyākaraṇa dalam SN/SĀ** |
| {{:: | {{:: | ||
| Baris 235: | Baris 233: | ||
| Terdapat satu kerangka yang sangat penting, yang mengisi sekeliling sepertiga dari khotbah-khotbah dalam Majjhima dan Dīgha. Ini adalah “pelatihan” (sikkhā). Saṁyukta Āgama Sarvāstivāda memiliki sebuah Sikkhā-saṁyutta yang terdiri dari khotbah-khotbah dasar tentang pelatihan berunsur tiga, di mana dalam Theravāda berada sekarang dalam Aṅguttara Nikāya. Dalam Majjhima dan Dīgha pelatihan berunsur tiga yang sederhana ini biasanya diuraikan ke dalam “pelatihan bertahap” yang terperinci, yang menghasilkan dalam banyak khotbah yang panjang. | Terdapat satu kerangka yang sangat penting, yang mengisi sekeliling sepertiga dari khotbah-khotbah dalam Majjhima dan Dīgha. Ini adalah “pelatihan” (sikkhā). Saṁyukta Āgama Sarvāstivāda memiliki sebuah Sikkhā-saṁyutta yang terdiri dari khotbah-khotbah dasar tentang pelatihan berunsur tiga, di mana dalam Theravāda berada sekarang dalam Aṅguttara Nikāya. Dalam Majjhima dan Dīgha pelatihan berunsur tiga yang sederhana ini biasanya diuraikan ke dalam “pelatihan bertahap” yang terperinci, yang menghasilkan dalam banyak khotbah yang panjang. | ||
| + | ===== Dīgha/ | ||
| + | |||
| + | ==== Struktur Dīgha ==== | ||
| + | |||
| + | {{:: | ||
| + | |||
| + | {{:: | ||
| + | |||
| + | {{:: | ||
| + | |||
| + | ==== Aṅga dalam Dīgha ==== | ||
| + | |||
| + | Kemungkinan awal mula Dīgha hanyalah Sīlakkhandhavagga. Ini didukung oleh sebuah pernyataan dalam pendahuluan Dīrgha Āgama Dharmaguptaka, | ||
| + | |||
| + | Sarvāstivāda mempertahankan sebuah Sikkhā-saṁyutta yang sederhana yang sebagian besar terdiri dari khotbah-khotbah pendek tentang pelatihan berunsur tiga. Khotbah-khotbah yang lebih pendek dipindahkan ke dalam Aṅguttara, | ||
| + | |||
| + | ===== Aṅguttara/ | ||
| + | |||
| + | ==== Struktur Aṅguttara ==== | ||
| + | |||
| + | Saṁyutta dan Aṅguttara merupakan kumpulan dari khotbah-khotbah lebih pendek yang saling melengkapi. Sementara khotbah-khotbah dalam Saṁyutta dikumpulkan berdasarkan topik (“prinsip saṁyutta”), | ||
| + | |||
| + | Dalam AN/EĀ sutta-sutta dikelompokkan dalam 11 nipāta (“buku”) dari 1 s/d 11, walaupun dalam EĀ tidak dilabelkan demikian. Topik kotbah-kotbah yang terkemuka dalam Aṅguttara tidak terdapat dalam kumpulan lainnya. Misalnya AN Buku Empat tidak memasukkan kotbah-kotbah tentang 4KM karena 4KM sudah dimasukkan dalam SN sehingga AN memasukkan topik ajaran yang jarang muncul, misalnya 4 cara menjawab pertanyaan. | ||
| + | |||
| + | Kotbah-kotbah pendek dalam vagga 9 dari Buku Tiga (AN 3.81–90) tentang pelatihan (sikkhā) berunsur tiga ditemukan padanannya dalam Sikkhāsaṁyutta Sarvāstivāda, | ||
| + | |||
| + | Dalam AN/EĀ, sutta-sutta pendek dalam Buku Satu tampaknya berasal dari sutta panjang dari pengelompokan numerik yang lebih tinggi yang dipecah. Misalnya 10 suttta vagga pertama AN Buku Satu (AN 1.1-10) berasal dari sutta Buku Lima (AN 5.55) yang dipecah. | ||
| + | |||
| + | EĀ terdiri dari 52 vagga dengan vagga pertama adalah kata pendahuluan yang menyebutkan penulisan kanon dan konsep Mahayana (diperkirakan ditulis pada abad 1 SM). Vagga 2 (bab pertama Buku Satu) berisi 10 sutta pendek tentang 10 perenungan (1 sutta 1 item perenungan) yang dipecah dari sebuah sutta panjang di Buku Sepuluh. | ||
| + | |||
| + | Tidak ditemukannya Buku Satu dalam Aṅguttara yang diterjemahkan An Shigao (T. 150a) dari aliran yang tidak diketahui menyiratkan bahwa Aṅguttara kuno hanya memiliki nipāta 2 s/d 11 dengan jumlah sutta yang lebih sedikit. Dengan berpisahnya kedua tradisi, jumlah sutta dalam Aṅguttara bertambah dengan mengambil sutta-sutta dari kumpulan lain. | ||
| + | |||
| + | ==== Aṅga dalam Aṅguttara ==== | ||
| + | |||
| + | Bahan-bahan yang berkarakteristik Aṅguttara adalah sederhana, ajaran yang berorientasi pada umat awam tentang etika dan ketaatan, dan dalam banyak khotbah prosa ditambahkan dengan suatu ringkasan syair (geyya). | ||
| + | |||
| + | Dengan demikian, Aṅguttara berawal mula dari kumpulan yang lebih kecil yang berasal dari aṅga geyya. Ia memasukkan khotbah-khotbah yang lebih pendek yang berhubungan dengan topik-topik yang kurang penting yang tidak dimasukkan dalam Saṁyutta. Tujuan utamanya adalah untuk menyediakan bahan yang sesuai untuk ceramah-ceramah, | ||
| + | |||
| + | Pada masa yang belakangan ia banyak diisi dengan bahan dari Majjhima dan Saṁyutta. Kebanyakan bahan ini mulanya milik kumpulan lain dan dipindahkan ke Aṅguttara untuk memberikannya lebih bobot yang bersifat ajaran. | ||
| + | |||
| + | ===== Khuddaka/ | ||
| + | |||
| + | Terdapat beberapa teks yang disebutkan dalam 4 Nikāya/ | ||
| + | |||
| + | Penyebutan beberapa teks yang sekarang menjadi bagian dari Khuddaka dalam 4 Nikāya/ | ||
| + | |||
| + | Vinaya Mahāsaṅghika menyebutkan Kṣudraka Piṭaka sebagai “nidāna dari perbuatan lampau para Pratyekabuddha dan Arahat, yang dikisahkan oleh mereka sendiri, dan semua syair lainnya yang demikian.” Walaupun Khuddaka Theravāda saat ini tidak dapat disamakan dengan Kṣudraka Mahāsaṅghika, | ||
| + | |||
| + | Dengan demikian, jika Saṁyutta berasal dari kompilasi 3 aṅga pertama (sutta, geyya, vyākaraṇa) yang didominasi oleh teks-teks berkarakteristik prosa dan berevolusi menjadi 3 kumpulan lainnya, maka Khuddaka dihipotesiskan sebagai kompilasi dari aṅga-aṅga yang berkarakteristik syair (gāthā dan udāna). | ||
| + | |||
| + | Secara umum kotbah-kotbah prosa dan syair yang membentuk Saṁyutta berisi hal-hal doktrinal dasar dan instruksi spiritual Sang Buddha kepada Sangha. Oleh sebab itu, teks-teks ini pasti pertama kali dikumpulkan dan diwariskan di dalam Sangha. | ||
| + | |||
| + | Di sisi lain terdapat teks-teks yang syair-syairnya berasal dari masa kuno dan mengandung ajaran sederhana yang beredar di luar Sangha. Seiring populernya Buddhisme di masyarakat luas, syair-syair dari berbagai literatur India kuno mulai diterima oleh komunitas Buddhis. | ||
| + | |||
| + | Awalnya Sangha yang masih konservatif keberatan memasukkan teks-teks ini sebagai kanon karena syair dan himne populer diabaikan dalam Sangha awal, sumbernya tidak pasti dari Sang Buddha, tidak mengandung ajaran khas Buddhis, dan bukan berasal dari daerah utama Buddhis (madhyadeśa). Namun karena kepopulerannya dan sifatnya yang berirama dan mudah dihafalkan, Sangha akhirnya menerima teks-teks ini dan menempatkannya pada kumpulan yang dikhususkan untuk karya-karya syair demikian pada masa setelah kumpulan utama Nikāya/ | ||
| + | |||
| + | Seiring berjalannya waktu karya-karya prosa yang bersifat komentarial (semi-Abhidhamma) juga dimasukkan dalam kumpulan minor tersebut. Inilah awal mula terbentuknya kumpulan yang kita kenal sekarang sebagai Khuddaka Nikāya. | ||
| + | |||
| + | ===== Sumber Bacaan ===== | ||
| + | |||
| + | * //A History of Mindfulness ([[https:// | ||
| + | * // | ||
| + | * //The Fundamental Teachings of Early Buddhism: A comparative study based on the Sutranga portion of the Pali Saṃyutta-Nikāya and the Chinese Saṃyuktāgama// | ||
| + | * //The Structure and Formation of the Aṅguttara Nikāya and the Ekottarika Āgama// oleh Tse-fu Kuan & Roderick S. Bucknell | ||
| + | * //The Chinese Version of Dharmapada// | ||
historis_nikaya.1767270212.txt.gz · Terakhir diubah: oleh seniya
