Dalam ajaran Buddha pada masa awal, konsep sunyata adalah sama dengan konsep anatta/anatman (bukan diri) yang merupakan bantahan Sang Buddha terhadap konsep atta/atman (diri/jiwa/roh) dari Brahmanisme dan konsep jiva (jiwa) dari Sramanisme saat itu. Selengkapnya tentang pembahasan konsep anatta/anatman secara historis dapat dibaca pada artikel Anatta: Landasan Doktrinal dan Latar Belakang Historis.
Adapun konsep kekosongan (sunyata) dalam teks-teks Buddhis awal selalu menggunakan kata sifat “kosong” (suñña/sunya) dari sesuatu. Makna awal kata “suñña” tidak bersifat filosofis dan memiliki arti “kosong”, “tidak berpenghuni”, “tidak berguna”, dst. Karena suñña berarti kosong dan hampa, istilah ini sering dipakai dalam pengertian “kosong dari (kualitas atau sifat ini atau itu).” Seperti halnya dalam percakapan sehari-hari, jika dikatakan “rumah itu kosong”, maka yang dimaksud adalah “rumah itu kosong dari barang-barang” atau “rumah itu kosong dari penghuninya”. Oleh sebab itu, berdasarkan sifat/kualitas yang dinegasikan, terdapat 2 jenis konsep kekosongan dalam Buddhisme awal, yaitu kekosongan sebagai filosofi anatta itu sendiri dan kekosongan sebagai pencapaian meditatif.
Kekosongan sebagai filosofi anatta (bukan diri), yaitu kosong dari diri (atta), disebutkan dalam SN 35.85 berikut:
Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā … dan berkata kepada Beliau: “Yang Mulia, dikatakan ‘dunia ini kosong, dunia ini kosong.’ Bagaimanakah, Yang Mulia, yang dikatakan ‘dunia ini kosong’ itu?”
“Yaitu, Ānanda, karena kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri, sehingga dikatakan, ‘Dunia ini kosong.’ Dan apakah yang kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri? Mata, Ānanda, adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri. Bentuk-bentuk adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri. Kesadaran-mata adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri. Kontak-mata adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri … Perasaan apa pun yang muncul dengan kontak-pikiran sebagai kondisi—apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan—itu juga adalah kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri.
“Adalah, Ānanda, karena kosong dari diri dan apa yang menjadi milik diri, sehingga dikatakan, ‘Dunia ini kosong.’”
Di sini dikatakan bahwa dunia (yang didefinisikan dalam SN 35.68 dan SN 35.116 sebagai dunia pengalaman kita yang dipersepsikan melalui pancaindera dan indera pikiran) adalah kosong dari diri (atta) dan apa yang menjadi milik diri (attaniyena).
Penggunaan istilah “suñña” di sini bersifat filosofis dalam maknanya dan menunjukkan ciri paling awal dari pandangan Buddhis awal tentang dunia bahwa tidak ada yang independen, berdiri sendiri, ada dengan sendirinya, tidak memiliki sebab, dan kekal selamanya. Ini sepenuhnya berbeda dengan filosofi Brahmanisme yang paling kuat pada masa itu, yaitu Upanisad yang mengajarkan bahwa terdapat sebab metafisik yang tidak disebabkan (yang disebut Brahman), yang bermanifestasi sebagai diri (atman) dalam semua makhluk.
Pengggunaan istilah “suñña” dalam makna filosofis juga ditemukan dalam Mogharajamanavapuccha dari Suttanipata (Snp 5.16). Dalam sutta ini disebutkan percakapan antara Mogharaja dan Sang Buddha di mana Mogharaja bertanya: “Bagaimanakah seseorang harus memandang dunia ini agar raja kematian tidak melihatnya?” Dengan kata lain, ini adalah pertanyaan bagaimana seharusnya pandangan seseorang tentang dunia agar ia dapat bebas dari lingkaran kelahiran kembali (samsara). Jawaban Sang Buddha adalah: “Dengan selalu penuh perhatian (sati) dan melihat dunia sebagai kosong, setelah mencabut akar-akar pandangan tentang diri – demikianlah seseorang seharusnya melampaui kematian; ia yang melihat dunia dengan cara ini, raja kematian tidak dapat melihatnya.”
Dalam sutta ini Sang Buddha menggunakan istilah “suñña” untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang substansial dalam segala hal di dunia ini. Seluruh dunia kosong dari segala jenis entitas kekal apa pun. Pandangan eternalis (sassatavada) bahwa ada sesuatu yang kekal di dunia ini yang membuat seseorang terlibat dalam semua masalah kehidupan (dukkha). Oleh sebab itu, untuk bebas dari keadaan ini seseorang harus mengambil pandangan benar bahwa dunia ini adalah kosong (suñña) dari substansi/esensi yang kekal demikian. Oleh sebab itu, lebih lanjut Sang Buddha mengatakan agar seseorang seharusnya melepaskan pandangan (ditthi) tentang diri (atta).
Dengan demikian, konsep kekosongan (sunyata/sunya) dalam Buddhisme awal tak lain merupakan makna filosofis dari konsep anatta yang telah diajarkan Sang Buddha sejak awal karir pengajarannya.
Konsep kekosongan sebagai pencapaian meditatif, yaitu kosong dari pencapaian meditatif/konsentrasi yang lebih kasar menuju pencapaian meditatif yang lebih halus/mendalam, disebutkan dalam MN 121 Culasunnata Sutta dikatakan Sang Buddha sering berdiam dalam kekosongan (sunnatavihara), yang dilakukan dengan tahapan meditasi sbb:
1) dengan tidak memperhatikan persepsi desa, tidak memperhatikan persepsi orang-orang – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi hutan. Pikirannya memasuki persepsi hutan itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi desa; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi orang-orang. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi hutan.’
2) dengan tidak memperhatikan persepsi orang-orang, tidak memperhatikan persepsi hutan – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi tanah. Pikirannya memasuki persepsi tanah itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi orang-orang; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi hutan. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi tanah.’
3) dengan tidak memperhatikan persepsi hutan, tidak memperhatikan persepsi tanah – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi landasan ruang tanpa batas. Pikirannya memasuki persepsi landasan ruang tanpa batas itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi hutan; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi tanah. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi landasan ruang tanpa batas.’
4) dengan tidak memperhatikan persepsi tanah, tidak memperhatikan persepsi landasan ruang tanpa batas – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi landasan kesadaran tanpa batas. Pikirannya memasuki persepsi landasan kesadaran tanpa batas itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi tanah; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan ruang tanpa batas. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi landasan kesadaran tanpa batas.’
5) dengan tidak memperhatikan persepsi landasan ruang tanpa batas, tidak memperhatikan persepsi landasan kesadaran tanpa batas – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi landasan kekosongan. Pikirannya memasuki persepsi landasan kekosongan itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan ruang tanpa batas; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan kesadaran tanpa batas. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi landasan kekosongan.’
6) dengan tidak memperhatikan persepsi landasan kesadaran tanpa batas, tidak memperhatikan persepsi landasan kekosongan – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Pikirannya memasuki persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan kesadaran tanpa batas; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan kekosongan. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, ketergantungan tunggal pada persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.’
7) dengan tidak memperhatikan persepsi landasan kekosongan, tidak memperhatikan persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi – seorang bhikkhu memperhatikan ketergantungan tunggal pada konsentrasi pikiran tanpa gambaran. Pikirannya memasuki konsentrasi pikiran tanpa gambaran itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan kesungguhan. Ia memahami: ‘Bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan kekosongan; bidang persepsi ini adalah kosong dari persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Hanya ada ketidak-kosongan ini, yaitu, yang berhubungan dengan enam landasan yang bergantung pada jasmani dan dikondisikan oleh kehidupan.’
Ia memahami: ‘Konsentrasi pikiran tanpa gambaran ini adalah terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak. Tetapi apapun juga yang terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk pada lenyapnya.’ Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Demikianlah melalui tahapan meditasi kekosongan ini, seorang bhikkhu mencapai pembebasan dari noda-noda kekotoran batin (Nibbana).
Pada tahap no. 3–6 adalah pancapaian meditatif yang disebut landasan tanpa bentuk (arupayatana) atau dikenal sebagai arupajhana. Walaupun jika kita hanya membaca teks sutta MN 121 pencapaian arupajhana di atas dilakukan tanpa melalui pancapaian jhana biasa (rupajhana) terlebih dahulu, sedangkan menurut teks komentar (kitab penjelasan/tafsir) pada tahap no. 2 meditasi dengan memperhatikan persepsi tanah merupakan objek kasina (unsur) tanah yang membawa pada pencapaian (rupa)jhana I s/d IV, kemudian barulah sang meditator bisa melanjutkan ke tahap no. 3.
Pada tahap terakhir, pencapaian konsentrasi tanpa gambaran (animitta-cetosamadhi), istilah “animitta cetosamadhi” tidak ada penjelasan teknisnya secara detail dalam sutta-sutta Nikaya Pali, kecuali dalam MN 43 bahwa kebebasan pikiran tanpa gambaran (animitta cetovimutti) yang dihasilkan dari konsentrasi pikiran tanpa gambaran adalah serupa tetapi tidak sama dengan kebebasan pikiran tanpa batas (appamāṇā cetovimutti), kebebasan pikiran melalui ketiadaan/kekosongan (ākiñcaññā cetovimutti), kebebasan pikiran melalui kekosongan/kehampaan (suññatā cetovimutti). Dalam MN 43 kebebasan pikiran melalui kehampaan/kekosongan didefinisikan sebagai:
“Dan apakah, teman, kebebasan pikiran melalui kehampaan [kekosongan] ? Di sini seorang bhikkhu, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, merenungkan sebagai berikut: ‘Ini hampa [kosong] dari diri atau apa yang menjadi milik diri.’ Ini disebut kebebasan pikiran melalui kehampaan.
Di sini jelas bahwa filosofi kekosongan (kosong dari diri = anatta) dapat dijadikan bahan perenungan atau objek meditasi yang membawa pada pencapaian meditatif yang membawa pada pembebasan/pencerahan. Inilah penembusan kekosongan yang sebenarnya.
Sedangkan teks Samyukta Agama (padanan Samyutta Nikaya/SN dari aliran Sarvastivada) sutra ke-80 (SA 80) menjelaskan konsentrasi pikiran melalui kekosongan dan melalui tanpa tanda/gambaran sbb:
“Seumpamanya seorang bhikkhu duduk di sebuah tempat kosong pada akar sebuah pohon dan dengan baik merenungkan bentuk jasmani sebagai tidak kekal, bersifat menjadi usang dan memudar. Dengan cara yang sama ia menyelidiki perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sebagai tidak kekal, bersifat menjadi usang dan memudar. Dengan menyelidiki kelompok-kelompok unsur kehidupan itu sebagai tidak kekal, bersifat menjadi usang, tidak stabil, dan berubah-ubah, pikirannya menjadi gembira, dimurnikan, dan terbebaskan. Ini disebut [konsentrasi pikiran melalui] kekosongan.
[….]
“Selanjutnya terdapat suatu perhatian dengan benar pada konsentrasi dengan merenungkan ditinggalkannya tanda [gambaran] (nimitta) bentuk, ditinggalkannya tanda [gambaran] suara, bebauan, rasa, sentuhan, dan objek-objek pikiran. Ini disebut [konsentrasi pikiran] ketanpa-tandaan [tanpa gambaran].
Dari kutipan di atas tampak bahwa meditasi kekosongan tidak mesti merenungkan “ini kosong dari diri” atau “ini kosong dari [pencapaian meditatif yang lebih kasar]”, melainkan juga melalui perenungan ketidakkekalan unsur-unsur kehidupan. Sedangkan konsentrasi pikiran tanpa gambaran (animitta cetosamadhi) yang dicapai dalam tahap terakhir dari 7 tahap meditasi kekosongan menurut MN 121 di atas merupakan konsentrasi dari perenungan ditinggalkannya gambaran/tanda (ciri-ciri) objek-objek indria (dari bentuk sampai objek pikiran) [tanpa gambaran ini adalah atribut yang tidak berkondisi (asankhata = Nibbana)]. Dalam konsentrasi ini kontak/tanggapan (phassa) indria dengan objeknya terhenti sementara, mendekati keadaan konsentrasi pencapaian lenyapnya (nirodha-samapatti)/lenyapnya perasaan dan persepsi (saññā-vedayita-nirodha), tetapi tidak ada indikasi dalam teks-teks awal bahwa keduanya adalah sama.
Jadi, dalam Buddhisme awal konsep kekosongan merupakan filosofi (teori) tentang realitas dunia yang tanpa substansi/esensi (bukan diri = anatta), yang seharusnya ditembus (direalisasikan) melalui meditasi untuk mencapai pandangan benar dan pencerahan sempurna.
Walaupun masa Buddhisme awal telah mengenal konsep kekosongan seperti yang dijelaskan di atas, namun istilah “kosong” (suñña) ini sangat jarang dipakai dalam pengajaran Sang Buddha karena beliau lebih sering menggunakan istilah “bukan diri” (anatta). Hal ini tampak dalam sekian banyak kotbah Sang Buddha yang tercatat dalam Nikaya dan Agama hanya sangat sedikit kotbah yang membahas tentang kekosongan. Konsep kekosongan yang terkenal dalam agama Buddha saat ini justru berasal dari aliran Mahayana. Di sini kita akan membahas mulai dari latar belakang historis kemunculan konsep kekosongan Mahayana ini.
Secara historis, munculnya filosofi Sunyata dalam Mahayana merupakan reaksi terhadap konsep Svabhava dari Abhidharma aliran Sarvastivada. Abhidharma/Abhidhamma merupakan ajaran filosofi, psikologi, dan etika Buddhis berdasarkan pengelompokan skematik yang dikembangkan dari kotbah-kotbah Sang Buddha. Cikal-bakal Abhidhamma berasal dari pengelompokan item-item ajaran Buddha yang disebut matika (matriks), yang dikumpulkan para siswa Sang Buddha, misalnya ajaran Bhikkhu Sariputta dalam DN 33 dan DN 34. Walaupun secara tradisi Theravada diyakini Abhidhamma berasal dari pengajaran Sang Buddha ketika menjalankan vassa (pengasingan diri selama musim hujan) di surga Tavatimsa yang kemudian disampaikan kepada Bhikkhu Sariputta dan 500 orang muridnya di dunia, para ahli sejarah menganggap Abhidhamma berasal dari masa yang belakangan sesaat setelah perpecahan aliran-aliran Buddhis (sekitar 300 tahun setelah wafatnya Sang Buddha). Dalam tradisi Sarvastivada dikatakan bahwa Abhidharma berasal dari para siswa langsung Sang Buddha seperti Sariputra (Sariputta), Maudgalyayana (Moggallana), Mahakatyayana (Mahakaccayana), dst. dan diotorisasi langsung oleh Sang Buddha sendiri sehingga dianggap sebagai Buddhavacana (ucapan Sang Buddha).
Secara umum, masing-masing aliran Buddhis awal mengembangkan versi Abhidharma masing-masing sebagai penafsiran terhadap ajaran Buddha dalam teks-teks awal (Nikaya dan Agama) yang berbeda satu sama lainnya. Namun terdapat juga aliran-aliran yang menolak Abhidharma sebagai Buddhavacana, misalnya aliran Mahasanghika (tetapi beberapa subalirannya ada juga yang memiliki Abhidharma sendiri) dan aliran Sautrantika (pengikut sutra/kotbah) yang merupakan subaliran Sarvastivada yang menolak Abhidharma Sarvastivada yang dikembangkan aliran Vaibhasika (pengikut vibhasa/ulasan) atau dikenal juga sebagai Abhidharmika (pengikut Abhidharma). Perdebatan antar aliran Buddhis pada masa perpecahan dipicu oleh penafsiran yang berbeda dalam hal Abhidharma ini. Pada awal abad Masehi aliran Sarvastivada Vaibhasika yang menyebar di daerah Mathura dan Kashmir sampai Afganistan saat ini adalah yang paling terkemuka dalam mengembangkan ajaran Abhidharma di seluruh India. Terdapat 7 kitab Abhidharma Sarvastivada dari aliran ini yang masih bertahan sampai saat ini dalam terjemahan bahasa Cina dan Tibet, di samping 7 kitab Abhidhamma Theravada dalam bahasa Pali.
Dalam Abhidharma/Abhidhamma dikatakan bahwa unsur utama yang membentuk segala sesuatu di dunia ini adalah dharma/dhamma (yang sering diterjemahkan sebagai “fenomena”, “faktor”, “karakteristik psikis”, “kejadian psiko-fisik”, dst. dengan huruf d kecil untuk membedakannya dari Dharma yang berarti “doktrin, ajaran, atau kebenaran”). Realitas yang kita jumpai sehari-hari merupakan konstruksi konseptual (pannati/prajnapti) yang terbentuk ketika pikiran yang belum tercerahkan terhubung dengan dharma-dharma yang saling berinteraksi; hanya mereka yang telah mengembangkan pandangan benar secara meditatif (yang disebut pandangan terang/vipassana) yang dapat melihat realitas sebagaimana adanya sebagai interaksi antara berbagai dharma. Misalnya seseorang yang belum tercerahkan dan tidak berlatih Dhamma melihat adanya orang atau makhluk dalam kontruksi konseptual yang disebut diri/jiwa (atta/atman) atau personalitas (sakkaya/satkaya), tetapi seseorang yang mengembangkan vipassana dan yang telah tercerahkan (Buddha dan para siswa yang telah mencapai kesucian/ariya puggala) melihat orang/makhluk sebagaimana adanya sebagai interaksi dhamma-dhamma yang disebut namarupa, yang menurut Abhidhamma tersusun dari fenomena-fenomena (dhamma): bentuk jasmani (rupa), kesadaran (vinnana/citta), dan faktor-faktor mental yang menyertai kesadaran (cetasika).
Berdasarkan Abhidhamma, dhamma memiliki karakteristik sendiri atau sifat intrinstik (sabhava/svabhava) yang membedakan secara unik satu dhamma dari yang lainnya. Istilah “sabhava” (Pali) atau “svabhava” (Sanskrit) tidak ditemukan dalam teks Nikaya dan Agama dari Buddhisme awal, tetapi didefinisikan dalam teks-teks Abhidhamma/Abhidharma dan komentar/penjelasan/tafsir dari berbagai aliran yang muncul kemudian. Misalnya, dalam Abhidharma Sarvastivada dikatakan rupa (bentuk jasmani) merupakan dharma karena ia memiliki karakteristik khusus (svalaksana = svabhava) seperti resistensi (sapratighatva) dan visibilitas (sanidarśanatva) yang selalu dipertahankan (selalu ada/tidak berubah); vedana (perasaan) disebut dharma karena ia memiliki karakteristik khusus mengalami/merasakan (anubhava), dst.
Ajaran utama aliran Sarvastivada adalah doktrin “semuanya ada” (sarvam asti) yang menyatakan semua fenomena (dharma) ada/eksis dalam tiga periode waktu (masa lampau, masa sekarang, dan masa depan). Oleh sebab itu, menurut Abhidharma Sarvastivada, sifat intrinsik (svabhava) suatu fenomena tidak berubah selama tiga periode waktu. Walaupun seperti aliran Buddhis lainnya, Sarvastivada menyatakan bahwa semua fenomena berkondisi (samkrta-dharma = samskara) adalah tidak kekal, namun sifat intrinsik semua fenomena tidak dipengaruhi oleh waktu dan merupakan entitas yang nyata (dravya). Hal ini diibaratkan seperti emas yang berubah bentuk menjadi perhiasan, mangkuk, dst, entitas/sifat intrinsik emas tersebut tidak berubah walaupun mengalami perubahan bentuk. Konsep svabhava inilah yang ditentang banyak aliran lainnya karena seakan-akan menyatakan adanya suatu inti/esensi atau substansi yang kekal dalam fenomena sehingga bertentangan ajaran bukan diri (anatta/anatman).
Para penentang doktrin Sarvastivada mulai dari aliran Vibhajjavada/Vibhajyavada (ajaran analisis) yang merupakan cikal bakal aliran Theravada saat ini. Mereka menolak doktrin “semua ada” dan menyatakan hanya fenomena masa sekarang dan masa lampau yang belum memberikan akibatnya yang ada/eksis, bukan fenomena masa lampau yang telah memberikan akibatnya dan fenomena masa depan. Kemudian dari golongan Sarvastivada sendiri ada yang menolak otoritas Abhidharma Sarvastivada dan hanya mengakui ajaran-ajaran yang terdapat dalam sutra/sutta, yaitu aliran Sautrantika atau Darstantika, yang menolak konsep svabhava yang eksis dalam tiga periode waktu dan menyatakan fenomena (dharma) hanya muncul, bertahan sebentar, dan lenyap untuk kemudian muncul, bertahan sebentar, dan lenyap lagi pada momen saat ini (ksanikavada/khanikavada = doktrin tentang “momen”/doctrine of momentariness).
Filosofi Mahayana berkembang dengan munculnya kumpulan teks sutra Mahayana awal berjudul Prajnaparamita Sutra yang menitikberatkan pada praktik kebijaksanan sempurna Bodhisattva (prajna paramita). Ada pun kebijaksanaan sempurna ini berasal dari pemahaman kekosongan semua fenomena bahwa sifat intrinsik semua fenomena adalah kosong (sunyata svabhava) sehingga fenomena (dharma) [yang dianggap sebagai entitas nyata oleh Sarvastivada] hanyalah konstruksi konseptual. Oleh sebab itu, dalam Prajnaparamita Hrdaya Sutra atau dikenal sebagai Sutra Hati (Heart Sutra) yang populer dalam Mahayana saat ini dikatakan:
Bentuk jasmani (rupa) adalah kekosongan (sunyata), kekosongan adalah bentuk jasmani.
Kekosongan tidak berbeda dari bentuk jasmani, bentuk jasmani tidak berbeda dari kekosongan.
Apa pun bentuk jasmani adalah kekosongan, apa pun kekosongan adalah bentuk jasmani.
Demikian juga halnya untuk perasaan (vedana), persepsi (samjna), bentukan pikiran (samskara), dan kesadaran (vijnana).
Dengan demikian, filosofi kekosongan dalam Mahayana secara umum merupakan reaksi terhadap perkembangan Abhidharma dari aliran-aliran Buddhisme India dan secara khusus membantah konsep svabhava dari aliran Sarvastivada. [Perlu diperhatikan di sini bahwa aliran Theravada tidak pernah dirujuk secara khusus sebagai rival Mahayanis saat itu karena Theravada berkembang di Sri Lanka sehingga istilah Hinayana sebagai lawan dari Mahayana hanya ditujukan kepada aliran-aliran Buddhisme awal di India seperti Sarvastivada, Sautrantika, Mahasanghika, dst.]
Pada abad kedua Masehi pemikir Mahayana bernama Nagarjuga mengembangkan lebih lanjut konsep kekosongan ini dengan mencetuskan filosofi Madhyamika/Madhyamaka (pengikut jalan tengah) atau Sunyatavada (doktrin kekosongan). Dalam karyanya berjudul Mulamadhyamakakarika, Nagarjuna menulis:
Apa pun yang muncul bergantungan,
Itulah yang disebut kekosongan.
Hal itu, yang adalah penyebutan bergantungan,
Ia sendiri adalah jalan tengah.
Sesuatu yang tidak muncul bergantungan,
Hal demikian tidaklah ada.
Oleh sebab itu hal yang tidak kosong
Adalah tidak ada.
Di sini Nagarjuna menyamakan kekosongan (sunyata) dengan kemunculan kebergantungan (pratityasamutpada/paticcasamuppada) yang merupakan konsep sebab akibat dalam ajaran Buddha tentang muncul dan lenyapnya fenomena jasmani dan batin yang saling bergantungan. Kemunculan bergantungan atau kekosongan ini juga merupakan jalan tengah dari pandangan substansialis/eternalis (sassatavada) dan nihilisme (ucchedavada). Dengan demikian, segala sesuatu kosong karena semua fenomena saling bergantungan, tidak dapat berdiri sendiri, dan tidak dapat terlepas dari yang lainnya. Sesuatu yang independen, berdiri sendiri, dan terpisah dari fenomena apa pun adalah sesuatu yang tidak ada.
Sebenarnya konsep kemunculan bergantungan sebagai kekosongan dan jalan tengah bukanlah inovasi baru Nagarjuna, melainkan telah ada dalam teks Samyukta Agama dari aliran Sarvastivada, yaitu SA 297 (paralel dari SN 12.35) dan SA 335 (tiada paralel Pali), di mana Sang Buddha mengatakan makna kekosongan sebagai kemunculan bergantungan yang dirumuskan sebagai berikut:
… ketika ini ada, itu ada; dengan munculnya ini, itu muncul.
Yaitu, dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, bentukan muncul; dengan bentukan sebagai kondisi, kesadaran muncul; dengan kesadaran sebagai kondisi, nama-dan-bentuk muncul; dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi, enam landasan indera muncul; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, kontak muncul; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan muncul; dengan perasaan sebagai kondisi, ketagihan muncul; dengan ketagihan sebagai kondisi, kemelekatan muncul; dengan kemelekatan sebagai kondisi, penjelmaan muncul; dengan penjelmaan sebagai kondisi, kelahiran muncul; dengan kelahiran sebagai kondisi, penuaan dan kematian, dukacita, ratap tangis, kesakitan, kesedihan dan keputusasaan muncul. Demikianlah munculnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.
Dan lawan dari kemunculan bergantungan ini (disebut kelenyapan bergantungan) adalah kebalikannya, yaitu ketika tiada ini, maka tiada itu; dengan lenyapnya ini, maka lenyaplah itu: dengan lenyapnya ketidaktahuan, maka bentukan lenyap; … dengan lenyapnya kelahiran, maka penuaan dan kematian, dukacita, ratap tangis, kesakitan, kesedihan dan keputusasaan lenyap).
Konsep kemunculan bergantungan sebagai jalan tengah terhadap pandangan dualitas (eternalisme dan nihilisme) juga terdapat dalam SN 12.15 di mana Sang Buddha berkata:
“‘Semua ada’ (sabbam atthī) : Kaccāna, ini adalah satu ekstrim. ‘Semua tidak ada (sabbaṁ natthī)’: ini adalah ekstrim ke dua. Tanpa berbelok ke arah salah satu dari ekstrim-ekstrim ini, Sang Tathāgata mengajarkan Dhamma di tengah: ‘Dengan ketidak-tahuan sebagai kondisi, bentukan-bentukan kehendak [muncul]; dengan bentukan-bentukan kehendak sebagai kondisi, kesadaran … Demikianlah asal-mula dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini. Tetapi dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidaktahuan, maka lenyap pula bentukan-bentukan kehendak; dengan lenyapnya bentukan-bentukan kehendak, maka lenyap pula kesadaran … Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.”
Dalam Buddhisme awal kutipan ini menyatakan bahwa Sang Buddha menghindari pandangan eternalisme (“semua ada”) dari Brahmanisme saat itu (yaitu doktrin atman dan Brahman) dan pandangan nihilisme (“semua tidak ada”) dari aliran-aliran Sramana yang menyatakan setelah kematian semuanya lenyap (seperti yang diajarkan oleh Ajita Kesambali). Namun Nagarjuna mengutip sutta ini (dalam paralelnya berbahasa Sanskrit) untuk membantah pandangan substansialisme/esensialisme atau eksistensialisme (“semua ada”) dari doktrin svabhava dalam Sarvastivada di atas dan aliran Buddhis lainnya seperti Pudgalavada yang menyatakan adanya diri (pudgala) yang bukan sama dan bukan tidak sama dengan lima skandha serta pandangan non-eksistensialisme (“semua tidak ada”) [abhava = tiada sesuatu apa pun sama sekali]. Demikianlah Nagarjuna memperluas ajaran kemunculan bergantungan dari Sang Buddha yang awalnya untuk menyanggah pandangan diri (atman & Brahman) dan lawan/antitesisnya menjadi sanggahan terhadap pandangan eksistensialisme dan antitesisnya
Menurut Mahayana, konsep kekosongan dalam Buddhisme awal yang tak lain sama dengan konsep bukan diri/anatta (yang dibahas pada bagian pertama di atas) disebut pudgala-nairatmya (ketiadaan esensi atau kekosongan dalam diri/personalitas) dan konsep kekosongan dalam Mahayana yang sama sekali menolak eksistensi dalam fenomena (dharma) apa pun disebut dharma-nairatmya (ketiadan esensi atau kekosongan dalam fenomena). Dalam Mahayana, keduanya mutlak diperlukan untuk mencapai pencerahan sempurna yang tiada bandingnya sebagai seorang Buddha yang sempurna (Samma/Samyak Sambuddha) karena jika hanya memahami yang pertama saja tanpa pemahaman mendalam atas yang kedua, maka seseorang hanya dapat mencapai pencerahan sebagai seorang Arahant yang lebih terbatas pengetahuan dan kemampuan spiritualnya dibandingkan dengan seorang Buddha.
Dengan demikian, untuk memahami konsep kekosongan dalam Buddhisme diperlukan pemahaman secara komprehensif dari konsep awalnya, konsep Abhidharma yang melahirkannya, sampai konsep kekosongan tertinggi dalam Mahayana